Pages

Monday, June 17, 2013

Bukittinggi Koto Rang Agam

Well, setelah ganti baju dan menunaikan ibadah shoat Dhuhur, saya dan rombongan pun bergegas menuju ke Bukittinggi. Kami membawa dua mobil yang masing-masing mobil berisi lima orang. Kami pun membeli cemilan dan air mineral untuk bekal kami selama diperjalanan karena untuk mencapai Bukittinggi, dibutuhkan waktu kurang lebih 4-5 jam. Walaupun menempuh medan yang lumayan sulit-jalan berkelak-kelok dan hujan-tapi kami tetap menikmati perjalanan karena kami juga disuguhi pemandangan yang indah. Di tengah perjalanan, kami melihat Air Terjun Lembah Anai yang terletak di tepi Jalan Raya Padang-Bukittinggi yang kami lalui. Jadi setiap pengendara tidak harus berhenti untuk melihat langsung air terjun yang tingginya kurang lebih 60 meter. Namun, jika ingin rehat sejenak untuk melepas lelah juga bisa. Pengelola menyediakan lahan parkir, beberapa toko dan warung didekat lokasi air terjun. Karena letaknya yang sangat dekat dengan jalan, maka kadang terjadi kemacetan jika banyak pengendara yang berhenti dan berkunjung ke obek wisata tersebut. Kami pun memutuskan untuk hanya sekedar lewat dan menikmati ciptaan Alloh SWT tersebut dari dalam mobil. Kami merencanakan untuk mampir dan berfoto di air terjun ini saat perjalanan pulang ke Padang.

Sesampainya kami di Padang Pariaman, kami mampir untuk mengisi perut di warung sate padang yang sangat terkenal yaitu Sate Padang Mak Syukur. Sebenarnya perut masih agak kenyang karena makan siang di reseprinya Uda. Tapi mumpung disini, kami pun mencicipi sate padang ini. Setelah memesan, kami pun mencari tempat duduk. Suasana warung memang sangat ramai karena banyak pengunjung yang datang. Akhirnya kami pun memilih tempat duduk di lantai 2. Tak berapa lama, pesanan kami datang. Kami pun langsung menyantap hidangan di depan kami. Setelah selesai makan, saya pun menyadari kenapa warung ini begitu terkenal dan ramai. Rasa yang ditawarkan sate padang Mak Syukur memang benar-benar enak. Bahkan lebih enak dari yang saya makan sebelumnya. Saya tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa enaknya sate ini, tapi saya berkesimpulan bahwa makanan tradisional apapun memang jauh lebih enak kalau dibeli dan dimakan ditempat makanan tersebut berasal.

Setelah kenyang melahap sate padang Mak Syukur, kami melanjutkan perkalanan menuju Bukittinggi. Hujan pun semakin deras turun. Sekitar pukul 17.00 WIB kami sampai di Kota Bukittinggi. Kotanya cukup kecil tapi ramai. Suasananya sangat sejuk dikarenakan letaknya yang di atas bukit-bukit. Mungkin itulah kenapa kota ini disebut dengan Bukittinggi yaitu kota di atas bukit yang tingi  (ini analisis saya.hehe). Kami berbegas mencari hotel untuk menginap selama satu malam. Akhirnya kami dapat dua kamar di Hotel Royal Denai. Saya, Devi, Nadya, dan Meta menempati satu kamar dan kamar yang satunya ditempati oleh Rio, Indra, Mery, dan Mamet. Kami pun bergegas untuk mandi dan istirahat sejenak sebelum memulai menjelajahi Kota Bukittinggi.

Tujuan pertama kami pastinya Jam Gadang yang merupakan icon Kota Bukittinggi. Ternyata lokasi jam tersebut lumayan dekat dengan hotel kami. Tidak sampe setengah jam, kami pun sampai di lokasi. Setelah memarkir mobil, kami berjalan menuju bangunan tinggi megah gaya kolonial Belanda dengan 4 jam di puncak bangunan ini. Yup, here it was Jam Gadang. Suasana malam ini tampak ramai oleh pengunjung. Mungkin karena bertepatan dengan malam Minggu jadi banyak warga sekitar yang menghabiskan malam minggunya di sini bersama orang terkasih dan keluarganya. Kami pun langsung mencari spot yang pas untuk berfoto. Setelah puas berfoto di salah satu sisi Jam Gadang, kami berjalan-jalan untuk melihat sisi yang lainnya. Sebenarnya, pengunjung diperbolehkan untuk memasuki bangunan ini dan naik ke atas. Tapi berhubung antrian di loket sangat ramai, maka kami mengurungkan niat untuk masuk dan naik ke atas bangunan. Disekitar lokasi banyak dipenuhi oleh pedagang-pedangan diantaranya pedagang makanan, suvenir dan kaos-kaos bertuliskan Bukittinggi. Naluri untuk belanja sebenarnya sudah mulai memuncak, tapi harus ditekan dulu karena besok masih ada sesi khusus untuk berbelanja di Pasar Bukittinggi.

Setelah puas berkeliling, berfoto dan bahkan membaca sejarah mengenai Jam Gadang, kami akhirnya memutuskan untuk mencari sesuatu yang mengenyangkan. Kami bergegas menuju ke tempat dimana mobil kami diparkir. Namun sebelumnya, kami berfoto dulu di depan Istana Bung Hatta Bukittinggi yang terletak di dekat lokasi Jam Gadang ini. Acara selanjutnya adalah mencari makan karena perut kami sudah mulai memanggil-manggil untuk diisi. Kami pun makan di warung tenda dengan menu mie rebus dan nasi goreng.
Saya malah memilih untuk membeli martabak telor mesir karena tidak ada menu yang sesuai dengan selera saya. Selesai makan, kami kembali ke hotel dan istirahat karena besok masih ada jadwal belanja dan harus kembali ke Padang untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta



-Gayuh-
30032013

Monday, May 20, 2013

Salamaik Manampuah Hiduik Baru...

Sabtu pagi tanggal 30 Maret 2013, kami bersiap-siap untuk menghadiri resepsi pernikahan Uda Adit dan Uni Ira di kediaman Uda Adit. Sekitar pukul 10.00 WIB, kami berdelapan sampai di rumah Uda. Kami langsung ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada pengantin dan berfoto bersama. Di sini kami juga bertemu rombongan lain dari kantor kami.

Ini merupakan pengalaman pertama saya datang di resepsi dengan adat Minang. Pastinya terdapat banyak perbedaan antara pernikahan adat Minang dengan adat Jawa. Pertama dari baju pengantin, adat Minang lebih didominasi oleh warna merah dan emas. Tidak hanya baju pengantinnya saja, tapi hampir seluruh dekorasi di pelaminan didominasi oleh warna merah dan emas. Tempat pelaminannya pun unik menurut saya. Jadi pelaminannya berada di dalam rumah, mungkin di ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruangan berwarna merah dan emas ditambah dengan aksesoris khas Minang. Kedua mempelai tidak di temani oleh kedua orang tua di samping kanan dan kiri. Orang tua mereka berada di luar menyambut tamu-tamu yang baru datang. Berdasarkan cerita dari Uda, adat Minang di resepsi kali ini kurang terlihat karena resepsi ini berada di rumah mempelai laki-laki. Seharusnya kami harus datang pada saat resepsi di tempat mempelai wanita jika ingin melihat pernikahan dengan adat Minang. 

Setelah puas berfoto-foto, kami pun menikmati hidangan yang sudah disediakan. Karena ini pernikahan orang Padang, maka tak heran jika menu yang disajikan pun hampir seperti di warung padang. Ada rendang, sate padang, dan beberapa makanan khas lainnya yang saya tidak ingat namanya. Walaupun menu hidangannya seperti di warung makan padang, namun rasa makanan tersebut pastinya berbeda dengan makanan warung padang yang ada di Jawa. Saya yang tidak terlalu menyukai makanan padang, baru pertama kali ini merasakan makanan padang itu enak. Saat saya makan sate padang di Jakarta, saya pun tidak menyukai makanan ini. Namun, tiba-tiba saya suka dengan sate padang. Rasanya benar-benar beda dengan sate padang yang ada di Jakarta. Mungkin karena saya makan di tempat dimana makanan-makanan tersebut berasal, jadi rasa makanan padangnya pun original dan lebih enak. Sama seperti saya makan mendoan di Jakarta dan di Purwokerto. Pastinya mendoan di Purwokerto-lah yang lebih enak karena ada di daerah asalnya. 

Setelah kenyang menyantap hidangan yang disediakan, kami pun pamit karena akan melanjutkan perjalanan kami ke Bukittinggi. Kami mengantar Pak Dino ke hotel dan sekaligus berganti baju dan menunaikan sholat dhuhur di sana. Oke then, Bukittinggi, we were comiiingggggggggggg..........



-to be continued-

Gayuh
30032013


Wednesday, May 15, 2013

Salamaik Datang di Kota Bengkuang....

Tanggal 29-31 Maret 2013 adalah long weekend pertama saya yang tidak saya gunakan untuk pulang kampung. Saya dan beberapa teman kantor saya secara khusus merencanakan pergi ke Kota Padang untuk menghadiri resepsi pernikahan Uda Adit dan Uni Ira. Ada sekitar 8 orang yang ikut ke Padang tapi dengan jadwal keberangkatan yang berbeda-beda. Tiga orang berangkat lebih awal pada hari Kamis malam tanggal 28 Maret 2013. Tiga orang selanjutnya termasuk saya berangkat pada Jumat pagi tanggl 29 Maret 2013 dan dua orang lagi berangkat pada Jumat sorenya. Kami bertujuh menginap di Hotel Aliga sedangkan senior kami, Pak Dino, menginap di Hotel Mercure. 

Acara resepsi Uda diadakan pada hari Sabtu siang tanggal 30 Maret 2013. Namun, Jumat malam kami berdelapan pergi ke rumah Uda untuk berkunjung dan bersilaturahmi. Setibanya di rumah Uda, kami disambut dengan pertunjukkan musik organ tunggal. Setelah beramah tamah dengan istri, orang tua dan saudara-saudara Uda, kami pun diajak untuk ikut permainan Pantun dan Lagu. Awalnya kami belum paham tentang mekanisme permainannya. Jadi kami diberi kertas lima lembar dengan warna yang berbeda. Masing-masing kertas terdapat kotak-kotak yang telah diisi dengan angka yang tersusun secara acak. Kemudian, yang harus kami lakukan adalah mendengarkan orang menyanyi. Penyanyi tersebut akan mengambil angka secara acak di dalam sebuah gelas besar. Saat penyanyi tersebut sudah mendapatkan satu angka, kemudian dia akan membuat lagu yang sedang dinyanyikan tersebut menjadi sebuah pantun yang pada akhir pantun akan menyebutkan angka yang terambil tadi. Kami harus mendengarkan secara seksama angka berapa yang disebutkan karena penyanyi tersebut memakai bahasa minang. Setelah mendengar angka berapa yang disebutkan, kami harus memberi tanda silang apabila angka yang disebutkan tadi ada di kertas kami. Soalnya komposisi angka di kertas kami berbeda satu sama lain. Jika dalam satu kertas tersebut bisa memberi silang pada lima angka dan membentuk garis horizontal, maka orang tersebut langsung tunjuk tangan dan langsung menuntukkan kertas tersebut ke penyanyi untuk dicek. Kalau benar, maka orang tersebut berhak memilih hadiah yang telah disediakan. Berikut kertas yang digunakan dalam permainan ini:

Dipanggung ada layar untuk memonitor angka-angka
Jika ada satu orang yang berhasil membentuk garis horizontal dari angka yang disilang tadi, maka permainan dilanjutkan kembali sampai ada yang berhasil membentuk garis horizontal tersebut sampai tiga baris berturut-turut. Kemudian kami lanjutkan ke kertas dengan warna selajutnya. 



Sayang sekali, rombongan dari Jakarta tidak ada yang mendapatkan hadiah satupun dari permainan ini. But, it doesn't matter. The game was so interesting for me. Kami pun kembali ke hotel sekitar pukul 01.00 WIB dan langsung istirahat agar besok bisa kembali fresh pada saat datang ke resepsi pernikahan Uda.




-Gayuh-
290313

Saturday, April 6, 2013

Ternate Bahari Berkesan #3

Masih ingatkah pelajaran sejarah SD/SMP yang bercerita mengenai kerajaan islam di Indonesia? Diantara kerajaan-kerajaan islam yang berjaya pada saat itu, pasti masih teringat tentang Kesultanan Ternate dan Tidore yang juga pernah mencapai masa kejayaannya. Dan kali ini, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Pulau Tidore untuk melaksanakan tugas sekaligus bisa mengunjungi beberapa situs sejarah setelah selesai melaksanakan pekerjaan saya.


Kunjungan sehari ke Pulau Tidore ini dalam rangka pengecekan beberapa aset fisik. Setelah selesai melaksanakan tugas, saya bersama ketua tim dan teman saya di ajak untuk berkeliling sejenak di pulau ini. Pulau yang bersebelahan dengan Pulau Ternate ini memiliki kondisi topografi yang mirip dengan Pulau Ternate. Keduanya memiliki gunung berapi yang masih aktif di tengah pulau. Pulau Ternate dengan Gunung Gamalama yang tingginya mencapai 1.715 mdpl dan Pulau Tidore dengan Gunung Kie Marubu yang tingginya mencapai 1730 mdpl. Suasana di Tidore lebih sepi dibandingkan dengan suasana di Ternate. Cocok untuk orang yang ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk dan kemacetan kota.


Karena Tidore mempunyai sejarah tentang jaman kerajaan, maka objek pertama yang kami kunjungi adalah Kesultanan Tidore. Kondisi bangunan masih kokoh berdiri dengan gaya melayu yang khas melekat pada bangunan istana tersebut. Berbeda sekali dengan bangunan istana di Keraton Yogyakarta. Namun sayang seribu sayang, istana Kesultanan Tidore ini tidak di lestarikan sebagai cagar budaya. Kabarnya, istana ini sudah tidak dihuni oleh keturunan Sultan Tidore karena mereka sudah bekerja di pulau lain. Kami pun hanya berfoto di depan Istana Tidore dan tidak bisa memasuki istana tersebut. Sumber lain mengatakan bahwa kami bisa memasuki istana dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada penjaga istana. Sehingga, penjaga istana dapat menemani pengunjung yang ingin memasuki istana. Karena kami tidak ada rencana mengunjungi istana ini, kami pun rela tidak bisa masuk dan melihat peninggalan sejarah kejayaan Kesultanan Tidore secara langsung.





Tujuan kami selanjutnya ke benteng peninggalan Portugis. Lokasi benteng ada di sebelah istana Kesultanan Tidore. Untuk sampai di benteng, kami harus mendaki berpuluh-puluh anak tangga. Namun, sebelum sampai tepat di benteng tersebut, kami sudah harus turun. Rombongan yang berada jauh di depan mengatakan bahwa anak tangga yang kami daki buntu. Tidak ada tangga terusan untuk sampai ke benteng. Kami pun hanya melihat benteng tersebut dari anak tangga tempat kami berdiri. Agak kecewa memang saat kami harus turun kembali tanpa bisa sampe ke benteng tersebut. Namun, kekecewaan kami bisa terhapuskan dengan melihat pemandangan laut yang indah dari ketinggian tempat kami berdiri. Ucapan subhanalloh pun terus terucap melihat pemandangan yang indah ini. Terima kasih ya Alloh....



 Wisata budaya dan wisata alam sudah, kini tinggal wisata kuliner. Kata orang Tidore, "belum afdol kalau belum mencoba durian Tidore". Perut kami pun langsung berbunyi tak sabar mencoba durian Tidore yang katanya lebih enak daripada durian Ternate. Tapi, sebelum menyantap durian, perut kami harus diisi terlebih dahulu. Kami pun diajak ke warung makan makanan khas Tidore yang pernah dikunjungi oleh Pak Bondan 'Maknyuss". Menu yang disajikan banyak sekali. Hampir semuanya makanan khas Tidore. Ada papeda yang terbuat dari sagu dan singkong yang bentuknya seperti lem dan ada ikan kuah kuning untuk menemani makan papeda. Kemudian ada gohu yang terbuat dari ikan cakalang mentah dicampur dengan bumbu-bumbu rempah. Ada amo yaitu makanan dari sukun yang direbus dengan santan. Ada juga pisang rebus dan ikan bakar. Dari semua makanan yang disajikan, yang paling saya sukai adalah amo. Rasa sukun rebus tersebut benar-benar enak. Kalau di kampung halaman saya, sukun biasanya digoreng untuk dijadikan keripik sukun. Rasa amo ini juga beda dengan sukun yang direbus oleh nenek saya. Walaopun lidah saya tidak cocok dengan makanan khas Tidore, tapi saya berhasil mencoba semua makanan yang disajikan.

Seletah selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Pulau Ternate. Di sepanjang perjalanan, durian-durian yang di jual oleh warga Tidore tak henti-hentinya memanggil kami. Sepertinya mereka sudah tak sabar untuk berpindah ke perut kami. Kami pun membeli beberapa buah untuk di makan di pinggir pantai sebelum kembali ke Pulau Tidore. Ditemani angin sepoi-sepoi, suara gemuruh ombak dan landscape Pulau Ternate, kami pun menyantap durian dengan lahapnya. Perpaduan yang sempurna menurut saya. Kapan lagi bisa menyantap durian di pinggir pantai dengan pemandangan yang indah.


Durian-durian yang dibeli sudah tinggal kulitnya saja. Kini, waktunya kami pulang ke hotel di Pulau Ternate. Kami naik speedboat selama kurang lebih 7 menit untuk sampai di Pulau Ternate.  Terima kasih untuk wisata budaya dan kuliner yang luar biasa di Pulau Tidore.


-Gayuh-
05032013

Tuesday, March 26, 2013

Ternate Bahari Berkesan #2

Saya yakin semua orang Indonesia pasti mempunyai uang kertas Rp 1000,00. Apa yang spesial dalam uang tersebut dan kenapa saya membahas uang tersebut dalam tulisan ini? Karena cerita saya kali ini terkait dengan uang kertas bernominal 1000 rupiah tersebut. Pada salah satu sisi uang kertas tersebut terdapat gambar Pulau Maitara dan Tidore. Sebelum sampai di Ternate, saya hampir tidak pernah memperhatikan bahwa pulau-pulau yang terpampang di uang kertas tersebut ternyata berada di Provinsi Maluku Utara.

This view from Florida Restaurant
Pada hari pertama kedatangan saya dan rombongan di Ternate, kami diajak makan siang di Restoran Florida. Dari sinilah kami baru menyadari bahwa gambar pada salah satu sisi uang seribu itu adalah Pulau Maitara dan Tidore yang terlihat dari Ternate. Di restoran ini, kami disuguhkan pemandangan Pulau Maitara dan Tidore dari sudut yang berbeda dari yang terpampang di uang seribu tersebut. Dari balkon restoran, kami bisa memandang gugusan pulau-pulau yang mengelilingi Pulau Ternate dan ditambah dengan hamparan laut yang luas. Kami pun akan diajak untuk melihat Pulau Maitara dan Tidore dengan angle yang sama dengan yang ada di gambar uang seribu.

Setelah hampir dua minggu kami di Ternate, akhirnya kami diajak untuk datang ke lokasi tempat dimana kita bisa mengambil foto Pulau Maitara dan Tidore dengan angle yang sama. Sore itu bersama Mba Dina dan Pak Bakti, kami sampai di tempat tersebut. Dan memang benar, kami bisa melihat Pulau Maitara dan Tidore dengan angle yang sama. Kami pun langsung mengambil uang seribu rupiah kami dan mencari spot untuk mengambil foto agar foto yang kami ambil sama persis seperti gambar dalam uang tersebut. 


 Setelah puas berfoto-foto di pantai ini, kami diajak ke sebuah danau di kaki Gunung Gamalama. Danau tersebut bernama Danau Laguna atau orang-orang biasa menyebutnya Danau Ngade. Mungkin danau ini terlihat biasa saja karena tidak mempunyai warna yang unik seperti Danau Tiga Warna/ Danau Kelimutu di Pulau Flores Povinsi NTT atau Telaga Warna di Dieng Provinsi Jawa Tengah. Tapi, danau ini menawarkan pemandangan yang indah karena kami bisa melihat danau tersebut dari atas berpadu dengan pemandangan laut dan gugusan pulau-pulau di sekitar Pulau Ternate. Danau ini terletak dekat dengan laut, namun air danau ini masih tawar dan tidak terkontaminasi oleh air laut. 

Di pinggir danau terdapat beberapa keramba ikan tempat warga membudidayakan ikan air tawar. Bahkan ada beberapa yang menawarkan pengunjung untuk memancing langsung di danau dan memasak langsung ikan hasil tangkapan tersebut. Namun sayang sekali, kami tidak bisa mampir untuk memancing dan memasak langsung di danau tersebut karena kami sengaja memilih lokasi di atas danau agar bisa melihat keseluruhan danau, laut dan pulau-pulau.

Setelah puas mengambil foto dan melihat-lihat pemandangan, kami pun langsung kembali ke hotel. Thank you My Lord for Your creation. Thank You for giving me a chance to enjoy this view. Indonesia is so lucky for being an archipelago country. I do love you Indonesia. :)



-Gayuh-
01032013

Saturday, March 23, 2013

Ternate Bahari Berkesan #1

Penugasan 25 hari di Ternate merupakan penugasan terlama saya. Bersama satu orang ketua tim dan satu teman yang sesama anggota, kami berangkat menuju Ternate pada hari Rabu, 20 Februari 2013. Karena hanya ada satu jadwal penerbangan yang menggunakan Garuda Indonesia, maka kami pun rela berangkat pada tengah malam. Kami tiba di Ternate pukul 08.30 WIT setelah sebelumnya transit di Makasar selama 30 menit dan berganti pesawat menggunakan Armada CRJ atau saya lebih familiar menyebutnya Bombardir yang masih milik maskapai Garuda Indonesia. Sesampainya di Ternate, sejauh mata memandang hanyalah laut dan gugusan pulau-pulau di sekitar kota ini. Kota yang sebelumnya menjadi ibu kota Provinsi Maluku Utara ini berada di Pulau Ternate yang  memiliki luas hanya 547.736 km² dan berada persis di bawah kaki Gunung Gamalama. Dibutuhkan waktu hanya sekitar 1 jam untuk mengelilingi pulau ini tanpa berhenti.

Kami sangat beruntung karena hotel yang kami tempati menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Di halaman utama hotel yang dibuat lebih tinggi dari jalan, kami bisa langsung melihat laut dan beberapa pulau seperti Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Jika kami menyantap sarapan pagi yang berada di sisi belakang hotel, kami dimanjakan oleh megahnya Gunung Gamalama yang terasa begitu dekat. Subhanalloh, betapa indahnya ciptaan Alloh SWT. Pemandangan yang indah ini bisa kami manfaatkan untuk sejenak merefresh pikiran kalau rasa bosan tiba-tiba menyerang kami.
In front of hotel


Tibalah saatnya kami mengelilingi Pulau Ternate. Weekend pertama kami disini, dengan diantar oleh pak supir yang baik hati dan tambahan 2 orang teman dari Jakarta, kami pun memulai petualangan di Pulau Ternate. Tepat setelah makan siang, kami memulai perjalanan menuju arah utara. Sepanjang perjalanan, kami bisa melihat laut di sebelah kanan dan Gamalama di sebelah kiri. Ditambah dengan pedagang durian yang berderet di beberapa ruas jalan di kota ini yang membuat kami ingin menyantap durian.

Objek wisata yang pertama kali kami kunjungi adalah Batu Angus. Objek yang berada di pinggir laut ini dipenuhi oleh batu-batu karang yang berwarna hitam karena terbakar oleh lahar Gunung Gamalama saat gunung ini meletus. Batu yang hitam ini tampak eksotis berpadu dengan pemandangan laut dan gunung-gunung di seberang laut. Pemandangan yang jarang sekali dijumpai di Jakarta. Kami pun tak lupa mengabadikan pemandangan yang indah ini dengan berfoto-foto. 



Tujuan selanjutnya adalah Danau Tolire. Danau yang berwarna hijau ini berada di kaki Gunung Gamalama. Letak danau ini ada di bawah tempat kami berdiri. Sehingga, kami tidak bisa bermain ke tepian danau. Konon kata orang sekitar, untuk mencapai ke tepian danau harus ditemani oleh juru kunci danau ini karena danau ini masih dipercaya memiliki hal-hal gaib. Orang-orang sekitar danau juga percaya kalau masih terdapat buaya di danau ini. Selain itu, ada mitos kalau kita melempar batu ke danau ini, batu yang kita lempar tidak pernah sampai ke danau. Saya dan rombongan akhirnya mencoba melempar batu ke danau ini. Pada saat kami memperhatikan batu yang kami lempar, memang tidak pernah sampai ke permukaan danau. Entah karena kami kurang keras melemparnya atau mungkin mitos tersebut benar. Lokasi danau yang jauh di bawah juga membuat kami kesulitan untuk melihat apakah batu tersebut sudah sampai ke permukaan danau. Wallohualam. Kami pun bergegas untuk istirahat sejenak di danau ini sambil menikmati kelapa muda. 

Danau Tolire
Setelah melepas lelah dengan beristirahat, kami melanjutkan jalan-jalan kami ke Pantai Sulamadaha. Pantai ini bukan pantai pasir putih dan mempunyai ombak yang cukup besar. Mungkin pantai ini tidak seindah Pantai Sawarna di Banten atau pantai pasir putih lainnya. Tapi, pantai ini memiliki wahana untuk snorkling dan diving. Dengan berjalan lagi melalui sisi sebelah kiri pantai sejauh beberapa meter, terdapat teluk yang menyajikan keindahan bawah laut dan wahana bermain seperti banana boat. Karena kami tidak berbekal baju ganti, maka kami pun tidak mencoba snorkling atau diving. Menikmati keindahan laut dan berfoto-foto sudah cukup membuat kami puas. Sayang sekali, waktu sudah semakin sore dan kami harus segera kembali ke hotel karena belum menunaikan sholat Ashar. Alhamdulillah kami berhasil mengelilingi Pulau Ternate sekaligus menikmati pemandangan alam yang indah ini. Kami sampai dihotel pada pukul 17.30 WIT dan segera menunaikan sholat Ashar. 


Pantai Sulamadaha


Tempat Snorkling, Diving, dan Banana Boat


-Gayuh-
23022013



Tuesday, March 19, 2013

Peningkatan Kapabilitas APIP, IACM sebagai Alat Self Assesment



Sebagai bagian dari Kementerian Pekerjaan Umum yang mempunyai fungsi sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah, Inspektorat Jenderal PU perlu meningkatkan kapabilitas dirinya sendiri guna meningkatkan kualitas pengawasan di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum. Salah satu alat untuk menilai tingkat kapabilitas APIP adalah Model Kapabilitas Pengawasan Intern atau Internal Audit Capability Model (IA-CM). IA-CM adalah suatu kerangka kerja yang mengidentifikasi aspek-aspek fundamental yang dibutuhkan untuk pengawasan intern yang efektif di sektor publik. IA-CM menunjukkan langkah-langkah untuk maju dari tingkat pengawasan intern yang kurang kuat menuju kondisi yang kuat, efektif, kapabilitas pengawasan intern umumnya terkait dengan organisasi yang lebih matang dan kompleks. Berikut matriks IA-CM:



Konsep IA-CM bertujuan untuk membangun internal audit yang efektif di sektor publik dan sebagai road map  bagi perbaikan kapabilitas secara bertahap. Fungsi IA-CM bagi APIP adalah:

  1. Strategi nasional berdasarkan IA-CM : APIP sebgai organisasi profesi
  2. Strategi generik: semua APIP bisa menggunakan IA-CM sebagai alat untuk menilai dirinya sendiri
  3. Strategi spesifik: alat untuk mengembangkan diri sendiri
Sampai saat ini, hanya ada 1 (satu)  Inspektorat Jenderal di lingkungan Pemerintah Pusat yang telah menduduki level 3 yaitu Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan. Sedangkan terdapat sekitar 5,74 % atau sebanyak 19 APIP Pusat dan Daerah yang menduduki level 2       IA-CM.  Untuk level 1, terdapat 93,96% atau sebanyak 311 APIP Pusat dan Daerah. Melihat jumlah ini, masih banyak APIP yang harus meningkatkan kapabilitasnya agar tercapai fungsi internal audit yang efektif dan efisien.


-Gayuh- 18092012