Pages

Tuesday, November 28, 2017

Materi #2 'MELATIH KEMANDIRIAN ANAK'

*Institut Ibu Profesional*
_Materi Bunda Sayang Sesi #2_

*MELATIH KEMANDIRIAN ANAK*

_Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?_

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

_Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?_

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita masih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

_Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?_

☘ *Usia 1-3 tahun*
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

🔑 *Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :*
👨‍👩‍👦‍👦 Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
👨‍👩‍👦‍👦 Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
👨‍👩‍👦‍👦Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
_Aturan berbicara_ :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

_Aturan bermain_:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudah tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘ *Anak usia 3-5 tahun*
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

🔑 *Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :*
👨‍👩‍👦‍👦Hargai keinginan anak-anak
👨‍👩‍👦‍👦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
👨‍👩‍👦‍👦 Terima ketidaksempurnaan
👨‍👩‍👦‍👦 Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
👨‍👩‍👦‍👦 Berbagi peran bersama anak
👨‍👩‍👦‍👦 Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus. Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘ *Anak-anak usia sekolah*
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, maka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

🔑 *Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah*
👨‍👩‍👦‍👦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
👨‍👩‍👦‍👦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
👨‍👩‍👦‍👦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
👨‍👩‍👦‍👦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

📌 *Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:*
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
🔟Berkarya

📌 *3 Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :*
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

_*Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?*_

📌 *Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak*
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

_Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak. Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita_

Salam,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_:
_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014_
_Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara_
_Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi_

Friday, November 24, 2017

Aliran Rasa Games Level 1 "Komunikasi Produktif"

Games level 1 kelas Bunda Sayang benar benar membuat saya semangat dan berbinar-binar sekaligus bingung apa yang harus dilakukan dalam games tersebut. Komunikasi produktif menjadi materi pertama di kelas Bunda Sayang. Tak dapat dipungkiri bahwa komunikasi menjadi hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam berkomunikasi dengan suami atau anak-anak.

Selisih paham sering kali muncul bukan karena
isi percakapan melainkan dari cara
penyampaiannya. Maka di tahap awal ini
penting bagi kita untuk belajar cara
berkomunikasi yang produktif, agar tidak
mengganggu hal penting yang ingin kita
sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada
pasangan hidup kita dan anak-anak kita (Materi Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang).

Walaupun dari awal sempet bingung, ragu-ragu  khawatir ga bisa ngikutin tantangan games level 1nya, tapi berkat niat dari diri sendiri, dukungan dari ayah, dan motivasi dari mumu @ysichichan , alhamdulillah dari hari ke hari jadi lebih serius mengamati keseharian Emir, memikirkan hari ini mau praktek poin apa, atau kejadian ini bisa pakai poin yang mana dan yang pasti bisa memperbaiki cara komunikasi produktif bersama Emir. Hal yang pasti adalah saya menjadi lebih aware dalam mengamati Emir berkegiatan. Selain itu, saya berusaha untuk benar-benar menahan emosi saya ketika Emir berbuat hal-hal yang salah. Saya pun tidak ingin komunikasi yang buruk antara saya dan Emir akan berdampak negatif pada Emir kedepannya.

Sebenarnya tantangan di kelas bunsay ini bukan hanya tentang praktek. Tapi ada hal yang lebih sulit yaitu menuliskan hasil praktek tersebut ke dalam tulisan yang setiap harinya harus di submit. Dari 17 hari yang diberikan, setiap peserta wajib mempraktekan dan menuangkan dalam tulisan sedikitnya 10 hari untuk mendapatkan badge dasar kelulusan. Jika bisa konsisten praktek, nulis dan submit dalam 10 hari berturut-turut, maka akan mendapatkan badge "you're exlecent". Jika konsisten sampai 15 hari, maka akan mendapatkan badge "outstanding performance".

Sejujurnya, saat awal mulai, badge 10 dan 15 hari berturut-turut menjadi penyemangat saya. Menurut saya itu bentuk pencapaian atas usaha saya dan Emir dalam menjalankan games tersebut. Tapi  lama-lama saya meluruskan niat bahwa kesuksesan games ini bukan ada di badge yang didapat, tapi keistiqomahan kami dalam mempraktekkan komunikasi produktif. Badge tersebut menurut saya merupakan penyemangat agar saya konsisten menulis karena sebenarnya dari Emir lahir ingin sekali mendokumentasikan setiap moment dalam tulisan. Tapi karena kemalasan yang sering melanda, maka niat menulis pun sering saya urungkan. Alhamdulillah,, dengan adanya games ini saya mempunyai dokumentasi hari-hari bersama Emir agar nanti ketika Emir besar, dia bisa ikut merasakan perjuangan kami dalam berkomunikasi produktif.
Semoga di games-games selanjutnya bisa semangat. aamiin

Sekian dulu aliran rasa ini. Nulisnya sambil berkaca-kaca inget Emir. Teringat ucapan seseorang bahwa there is a million way to be a good mother. And i will always do my best to be the best mommy for you, Emir. Laffyaaaa 😘😘

Wednesday, November 15, 2017

Hari #13 Game Level #1 "Melatih Kepedulian"

Day #13
Akhirnya bisa menuangkan cerita di hari ke-13 ini. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya memiliki kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya, terlebih peduli terhadap Ayah dan Bundanya. Oleh karena itu, Bunda sering mengungkapkan bahwa Bunda sayanggggggg sekali ke Emir. Sebaliknya Bunda juga suka membisikkan kepada Emir, "mangke Emir sayang lan eman kali Bunda lan Ayah nggih?" (Nanti Emir sayang dan peduli terhadap Bunda dan Ayah ya). Terus ditambah harapan-harapan lainnya seperti, "Emir jadi anak yang soleh, akhlaknya baik, yang menyenangkan jadi anak yang bermanfaat, dan menghargai orang lain ya." Karena Emir belum menangkap maksud Bunda, maka Emir hanya memandang mata Bunda sambil berkata, "hmmm, hmmmm" setiap Bunda selesai satu kalimat. 

Jadi mungkin karena kata-kata itu seperti doa, maka ada beberapa kejadian yang menurut saya terlihat kepedulian Emir. Waktu itu, saat Bunda selesai menyuapi Emir, Bunda minta ijin ke Emir untuk mengambil makan karena Bunda lapar. Bunda bilang, "Bunda mundut maem riyin nggih mir, Bunda ngelih." Emir yang masih dipangkuan Bunda tiba-tiba bilang, "Maemmmm". Bunda kira Emir ingin makan lagi. Maka Bunda mengambil satu sendok makanannya Emir dan mengarahkan tangan ke mulut Emir. Eh tiba-tiba tangan Emir mendorong tangan Bunda ke arah mulut Bunda. Oucchhhhh Bundanya langsung geer. Langsung berfikir mungkin Emir mudeng kalau Bunda lapar dan menyuruh Bunda makan dari makanan yang ada disitu. Jadi Bunda tak perlu ngambil makanan lagi dan meninggalkan Emir sebentar. Semoga pemikirannya Bunda ini bener ya. Jadi sampai besar nanti Emir selalu peduli kepada Bundanya. aamiin

Kejadian lain tentang menyuapi Bunda juga sering terjadi kepada Ayah. Jika Emir sedang makan buah atau makanan lain bersama-sama Bunda dan Ayah. Kadang tiba-tiba Emir mengambil makanannya, menyuapi Ayah sambil bilang Ayah dan menyuapi Bunda sambil memanggil Budaaaa secara bergantian. Ketika sedang makan, kemudian Emir merasa sudah cukup kenyang, kadang-kadang makanan yang diarahkan ke mulutnya langsung didorong ke arah mulutnya Bunda. Mungkin maksudnya Emir sudah tidak mau makan, makaanya untuk Bunda saja. hihihi. Melting....

Cerita #2
Ada satu cerita tentang kepedulian Emir terhadap Bundanya. Jadi minggu kemarin Emir dan Bunda menyusul Ayah menginap di hotel tempat Ayah ditugaskan. Saat mau pulang, Bunda masih bersiap-siap, sementara Ayah mengajak Emir untuk memakai sepatu. Saat bunda akan mengambil sepatu, tiba-tiba Emir membawa sepatu Bunda sambil bilang, "tutu budaaa" (sepatu Bunda). Walaupun yang dibawa cuma satu sisi sebelah kiri, tapi Bunda amazed sekali sama Emir. Bersyukur sekali melihat apa yang Emir lakukan. Alhamdulillah, semoga ini awal dari kepedulian seorang Emir ya. Mudah-mudahan Bunda dan Ayah selalu bisa menanamkan sifat peduli kepada Emir. laffffff yaaaa, mamas Emir.


#hari13
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#gamelevel1
#kelasbunsayiip

Hari #12 Game Level #1 "Membuang Sampah pada Tempatnya"

Day #12
Malam ini, Emir mau belajar membuang sampah pada tempatnya. Jadi sekarang Emir suka sekali makan buah pear yang didapat dari Ayah. Semalam Bunda potong-potong buah pear untuk Ayah dan Emir yang sedang bermain kereta thomas di ruang tv. Entah kenapa setiap makan pear dan jeruk, bukannya ditelan, Emir malah melepeh-lepeh buah yg habis dikunyah. Jadilah setiap selesai mengunyah, buah yang habis dikunyah berserakan di karpet dan dilantai. Bunda pun standy by dimana Emir berdiri dan memunguti bekas buah yang dikunyah dan mengumpulkan disatu tempat biar gampang dibuang.
Setelah Emir selesai makan pear, dia pun mulai mengangkat wadah buah dan membaliknya. Buah yang tersisa pun berserakan dilantai. Bunda mengingatkan Emir, "buaeh ampun ngge dolanan nggih mir. (Buahnya jangan buat mainan)". Emir hanya memandang Bunda dan kembali membalik wadah yang sudah Bunda balik. Bunda pun ingat jika begini, maka harus cari cara untuk mengalihkan perhatian Emir. Thinkkkkkkk,,,, Bunda pun mengambil wadah buah yang dilepeh Emir dan mengajak Emir untuk membuangnya di tempat sampah. "Emir, ayoo buang niki teng tempat sampah teng wingking" (Emir ayo kita buang ini ke tempat sampah di belakang). Karena sebelumnya Emir pernah juga buang sampah disana, maka muka Emir langsung berbinar-binar dan bilang, "ayoooo😍😍" (sambil memegang wadah dan jalan ke arah belakang). Bunda ikut memegangi wadah bersama Emir dan mengarahkan ke lokasi tempat sampah. Sesampainya di depan tempat sampah, Emir dan Bunda sama-sama membuang isi di dalam wadah itu. Alhamdulillah, another good habit ya mamas Emir. Bunda laaffffd youuu so muchhhh 😘😘😘😘😘
.
.
#hari12
#tantangan10hari
#gameslevel1
#komunikasiproduksi
#kelasbunsayiip

Monday, November 13, 2017

Hari #11 Game Level #1 "Berlatih Menggosok Gigi"

Day #11
Ketika Emir berusia 8 bulan, gigi pertamanya tumbuh. Sampai usia 17 bulan, gigi Emir sudah 8 buah (7 gigi depan & 1 gigi geraham). Setiap hari yang menjadi PR Bunda adalah bagaimana cara agar gigi itu terawat, sementara semakin besar Emir semakin menolak untuk diajak gosok gigi. Saat awal-awal giginya tumbuh, Bunda menggosok gigi Emir menggunakan sikat gigi khusus balita. Tapi, saat itu juga Bunda butuh perjuangan untuk menggosok gigi dia. Emir selalu menolak ketika giginya akan disikat.

Malam ini, Bunda mengajak Emir untuk sikat gigi. Karena Emir tidak mau, maka Bunda mengganti sikat gigi dengan kain kasa yang direndam air hangat kemudian digosok perlahan di bagian mulut. Ternyata cara ini pun belum berhasil. Emir menolak ketika Bunda ingin membersihkan giginya menggunakan kain kasa. Akhirnya cara lain pun ditempuh. Ketika Ayah inin sikat gigi, Emir diajak ke kamar mandi untuk melihat Ayah sikat gigi. Emir pun excited melihat Ayah. Bunda pun memberikan sikat ke Emir dan menyuruhnya untuk menyikat gigi seperti ayah. Tapi Emir menolak dan lebih tertarik melihat Ayah sikat gigi. 

Singkat cerita, Emir ternyata tertarik kepada sikat yang dipakai Ayah. Maka, setelah selesai, Ayah memberikan sikatnya kepada Emir. Alhamdulillah, sikatnya langsung dimasukkan ke mulut. Walaupun belum digerakkan-gerakkan layaknya orang yang sedang sikat gigi. Namun, alhamdulillah sikat giginya pelan-pelan dapat membersihkan gigi Emir.

Yey, ternyata selain komunikasi lisan, memberikan contoh kepada Emir merupakan salah satu cara untuk melakukan hal yang dicontohkan.
.
.
#hari11
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasi produktig
#kelasbunsayiip 

Saturday, November 11, 2017

Hari #10 Game Level #1 "Emir Menangis"

Alhamdulillah, tak terasa sudah menginjak hari kesepuluh game level 1-nya. Semoga diberi semangat dan kekonsistenan dalam menjalani 5 hari kedepan. Bukan tentang badge nya, tapi tentang bagaimana saya bisa konsisten dalam mengimplementasikan komunikasi produktif dengan Emir.

Day #10
Malam ini, Bunda sedih karena Emir menangis sampai teriak-teriak. Lebih sedih lagi karena Bunda dan Ayah tidak bisa mengerti apa yang diinginkan Emir. Jadi singkat cerita, Bunda memberikan balon karakter pokemon yang belum diisi angin. Ayah kemudian meniup balon itu dengan menggunakan pompa angin elektrik. Setelah jadi, Emir pun excited. Emir memegang-megang balon itu sambil dipangku Bunda. Tapi memang, Bunda perhatiin Emir ingin melakukan sesuatu ke balon itu, tapi tidak bisa. Bunda kira Emir kesusahan memegang balon, maka Bunda ambilkan tali rafia untuk mengikat bagian ekor balon. Tapi ternyata Emir kurang berkenan, dia tambah menangis. Kemudian Bunda coba cara lain, tapi tetap tidak bisa. Emir tetap menangis dan bertambah kencang. Akhirnya Ayah ambil alih menggunakan caranya. Emir masih menangis. Ayah Bunda sudah mencoba cara lisan dengan menenangjan Emir dengan kata-kata yang pelan dan manis. Tapi ternyata Emir masih terus menangis. Ayah juga mencoba mengempeskannya lagi, tapi Emir tetap kurang berkenan. Akhirnya Bunda gendong Emir dan mengajak ke kamar sambil mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain. Tapi malah semakin kencang teriakannya. Bunda dan Ayah mulai panik,  belum pernah kami lihat Emir menangis seperti ini. Akhirnya kami membacakan Surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas dan Ayat Kursi berkali-kali sampai Emir agak mereda tangisnya. Setelah itu baru Bunda susui dan Emir langsung tertidur sambil tersedu-sedu.

Pelajaran yang kami dapat malam ini adalah tentang kesabaran. Alhamdulillah, walaupun menghadapi Emir dengan luapan emosi seperti itu,  kami tidak terbawa emosi. Jadi nalar kami masih terjaga. Awal-awal menangis, kami sudah mencoba membujuk dengan suara lembut dan intonasi yang rendah. Tapi mungkin karena Emir masih belum bisa mengungkapkan apa yang diinginkan secara jelas dan adanya keterbatasan kami dalam menangkap maksud Emir, maka akhirnya Emir meluapkan emosinya dengan cara seperti itu. Semoga semakin hari, Bunda dan Ayah bisa lebih mengerti apa yang Emir inginkan.

Sekian cerita hari #10 nya. Sampai jumpa besok in syaa Alloh.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiprodukti
#kelasbunsayiip

Friday, November 10, 2017

Hari #9 Game Level #1 "Katakan Apa yang Kita Inginkan, Bukan yang Tidak Kita Inginkan"

Day #9
Katakan Apa yang Kita Inginkan, Bukan yang Tidak Kita Inginkan

Banyak sekali poin komunikasi produktif dengan anak yang ingin saya praktekan. Tapi karena usia Emir masih belum sepenuhnya memahami maksud dan tujuan Ayah Bundanya, maka kami berusaha sebaik mungkin untuk menanamkan poin-poin yang sesuai dengan umur Emir.
Hari ini kami ingin mencoba fokus pada hal-hal yang kami inginkan, bukan yang tidak kami inginkan.

Cerita malam ini cukup simple, karena menurut saya komunikasi produktif tidak bisa direncanakan, jadi saya hanya observasi dari apa yang saya dan Emir lakukan. Ketika ada hal-hal yang perlu diperhatikan dan diperlukan komunikasi produktif, disitulah saya fokus agar komunikasi yang produktif bersama anak dapat selalu dipraktekkan. Seperti cerita tadi malam, saya pulang kerumah lebih malam dari biasanya. Emir sudah menunggu di balik pintu bersama Mbahnya. Ketika saya pulang, Emir tidak bisa ditinggal sama Bundanya. Dia selalu minta gendong (ya wajar kan) dan Bundanya tidak boleh kemana-mana. Bahkan ketika saya ingin ke toilet, Emir langsung nangis kejer. Tapi saya senang, berarti Emir ingin selalu dekat dengan Bundanya. Jadi saya selalu tunda untuk mandi/makan dulu. Saya membersamai Emir untuk beberapa menit selanjutnya.
Malam ini, kami bermain balon yang kemarin saya beli. Tiba-tiba Emir ingin makan sukro yang ditaruh di kaleng astor kosong. Sambil makan, Emir sambil jalan-jalan. Sampai tiba-tiba Emir naik ke kaleng tersebut dan berdiri disitu. Walaupun kaleng itu sudah kosong, tapi tetap saja itu tempat makanan. Dan menurut saya, hal ini bukanlah hal yang baik. Oleh karena itu, Bunda pelan-pelan bilang ke Emir, "Emir medak nggih mir. Niku sanes tempat ngge diidek idek" (Emir turun ya mir. Itu bukan tempat untuk diinjek-injek). Emir belum mengerti ternyata, dia tambah suka berdiri dan lompat-lompat kecil disitu. Pelan-pelan Bunda ulangi lagi instruksinya. Emir masih senyum-senyum dan melanjutkan berdiri disitu. Emir baru turun ketika dialihkan ke hal yang lebih menarik menurut dia. Jadi walaupun sudah pelan-pelan bilang ke Emir, tapi ternyata harus ekstra sabar dan belum langsung berhasil. Bunda harus ekstra sabar dan kreatif untuk mencari cara lain untuk mengalihkan Emir agar meninggalkan  hal-hal yang kurang baik. Semoga hari-hari selanjutnya Bunda dan Emir semakin pinter dalam berkomunikasi. Aamiin
.
#hari9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip