Pages

Showing posts with label on duty. Show all posts
Showing posts with label on duty. Show all posts

Friday, November 14, 2014

Road to Raja Ampat #1

Pekerjaan saya lah yang akhirnya membawa saya pada tempat yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia. Sebenarnya impian ini pun bermula ketika saya mulai menggeluti pekerjaan ini. Kalau saja saya tidak bekerja pada posisi ini, mungkin hanya sekedar impian untuk mengunjungi tempat ini. 

Hari ini, 31 Oktober 2014, pukul 16.08 WIT, kami berangkat menuju ke Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat dari Pelabuhan Usaha Mina di Sorong. Setelah dua hari ini menyelesaikan kunjungan lapangan di Kota dan Kabupaten Sorong, akhirnya hari ini kami akan melanjutkan kunjungan lapangan kami untuk paket-paket pekerjaan yang terletak di Kabupaten Raja Ampat. Namun, sebelum melakukan pekerjaan ini, kami hendak rehat sejenak untuk menikmati keindahan Kepulauan Raja Ampat yang sudah tersohor ke dunia internasional.

Pukul 16.00 WIT, speedboat yang kami sewa menjemput kami di Dermaga Usaha Mina. Dermaga ini terletak sangat dekat sekali dengan Port of Sorong. Oleh karena itu banyak sekali kapal-kapal yang sedang bersandar di pelabuhan Sorong tersebut dari yang kecil sampai yang besar sekalipun. Sekitar pukul 16.20 WIT speedboat kami sudah meninggalkan dermaga. Ah, rasanya masih belum percaya kalau saat ini saya sedang menuju ke the most wanted place to visit. Rajaaaaaa Ampattttttt, I aaaaammmm comiiinggggggg!! Mungkin begitu suara hati saya saat ini. ^^

Well, berbicara mengenai Raja Ampat, siapa yang tidak kenal dengan tempat ini. Bagi sebagian besar orang yang mengaku suka traveling, Raja Ampat pasti masuk ke dalam list tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Termasuk saya tentunya. Keindahan gugusan pulau-pulaunya, laut yang hijau dan biru, pasir putihnya serta keindahan bawah lautnya sudah terdengar sampai ke mancanegara. Bahkan konon katanya, sebagian pemilik resort disini adalah orang asing (ini yang disayangkan). Selain terkenal dengan hal-hal tersebut di atas, Raja Ampat juga terkenal dengan susahnya akses menuju kesana dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Hal itu yang membuat tempat ini menjadi eksklusif karena hanya sebagian orang yang beruntung yang bisa menyisihkan uang, waktu dan tenaga mereka untuk mengunjungi tempat ini. Beruntunglah ketika saya bersama teman-teman satu tim bisa berkunjung ke Raja Ampat di sela-sela melaksanakan tugas kami.

Selama perjalanan, kami isi dengan bercerita dengan teman satu rombongan sambil menikmati setiap hal yang kami liat di laut. Ketika waktu hampir menunjukkan pukul 18.00 WIT, matahari perlahan-lahan turun hendak meninggalkan kami. Guratan-guratan cahaya kemerahan memenuhi langit disebelah barat. Masya Alloh, it was one of beautiful sunset I have ever seen.

Setelah matahari tenggelam, kami belum juga sampai ke resort tempat kami menginap. Perlahan-lahan kami sudah memasuki wilayah Kepulauan Raja Ampat. Pulau-pulau kecil sudah terlihat dari kejauhan dengan resort-resort yang dibangun dari kayu sudah berjejer di tepian pantainya. Ahhhh,, saya sudah membayangkan betapa romantisnya resort-resort itu. Tak lama kemudian, akhirnya kapal kami perlahan-lahan melambat dan mendekat ke sebuah dermaga panjang yang terbuat dari kayu. Wah ternyata ini dia resort tempat kami menginap. Aaaaakkkk, seketika saya ingin berteriak, "Rajaaaaa Ampattttt, Here I am!!!! Sambil tak lupa mengucap syukur kepada Alloh SWT atas kesempatan yang diberikan ini. 


Sekitar pukul 18.31 WIT, kapal berhenti sempurna di dermaga Dive Lodge Resort. Suasana di dermaga luamayan ramai malam ini. Beberapa orang sedang menyiapkan peralatan untuk diving. Sementara itu, dari dalam laut dekat dermaga, saya melihat ada cahaya lampu dari bawah. Ternyata ada yang sedang melakukan diving di malam hari. Ah, puncak kemupengan saya untuk diving sudah tidak dapat dibendung. Eitsss, tapi kami harus check-in terlebih dahulu di resort kami. Tak lupa kami foto-foto dulu di depan tulisan "Raja Ampat Dive Lodge" sebagai bukti kami sudah di Raja Ampat (ini penting banget ^^).
Salah satu kapal yang sedang berlabuh
Kami harus menyusuri dermaga kayu yang cukup panjang ini untuk sampai ke resort. Suasana yang remang-remang dan sunyi memang cocok sebagai tempat untuk rehat dari aktivitas sehari-hari di ibukota. Selain itu, tempat ini cocok juga untuk bulan madu soalnya romantis. hehe. Saat tiba di reception, kami di suguhi segelas welcome drink dan handuk dingin untuk membersihkan muka yang mungkin sudah kucel. PIC dari resort langsung membagikan kunci kamar kami masing-masing. Saya dan Bu Paini menempati kamar nomor 11 yang berada di dekat jalan masuk. Setelah bersih-bersih dikamar masing-masing, kami pun pergi ke restaurant untuk menyantap makan malam kami. Kami sengaja memilih meja di dekat pantai sambil menikmati semilir angin di malam hari. Setelah makan, kami masih ngobrol dan membahas mendoan. Sejenak kami pun melupakan tugas-tugas kami yang belum selesai untuk menikmati keindahan tempat ini. Sehabis makan, kami sempatkan jalan-jalan ke arah dermaga untuk melihat bintang dan bulan yang terlihat sangat jelas di langit malam ini. Ahhh,, I love this atmosphere so much. Suasana yang santai, tenang, langit yang terang akan cahaya bulan membuat saya ingin menikmati hal ini dengan orang-orang tersayang. Semoga ya someday bisa kesini bersama-sama keluarga. aamiin YRA. 
Ini reception yang bersebelahan dengan restaurant. Restaurant ini langsung menghadap ke pantai

Waktu sudah cukup malam, rasanya badan ini sudah meminta untuk direbahkan. Kami pun kembali ke kamar kami masing-masing untuk rehat demi hari esok yang pasti akan menyenangkan. Good night!!

Saturday, November 1, 2014

Road to Raja Ampat #2

Selamat Pageeeeeeeeee!!!

Rasanya hati ini sudah bergejolak tak sabar menanti pagi, menanti penjelajahan di pulau-pulau di Raja Ampat. Iyap, hari ini jadwal kami bersenang-senang. Agenda sementara yang dibicarakan antara pimpinan rombongan kami dan PIC dari resort tadi malam sudah terbayang-bayang di pikiran saya. Saya sudah membayangkan snorkling dengan ditemani ikan-ikan lucu, melihat icon nya Raja Ampat berupa gugusan pulau-pulau dengan laut yang hijau, pasir timbul di tengah laut dan masih banyak tujuan lainnya. Eitssss,,, tunggu dulu. Daripada cerita yang cuma ada di bayangan, mending cerita yang sebenarnya yuks.

Pagi ini, salah satu pagi yang sangat menyenangkan, membuat hati bergejolak, membuat diri ini tak sabar untuk meng-eksplore Raja Ampat. Sekitar pukul 05.00 WIT, saya bangun untuk sholat subuh. Karena berada di pulau yang masih sepi, saya pun tak bisa mendengar suara adzan disini. Hanya berbekal aplikasi pengingat sholat di smartphone saya, saya pun mengambil air wudlu dan segera menunaikan sholat subuh. Setelah sholat subuh, sebenernya saya ingin berjalan-jalan menyusuri resort atau sekedar berjalan-jalan menyusuri pantai dan dermaga. Tapi mata yang masih kantuk menyurutkan niat saya untuk keluar. Ditambah lagi karena jam 08.00 WIT kami harus sudah siap berangkat. Jadi saya pikir mending saya manfaatkan waktu buat bersiap-siap dari pada berjalan-jalan di pantai.

Pukul 08.00 WIT, saya dan Bu Paini menyempatkan untuk sarapan. Teman-teman yang lain juga sudah lebih dulu berada di resto untuk sarapan. Ternyata hanya saya dan Bu Paini yang pagi tadi tidak berjalan-jalan. Pak Hasron dan keluarga berjalan-jalan di pantai, sementara Mas Rio dan Mas Ricki bermain canoe di laut dangkat di sekitar dermaga. Ahhhhhh, saya mupeng. Saya pun protes karena mereka tidak mengajak saya untuk bermain canoe. Tapi tidak apa-apa, masih ada hari esok yang lebih baik. (halahhh, malah nyanyi ^^)

Setelah sarapan selesai, kami bersiap-siap menuju ke kapal kami untuk menuju ke Pianemo atau lebih terkenal dengan nama Wayag Kecil. Sekitar pukul 9.30 WIT, kapal kami perlahan-lahan meninggalkan dermaga resort. Perjalanan kami tempuh kurang lebih selama 1,5 jam menuju ke Pianemo. Saat kapal mulai memasuki wilayah Pianemo, kami semua takjub melihat keindahan gradasi warna lautnya yang hijau dan biru ditambah gugusan tebing-tebing/pulau-pulau yang mengelilinginya. Tempat terbaik untuk melihat keindahan gugusan pulau ini adalah dengan menaiki salah satu bukit. Keindahan dari atas sana tak bisa diungkapkan dengan kata-kata *katanya. Namun, sebelum kami naik, kami singgah dahulu ke tempat penangkaran hiu. Sebenarnya kalau kata pemilik resort tempat dimana hiu-hiu ini hidup, hiu-hiu ini tidak dipelihara. Mereka ada dengan sendirinya. Namun, karena semakin lama semakin banyak orang yang ingin melihat, maka hiu ini pun diberi makan secara rutin. Saat saya kesana, ada seorang tamu yang sedang memotong2 daging ikan tuna untuk santapan hiu-hiu yang kelaparan. Selain hiu, banyak juga jenis ikan yang hidup di sekitaran resort ini. Ada pula ikan pari yg berukuran kecil berenang-renang bersama hiu.

Tidak hanya melihat ikan, di belakang resort ini ternyata ada pantai. Biasanya kan resort di Raja Ampat kebanyakan ada di pinggir pantai. Kalau ini, resort yang bangunannya terbuat dari bambu dan kayu ini mempunyai konsep kebalik. Setelah menyusuri resort, kami baru bisa menemikan pantai. Sangat indah dan nyaman suasananya untuk melepas penat.

Setelah puas melihat2 ikan, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Pianemo, salah satu icon di Raja Ampat. Jarak dari resort hiu tadi tidak begitu jauh. Hanya beberapa menit saja, kami sudah sampai. Berdasarkan cerita dari rekan kami di Papua, sebelum ada Sail Raja Ampat, akses menuju ke atas bukit belum dilengkapi dengan tangga kayu. Jadi pengunjung waktu itu menaiki bukit tebing ini dengan usahanya sendiri (seperti yang saya lihat di program acara My Trip My Adventure). Tapi alhamdulillah saat kami datang, sudah dibangun tangga kayu menuju atas pulau/tebing. Ya lumayan juga naik tangganya. Di beberapa titik disediakan gazebo untuk istirahat bagi yang kelelahan. Kami pun dua kali istirahat saat naik. Dan kelelahan kami menaiki tangga tidak lah sebanding dengan pemandangan yang sangat indah yang terbentang di depan mata kami. Masya Alloh, Subhanalloh tak henti-hentinya mulut berucap takjub atas ciptaan Alloh SWT yang benar2 indah ini. Rasanya unbelievable. Pemandangan ini biasanya saya lihat di TV saja, tp kali ini dengan ijin Alloh SWT, saya bisa melihatnya langsung. Alhamdulillahh alhamdulillah alhamdulillah. Kamera smatphone, kamera digital, tongsing, dan DSLR pun langsung digunakan untuk memgabadikan tempat ini. Jadi selain tangga yang di bangun, pemerintah juga membuat semacam balkon dari kayu agar para pengunjung dapat menikmati pemandangan ini dengan aman. Ada dua balkon yang dibangun. Salah satunya terletah lebih rendah dari satu yg lainnya.

Waktu kami menikmati tempat ini cukup lama. Sebagian orang masih berfoto-foto dan sebagian lainnya hanya melihat-lihat setelah dirasa puas berfoto. Kalau saya pastinya termasuk yang masih berfoto. Saya tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk mengambil foto yang sebagus dan sebanyak-banyaknya. Setelah dirasa cukup puas mengambil foto, kami pun menuruni tangga dan menuju ke kapal. Sekitar pukul 12.30 WIT, kami turun dan melanjutkan makan siang yang kami bawa dari resort di dermaga Pianemo. Makan di pinggir laut begini benar-benar nikmat. Menu makan siang kami sebenrnya tidak begitu spesial. Pemandangan disekitar kitalah yang membuat makan siang kami bertambah nikmat. Perut kenyang, mata pun senang melihat bagusnya laut yg hijau dan karang-karang yang mengelilinginya. Masya Alloh, i am falling in love with this islands.

Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan kami menuju batu pensil. Konon katanya ada karang yang bentuknya menyerupai pensil. Namun setelah lama mengarungi tebing-tebing disini, kami tidak menemukan tempat yang kamj tuju. Akhirnya kami melanjutkan ke tujuan selanjutnya yaitu Pulau Pasir. Yaitu kumpulan pasir yang terdapat di tengah laut. Aaakkk saya sudah tidak sabar untuk melihatnya. Namun sebelum ke tempat tersebut, kami singgah ke resort untuk sholat dan mengambil barang2 yang diperlukan.

Setelah itu, kami menuju ke Pulau Pasir. Jadi pulau ini akan terlihat saat surut. Jika sedang terjadi pasang, maka akan tenggelam oleh air laut karena pulau ini hanya gumpalan pasir. Namun sayang, sesampainya kami dilokasi, boat yg kami tumpaki tidak bisa berlabuh di dekat pulau pasir ini karena terlalu dangkal. Tadinya kami mau nyebur dan berjalan kaki untuk menuju ke pulau tersebut. Namun karena dirasa bahaya, takut kalau tiba-tiba ada gelombang laut yang besar datang (lokasinya ditengah laut), jadi kami urungkan niat untuk berjalan kaki menuju ke pulau tersebut. Padahal ketinggian air disekitar pulau hanya sampai betis orang dewasa saja. Yaahh, kecewa si pasti ya. Karena belum pernah ada sebelumnya ada pasir ditengah laut begitu. Tapi ya sudah daripada ada kejadian yang tidak diinginkan. Melihat dari kejauhan saja sudah sangat menyenangkan. Air disekitar pulau juga sangaaaattt jernih. Sampai-sampai dasar laut yang dangkal juga terlihat. Rencana lain ditempat ini adalah kami berniat snorkling. Airnya yang jernih benar-benar menggoda saya dan teman-teman untuk nyeburrrrr. Tapi karena dilihat tidak ada ikan-ikan lucu dan terumbu karang yang bagus, akhirnya kami diajak ke resort yang lain yang ternyata disekitaran resort ini jg banyak ditemui ikan-ikan dan terumbu karang yang bagus. Sebenarnya disekitaran resort kami juga bisa snorkling. Tapi kami ingin mencoba spot yang lain. Resort ini hampir sama dengan resort yang lain. Kamar2nya terbuat dari bambu dan langsung berada di atas laut dipinggir pantai. Ternyata resort ini sudah sering dijadikan tempat untuk melihat ikan, sehingga pas kita datang, sudah ada orang yang memberikan semangkuk besar makanan ikan. Salah satu yang benar-benar istimewa dari Raja Ampat memang kekayaan lautnya. Ikan-ikannya masih sangatttt beragam dan bisa diliat tanpa harus snorkling. Semuanya jelas terlihat dari atas air. Kita tinggal melempar makanannta dan kemudian ikan-ikan ini berebutan. Aaaaaakkkk bikin betahhh.

Saya dan teman saya yang sudah menyewa alat snorkling akhirnya tetap nyebur. Tapi ternyata arusnya agak lumayan kencang jadi saya harus pegangan bambu penahan resort agar tidak terbawa arus. Saat melihat dibawah langsung, ada berada sangatt dekat dengat ikan yang indah itu, rasanya tidak bisa diungkapkan. I am falling in love with the beauty of underwater since the first time i tried it. Diving and snorkling are addictive. I want it more more and more. Hehe

Setelah dirasa puas bermain di resort ini (padahal ga pernah puas), akhirnya kami kembali ke dive lodgr resort. Saya dan beberapa teman melanjutkan snorkling di sekitaran dermaga kayu. Kami mengambil lokasi yang dangkal. Karena pas di dermaga kayu ini langsung ada palung yang dalam. Di sekitaran dermaga ini, ikannya tak kalah bagus. Dan saya menemukan nemooooooo. Aaakkkk lucu bangettt ikan ini. Sama persis seperti yang saya lihat di film finding nemo. Ada juga bintang laut, karang-karang warna warni yang lucu dan segerombolan ikan yang lewat. Masya Alloh, how i love this view soooo muchhhh. Terima kasih Yaa Alloh atas keindahan dan kekayaan yang diberikan kepada Indonesia. Bantu kami untuk menjaga dan memeliharanya. Semoga dilain waktu, saya bisa kembali kesini bersama orang-orang tersayang. Dan semoga teman-temen yang belum kesini bisa kesini dengan orang-orang tersayangnya juga. Aamiin

Tak terasa waktu sudah semakin sore. Kami pun menyudahi snorkling dan bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri. Petualangan hari ini sampai disini dulu. Hari besoknya kami harus kembali bekerja untuk meninjau lokasi proyek di Pulau Waisai. Tunggu cerita selanjutnya.

_gayuh_
01112014

Wednesday, September 24, 2014

Journey to The East #3

^.^ ^.^

Disela-sela buka-buka dokumen, disambi chat.
Semoga Alloh SWT memudahkan dan meridloi setiap langkah kami. Aamiin ^^


-gayuh-
Manokwari 23092014

Saturday, September 20, 2014

Journey to The East #2

Waktu menunjukkan sudah pukul 03.44 WIB-memasuki wilayah WIT-saat saya bangun dari tidur. Dengan sedikit ketidaknyenyakan karena beberapa kali ada pengumuman gangguan cuaca dan goyangnya pesawat, akhirnya saya bisa tidur juga. Walopun dengan beberapa kali terbangun. Ketika saya melihat keluar jendela, saya disambut oleh sinar mentari pagi yang masih malu-malu menampakan sinarnya (baca:sunrise). Sinar orange nya yang indah terbentang luas menembus awan-awan putih diluar pesawat. Saya pun memgambil smarphone untuk mengabadikan pemandangan yang indah ini sambil tak lupa mengucap masya Alloh. Saking takjubnya, saya pun lupa belum melaksanakan sholat subuh. Saya langsung mengambil tayamun dari debu dijendela dan buru-buru melaksanakan sholat subuh di tempat duduk saya. 
Tak lama setelah melaksanakan sholat subuh, kami pun disambut oleh senyuman dan wajah cantik para pramugari yang menawarkan sarapan untuk para penumpang. Saya pun memilih menu omelet untuk sarapan saya. Sebenarnya perut ini belum lapar, namun mengingat perjalanan masih lama sampai Manokwari, saya pun tetap memakan sarapan saya. Tiba-tiba suara kapten pilot kembali terdengar mengabarkan bahwa dalam waktu 1 jam 30 menit, kami akan tiba di Bandara Sentuni, Jayapura. Benar saja, setelah hampir 1 jam 30 menit, daratan dan lautan Papua sudah terlihat dari jendela pesawat. Akhirnya sebentar lagi saya akan menginjakkan kaki di bumi Papua. Well, welcome to Papua!!


Ditulis di Manokwari
19 September 2014
13.27 WIT

Thursday, September 18, 2014

Journey to The East #1

Salah satu pulau yang paling ingin saya kunjungi adalah pulau yang terletak di ujung timur wilayah Indonesia yaitu Pulau Papua. Mungkin karena pulau ini paling jauh dari ibukota, menyimpan banyak eksotisme, keragaman adat dan budaya serta pesona alam yang indah yang membuat saya begitu penasaran dengan pulau yang satu ini. Ditambah lagi adanya destinasi wisata seperti Raja Ampat di Papua Barat, yang sangat tersohor akan keindahan gugusan pulau, pantai dan bawah lautnya, menambah rasa penasaran saya untuk pergi kesana.
Malam ini, atas ijin Alloh SWT, akhirnya saya berkesempatan untuk melaksanakan tugas di Provinsi Papua Barat. Saat ini saya berada didalam pesawat dengan nomor penerbangan GA656 di atas ketinggian 33.000 kaki. Penerbangan dengan tujuan wilayah timur Indonesia memang sering terjadwal pada malam hingga dini hari. Saya dan teman satu tim memilih rute penerbangan Jakarta-Jayapura-Manokwari yang rencananya berangkat pada pukul 23.40 WIB, namun karena satu dan lain hal, kami baru take of pada pukul 00.30 WIB. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di Jayapura kurang lebih selama 5 jam lebih. Kaya harus transit di Jayapura selama kurang lebih 3 jam sebelum melanjutkan penerbangan kami ke Manokwari pada pukul 11.00 WIT.
Saat saya menulis tulisan ini, jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. Entah kenapa tiba-tiba saya tidak bisa tidur. Padahal saat akan take off, saya benar-benar mengantuk. Ada rasa excited dalam penugasan ini. Seperti dream comes true. Saat masih sekolah, saya hanya mendengar tentang Papua dari berita-berita di televisi. And I thought Papua is so far away and difficult to reach it. But now, Alloh SWT gives me a chance to visit this island. Alhamdulillah.
Entah kenapa saya agak sedikit excited pada penugasan ini. Sebentar lagi rasa penasaran saya akan keadaan dan kondisi di Papua bakal terjawab. Semoga Alloh SwT melindungi perjalanan ini sampai ke tujuan dan memudahkan kami dalam menjalankan tugas di Papua Barat. Semoga juga saya dan tim diberi kesempatan untuk menikmati secara langsung keindahan Raja Ampat. Aamiin3x Ya Rabb.
Mungkin cukup disini dulu cerita pembuka 'Journey to The East'. I think I have to sleep.

Ditulis di dalam pesawat Garuda GA 656
Ketinggian 33.000 kaki
18 September 2014 Pukul 01.20 *mungkin masih wilayah WIB

Friday, June 20, 2014

Kapangeranan Gebang Kinatar

I'm always interested in Indonesian culture, historical site and everything related to culture and history. Salah satu favorit saya adalah ketika bisa berkunjung ke bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya. Contohnya keraton, candi-candi, desa adat, museum, dan objek wisata lainnya. Beruntungnya saya, pekerjaan saya kali ini membawa saya ke sebuah cagar budaya yang terletak di Cigugur, Kabupaten Kuningan. Pada tahun 2011, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis (PBLS) Direktorat Jenderal Cipta Karya melaksanakan Pekerjaan Pelaksanaan Renovasi Cagar Budaya Nasional Tripanca Tunggal Cibubur, Kab. Kuningan Jawa Barat. Gedung Tripanca Tunggal ini secara resmi disebut Gedung Paseban Tri Panca Tunggal yang merupakan bangunan keraton milik Kepangeranan Gebang Kinatar Kuningan. Sebelumnya saya hampir tidak pernah mendengar tentang kerajaan/kepangeranan di Kuningan ini. Tetapi begitu mendengar bahwa saya akan mengunjungi salah satu keraton yang masih dipimpin oleh seorang raja dan masih melestarikan budaya dan adat setempat, maka saya pun tidak bisa menutupi antusiasme saya. 

Cagar budaya yang telah direnovasi tersebut menggunakan dana APBN Tahun Aggaran 2011. Pembangunan tersebut juga telah rampung pada tahun yang sama. Pada tahun 2014 ini, Satker PBLS akan melaksanakan proses hibah atas aset tersebut yang akan diserahterimakan kepada Yayasan Tri Mulya yang diketuai oleh pangeran dari Kepangeranan Gebang Kinatar. Dalam proses hibah ini, saya dan tim dari Inspektorat Jenderal yang berperan sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) mempunyai tugas untuk memeriksa asset yang akan dihibahkan. Hal tersebut sesuai dengan yang diamanahkan dalam Peraturan Menteri Keuangan 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara. Hasil dari pemeriksaan asset ini akan dijadikan sebagai salah satu dokumen kelengkapan proses pengajuan hibah kepada Kementerian Keuangan. Setelah pengajuan proses hibah ini disetujui, maka Satker PBLS dapat melakukan serah terima aset cagar budaya ini untuk selanjutnya dikelola oleh Yayasan Tri Mulya. Untuk selanjutnya, Yayasan Tri Mulya lah yang bertanggung jawab dalam mengelola dan memelihara bangunan ini. Hal ini tentunya akan memudahkan dalam pelestarian Gedung Paseban Tri Panca Tunggal agar tidak cepat rusak.

Hari Rabu, 18 Juni 2014, saya dan tim dari PBLS berangkat menuju Kuningan pukul 11.00 WIB. Rute awal yang akan kami lalui adalah melalui Jatinangor dan Sumedang. Namun, karena kemacetan yang terjadi di Sumedang, maka kami memutuskan untuk berputar dan melewati rute Lembang-Subang. Perjalanan menuju Kuningan ini menghabiskan waktu yang sangat lama dibandingkan waktu normal yang biasa ditempuh. Total waktu perjananan yang kami tempuh adalah 9,5 jam termasuk waktu makan dan sholat. Akhirnya pukul 20.30 WIB, kami sampai di Kepangeranan Gebang Kinatar dan langsung disambut oleh Bu Dewi yang merupakan putri dari Raja Kepangeranan Gebang Kinatar. Bu Dewi langsung mengajak kami untuk bertemu dengan Rama-panggilan Raja-di ruang Srimanganti. Kami pun menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan kami di Gedung Paseban ini. Obrolan tidak berlangsung lama, kami pun diajak untuk makan malam di ruang Jinem. 

Waktu sudah cukup malam, kami pun kembali ke Ruang Sirimanganti untuk bertemu Raja dan Ratu dan pamit menuju hotel. Pagi harinya, Kamis, 19 Juni 2014, kami kembali ke Gedung Paseban Tri Panca untuk melaksanakan tugas kami. Sesampainya di lokasi, kami kembali disambut oleh Rama dan Ratu di Ruang Sirimanganti. Tiba-tiba pikiran saya kembali ke masa kerajaan ini masih berjaya. Mungkin saat saya bertemu dengan raja dan ratu pada saat itu, saya harus melalui prosesi adat dan pastinya tidak sembarang orang yang bisa bertemu beliau. Mungkin juga, raja dan ratu ini tidak memakai baju biasa seperti orang kebanyakan, melainkan baju adat raja dan ratu yang sering kita lihat dalam film-film kolosal di TV.

Well, membayangkan saya berada di masa keemasan kerajaan sudah cukup membuat saya senang. Apalagi ditambah dengan cerita langsung dari Rama tentang babad Kepangeranan Gebang Kinatar ini. Karena lumayan penasaran mengenai sejarah kerajaan ini, saya pun bertanya langsung bagaimana kerajaan ini bisa terbentuk dan masih melanjutkan keturunannya untuk melestarikan adat dan budaya kerajaan. Walaupun secara administrasi tidak memimpin wilayah Kuningan saat ini, namun warga sekitar masih menghormati dan menghargai Rama sebagai Raja di Kepangeranan Gebang Kinatar ini. Berdasarkan cerita Rama pagi ini, Kepangeranan Gebang ini awalnya dibagi menjadi 3 Kesultanan, yaitu Kanoman, Kasepuhan, Kacirebonan. Kemudian terjadi perebutan antara 3 kesultanan tersebut, maka untuk menghindari Belanda yang waktu itu, dipindahlah Kepangeranan Gebang ke daerah Cigugur ini. Alasan pemindahan ke Cigugur adalah karena daerah ini merupakan basis dari tentara Kerajaan Mataram. Kepangeranan Gebang bekerja sama dengan Kerajaan Mataram untuk melawan Belanda. Pada akhirnya Kepangeranan Gebang dibubarkan dan keturunan Raja Gebang pada saat itu yang kebetulan adalah Kakek dari Rama bersembunyi dari Belanda dan membangun padepokan untuk mengajarkan mengenai masalah sejarah dan budaya kepada Masyarakat. Namun sayangnya, Belanda berhasil menemukan padepokan ini, maka Raja Gebang saat itu dibuang ke Bedigul di Irian Jaya. 

Walapun Rama sudah memasuki usia ke-82, tapi beliau masih sangat lancar dalam menceritakan tentang sejarah dari Kepangeranan Gebang ini. Dalam ceritanya, Rama menjelaskan bahwa Gebang ini bukanlah suatu kerajaan, bahkan beliau sendiri menyebut dirinya bukanlah seorang raja, melainkan hanya keturunan dari Kepangeranan Gebang Kinatar. Oleh karena itulah, sampai sekarang Rama dan keluarganya tetap mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dalam komunitas adat Sunda. Menurut beliau, daerah ini adalah satu-satunya daerah yang plural. Semua agama ada disini, namun satu sama lain saling menghargai. Moto atau slogan yang masih mengakar di sini adalah "Sekalipun tidak sepengakuan, kita harus sepengertian". Sepengertian tersebut mengandung makna bahwa masing-masing individu harus mempunyai kesadaran berbangsa dan bernegara. Itulah yang mendorong masyarakat disekitar masih mempunyai toleransi beragama yang sangat tinggi. Bisa dibilang konflik karena gesekan keyakinan belum pernah terjadi. Sangat indah dibayangkan jika Indonesia yang saya cintai ini bisa terhindar dari konflik horizontal dan bisa hidup dengan damai walaupun mempunyai keyakinan, suku, dan ras yang berbeda-beda.

Setiap tahunnya, tepatnya tanggal 22 Rayagung dalam penanggalan Sunda, Kepangeranan Gebang Kinatar ini mengadakan perayaan Seren Taun. Semua masyarakat adat ikut serta dalam perayaan ini. Bukan hanya masyarakat dari sekitar Cigugur saja, namun dari berbagai wilayah di Indonesia juga ikut berpartisipasi dalam perayaan ini. Bahkan wisatawan mancanegara juga turut serta menjadi bagian dalam perayaan Seren Tahun ini. Pesan-pesan yang disampaikan dalam upacara adat ini begitu kuat sehingga ia seperti pesona budaya dan menjadi refleksi rohani bagi kehidupan manusia. Perayaan ini berlangsung selama 5 hari. Hari terakhir menjadi puncak dari perayaan. Well, setelah mendengar cerita singkat dari Rama, saya cukup penasaran untuk melihat perayaan ini. Tiba-tiba saja tercetus ide untuk mengunjungi Cigugur saat perayaan Seren Taun tahun ini digelar. Ada yang tertarik?

Cerita tentang Seren Taun ini menutup cerita singkat dari Rama pagi ini. Kami pun segera melaksanakan tugas utama kami disini. Pengecekan terhadap aset Gedung Paseban Tri Panca berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Pukul 13.00 WIB, kami berhasil menyelesaikan tugas kami dan kembali ke Ruang Sirimanganti untuk berbincang-bincang sejenak dengan Bu Dewi, Rama dan Ratu sebelum melanjutkan dengan makan siang. Setelah selesai makan siang, kami pun pamit untuk kembali ke Bandung. Sebelumnya, kami tidak melewatkan untuk berfoto bersama dengan keluarga Kepangarenan Gebang Kinatar. Rasanya masih ingin tinggal dan menikmati bangungan bersejarah ini. This building is so unique dan membuat saya merasakan suasana masa-masa kerajaan dulu. Namun, tugas sudah selesai dilaksanakan. Kami pun harus kembali ke Bandung dan melanjutkan tugas yang masih menunggu disana.


-gayuh-
ditulis di Bandung 20062014

Monday, April 14, 2014

Lombok yang Unik dan Indah

Garuda Indonesia diatas Gunung
Saya patut bersyukur terhadap Alloh SWT atas kesempatan yang diberikan. Pekerjaan saya saat ini memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa mengunjungi beberapa pulau-pulau yang ada di Indonesia, bahkan sampai ke lokasi pedalaman yang bukan merupakan tujuan wisata. Yang lebih istimewa lagi adalah maskapai penerbangan yang disediakan oleh kantor adalah Garuda Indonesia. Mungkin sebagian besar sudah tahu kenapa maskapai penerbangan ini istimewa. Kalau menurut saya, Garuda Indonesia merupakan maskapai yang sangat identik dengan Indonesia. Dari namanya saja sebenarnya sudah terlihat. Ditambah lagi dengan seragam para pramugari yang menurut saya benar-benar membawa image budaya Indonesia. Setelan atasan dan kain batik yang dipakai selalu membuat para pramugari Garuda Indonesia terlihat lebih anggun. Pelayanan kepada pengunjung saat on board pun sangat ramah dengan ditambah menu-menu makanan yang enak. Ada satu hal yang selalu saya lakukan setelah pesawat take off yaitu membaca Colours-majalah bulanannya Garuda Indonesia. Majalah ini selalu menarik perhatian saya karena isi yang disajikan benar-benar informatif terutama mengenai tempat-tempat yang direkomendasikan sebagai tujuan untuk liburan. Jika anda kurang berminat untuk membaca, foto-foto yang disajikan pun sudah cukup mewakili keindahan dan informasi dari tempat-tempat tersebut. Setiap bulannya, Colours selalu mempunyai informasi baru dan unik yang sangat sayang jika dilewatkan.


Majalah Colours Edisi Januari 2014


Dari beberapa provinsi yang pernah saya kunjungi dalam rangka penugasan dari kantor, ada satu provinsi yang membuat saya jatuh cinta akan keindahan dan keunikan yang dimiliki. Pada pertengahan Januari 2014 ini, saya berkesempatan untuk melaksanakan tugas kantor di Provinsi Nusa Tenggara Barat selama 7 hari. Yang pertama terngiang di kepala saya ketika mendengar provinsi ini adalah Pulau Lomboknya dengan pantai dan pemandangan bawah lautnya yang sangat bagus. Sebenarnya, Lombok sudah menjadi salah satu wishlist yang ingin dikunjungi pada tahun 2013. Dan alhamdulillah, doa saya terjawab saat awal tahun 2014 ini. Saya pun membuat strategi agar pekerjaan saya bisa selesai lebih cepat sehingga weekend bisa saya manfaatkan untuk pergi ke pantai.

Minggu, 12 Januari 2014
Akhirnya hari Minggu tiba juga. Setelah membereskan hampir seluruh pekerjaan dan ditambah kantor perwakilan juga libur pada hari Minggu, maka saya pun mantap untuk meng-eksplore pantai-pantai indah di pulau ini. Berbekal informasi yang saya dapatkan dari browsing di internet dan nomor travel agent di sini yang didapat dari seorang teman, maka saat Sabtu malam saya langsung booking mobil plus supirnya selama 12 jam untuk mengantar saya kemana saya ingin. Minggu pagi sekitar pukul 09.00 WITA, pak supir dan mobilnya sudah menunggu saya di lobby hotel. Saya pun bergegas turun dan siap untuk berangkat. Saya baru pernah liburan sendirian seperti ini karena ketua tim saya tidak mau untuk ikut jalan-jalan. Beliau sudah hampir 6 kali ke sini jadi sudah hampir pernah mengunjungi tempat-tempat yang indah disini.

Perjalanan tidak sekaku yang saya bayangkan. Pak Awan sang driver selalu menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati. Beliau juga cerita tentang sejarah bagaimana orang-orang Bali dulunya bisa menghuni Pulau Lombok ini. Salah satunya adalah karena adanya ekspansi besar-besaran Kerajaan Bali ke wilayah Lombok. Akibatnya, banyak Pura yang terletak di Kota Mataram ini. 

Rumah Adat Suku Sasak Desa Sade
Tempat selanjutnya yang kami singgahi adalah Desa Sade-desa adat Susu Sasak-suku asli Pulau Lombok. Desa ini sudah dijadikan sebagai desa wisata oleh Pemerintah Provinsi NTB. Konon kata Pak Awan dan guide lokal yang menemani saya berkeliling, Desa Sade ini masih menjunjung tinggi warisan budaya dan adat istiadat nenek moyang Suku Sasak. Hal itu bisa terlihat pada saat sesampainya saya dipintu gerbang masuk Desa Sade. Seluruh rumah dan bangunan di dalam desa ini masih bergaya tradisional. Atapnya masih memakai ijuk dan pagar rumahnya masih menggunakan anyaman dari bambu. Lantainya masih ada yang beralaskan tanah, namun tidak sedikit yang sudah bealaskan plester semen. Selain keaslian rumah dan bangunannya, ternyata kehidupan masyarakat Desa Sade ini juga masih tradisional. Warga Desa Sade sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani padi. Karena sawah di Desa Sade adalah sawah tadah hujan, maka mereka hanya panen sekali dalam setahun. Hasil panennya pun tidak untuk dijual melainkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagai perkerjaan sampingan, warga Desa Sade mengerjakan tenun ikat. Hal yang unik dalam pembuatan tenun ikat ini adalah semuanya dikerjakan secara manual dari pembuatan benang sampai pewarnaan benang. Walaupun begitu, hasil tenun tersebut bisa dibilang cukup berkualitas karena kain tenun yang dihasilkan tidak mudah luntur. 

Belajar Menenun
Prosesi perkawinan di Desa Sade ini juga sangat unit. Prosesnya dimulai ketika ada seorang pria dan wanita yang saling suka. Ketika mereka hendak melangkah ke jenjang perkawinan, maka harus ada proses 'penculikan'. Penculikan yang dimaksud adalah sang pria membawa sang wanita ke rumahnya tanpa sepengetahuan orang tua dari wanita tersebut. Di rumah sang pria pun, sang wanita hanya tinggal dan menginap semalam. Mereka tetap tidak boleh melakukan hal-hal yang dilarang. Biasanya hal tersebut dilakukan pada malam hari. Pagi harinya dari pihak pria mengirim utusan kepada orang tua pihak wanita dan memberi tahu bahwa anak wanitanya tidak hilang atau dibunuh melainkan sudah diculik oleh sang pria tersebut. Setelah ada utusan, orang tua dari calon mempelai wanita sudah mengerti bahwa anak gadisnya sudah ada yang meminang. Mereka  tidak bisa menolak atau tidak setuju pada hubungan anak wanitanya dan pria tersebut. Sang ayah harus bersedia menjadi wali dan menikahkan anak gadisnya dengan sang pria yang telah menculiknya.


Pantai Tanjung Aan
Wisata sejarah dan budaya sudah selesai, selanjutnya tujuan kami adalah Pantai Tanjung Aan. Dari blog yang saya baca, Pantai Tanjung Aan ini sangat indah. Pantai dengan warna toska dan pasir putihnya membuat saya jatuh cinta pada pantai ini. Sebenarnya, pantai yang terkenal di Lombok adalah Pantai Kuta dan Pantai Pink. Namun sayang akses menuju ke Pantai Pink rusak parah sehingga tidak bisa dilewati mobil. Pantai Kuta terletak cukup dekat dengan Pantai Tanjung Aan. Dan saya memilih untuk berkunjung ke Pantai Tanjung Aan karena penasaran akan keindahan yang saya lihat dari foto.

Sesampainya di Pantai Tanjung Aan, saya langsung takjub dengan keindahan pantai ini. Bagaimana tidak, komposisi dari gradasi warna laut yang indah, pasir putih, pasir merica dengan bukit-bukit yang mengelilingi sungguh membuat pantai ini benar-benar sangat indah. Mungkin ini pantai terindah yang pernah saya liat. Beberapa wisatawan mancanegara sedang asik dengan kegiatan selancarnya, sementara wisatawan domestik asik mengabadikan moment-moment dengan foto atau hanya sebatas mengobrol dipinggir pantai. Saya pun tak lupa untuk mengambil foto di beberapa spot yang menurut saya paling bagus.

Setelah puas menikmati indahnya Pantai Tanjung Aan, saya pun diajak untuk makan makanan khas di Kabupaten Lombok Timur. Namanya adalah Nasi Balap. Warung makan yang cukup sederhana ini terletak di dekat lokasi Bandara Lombok. Nasi Balap ini konon katanya sudah terkenal hingga ke Eropa. Satu porsi Nasi Balap terdiri dari nasi putih, kering kacang, ayam suwir kering, ayam pelcingan dan kacang kedelai yang disajikan menggunakan daun pisang. Pengunjung bisa menambah ayam goreng jika dirasa masih kurang. Bagi pecinta pedas, Nasi Balap ini sangat wajib untuk dicoba karena sambel yang disajikan sangat pedas. 

Panti Tanjung Aan dengan gugusan karangnya




Nasi Balap
Setiap kali saya mengunjungi suatu tempat yang baru pernah saya kunjungi, saya selalu mencari tahu mengenai budaya setempat, tempat wisata, bahasa daerah, dan tak lupa mengenai kuliner khas di daerah tersebut. Kesemua hal tersebut hampir berbeda-beda di masing-masing daerah. Hal tersebutlah yang membuat rasa cinta terhadap Indonesia menjadi semakin meningkat. Bagaimana tidak, Indonesia itu sangat kaya akan ragam dan budaya di masing-masing daerah yang hanya bisa ditemui di negeri kita tercinta ini. Rasa nasionalisme saya menjadi semakin meningkat ketika saya mulai mengenal sosok Pandji Pragiwaksono. Pertama kali kenal dengan sosok ini adalah ketika Pandji menjadi host kuis yang memberikan pertanyaan kepada masyarakat tanpa membuat masyarakat tersebut tahu kalau sedang ikut suatu kuis. Tak berhenti sampai disitu, salah satu teman saya merekomendasikan untuk mencari video di youtube tentang stand up comedy yang dilakukan oleh Pandji di salah satu cafe di daerah Kemang. Dari situ, saya suka dengan materi-materi yang dibawakan oleh Pandji terutama saat menyinggung tentang kritik-kritik terhadap kondisi politik negeri ini. Saya pernah merasa pesimis akan kondisi bangsa ini akan banyaknya kasus korupsi dan berbagai masalah yang ada. Namun, setelah beberapa kali melihat Pandji, saya pun mulai optimis bahwa Indonesia masih punya harapan menjadi lebih baik. Saya juga mengenal Pandji dari tulisan di blog dia. Salah satu tulisan yang membuat saya merinding selama membacanya adalah tulisan mengenai Bapak Anies Baswedan. Dari situ, saya percaya masih banyak orang baik yang mendambakan Indonesia lebih baik. Salah satunya Bapak Anies Baswedan yang telah berhasil mengarahkan ribuan pemuda-pemudi terbaik bangsa untuk menjadi Pengajar Muda di SD yang terletak di pelosok-pelosok Indonesia. Karena menurut Pak Anies, pendidikan adalah ekskalator dalam bidang sosial ekonomi dan bisa membawa gelombang baru untuk Indonesia.

Semoga karya-karya Bang Pandji selanjutnya semakin sukses dan semakin bermanfaat untuk negeri yang kita cintai ini, Indonesia. Selamat berkarya bang!!


Sunday, September 15, 2013

Diving, I'm in love!! #2

Pagi ini saya bersama Mba Lasnita dan Mas Rifky sengaja bangun lebih pagi untuk jalan-jalan pagi di sepanjang pantai dan pastinya untuk menikmati sunrise. Sekitar pukul 05.15 WITA, kami keluar dari kamar dan mulai berjalan ke arah matahari terbit. Lucky us, the sun was rising. Actually, we were quite late to see it from the beginning. But it didn't matter, the sunrise was still awesome. Setelah puas mengabadikan sunrise, kami pun melanjutkan jalan-jalan pagi kami. Kami menyusuri pantai yang berada di kompleks resort tempat kami menginap. Setelah berjalan cukup jauh, kami pun memutuskan untuk kembali. Kali ini kami berjalan di pinggir pantai melewati pasir putih dan sambil bermain air. Ahhhhh,, I was so thankful to Alloh for this chance. Enjoying the fresh air and very beautiful scenery was a rare opportunity. Especially for people who live in Jakarta or another big city in Indonesia. So, we satisfied ourselves when we were here.

Breakfast timeeeee!!! Setelah capek berjalan-jalan pagi, kami pun menuju ke restoran resort untuk menikmati sarapan. Setelah sarapan, kami diajak ke sekretariat diving club di area resort untuk menandatangani semacam availability form yang berisi identitas diri kami dan asuransi yang menanggung kami. Rencana awal kami di Wakatobi adalah ingin ber-snorkling. Tapi tiba-tiba dive master yang akan menemani kami ber-snorkling malah menawari kami untuk diving. Woww,, saya pribadi sama sekali tidak terlintas untuk diving karena snorkling pun belum pernah. Ditambah saya masih belum kebayang untuk diving karena saya masih berfikir kalau diving itu butuh belajar dulu. Seorang diver pasti sudah menguasai teknik bagaimana bernafas di dalam air dengan oksigen dari tabung. Selain itu informasi yang saya dapat dari teman yang hobi diving adalah hanya orang yang bersertifikat diving lah yang dibolehkan untuk diving. Tapi ternyata tidak semua spot diving mensyaratkan sertifikat sebagai syarat untuk diving. Singkat cerita, akhirnya saya dan 6 orang yang tadinya akan ber-diving tiba-tiba berubah pikiran. Kami pun bersedia untuk diving karena kata dive master kami, kalau cuma snorkling kurang puas menikmati keindahan bawah laut Pulau Wangi-wangi ini.

Kami pun mencoba baju dan sepatu katak untuk diving. Yeeyyyy, We were ready for diving. Kami pun berangkat menuju lokasi diving. Sebenarnya tujuan awal kami adalah Pulau Huga. Namun, karena jarak tempuh yang cukup lama dengan menggunakan perahu mesin ditambah waktu kami yang tidak banyak, maka kami putuskan untuk ber-diving di sekitaran Pulau Wangi-wangi saja. Maybe next time, I will visit Pulau Huga.

Ternyata untuk sampai ke lokasi diving hanya dibutuhkan waktu sekitar 20 menit. Kapal mesin yang akan mengantar kami ke lokasi sudah siap di dermaga kecil di Pantai Sombu. Kapal pun berjalan menjauh dari dermaga. Kurang lebih 10 meter dari pantai, kapal pun berhenti. Sang dive master-saya lupa namanya-memberikan instruksi kepada 6 orang diantara kami untuk memakai baju diving. Karena kami semua belum mempunyai sertifikat diving, maka masing-masing dari kami harus didampingi oleh dive master pada saat diving. Dive master yang akan menemani hanya ada dua, jadi kami pun dibagi menjadi 3 kelompok yang masing-masing terdiri dari 2 orang. Saya dan Pak Nasrun mendapatkan kesempatan pertama untuk diving. Rasanya benar-benar takut bercampur penasaran. Saya takut karena belum bisa membayangkan bagaimana bernafas menggunakan mulut dengan oksigen dari tabung. Tapi saya sangat excited membayangkan apa yang akan saya lihat di dasar laut sana. Off course, it because this was my first time diving. ^^ 


Sebelum terjun langsung ke air, kami diberi penjelasan yang panjang mengenai bagaimana menggunakan alat-alat yang akan kami gunakan, kode-kode untuk berkomunikasi dengan dive master dan hal-hal yang boleh dan dilarang saat kami berada di dalam air. Saya benar-benar kesulitasn saat mencoba alat bernafas untuk diving. I almost gave up at that time. Even, my team leader almost persuaded me to cancel it. But, my interest and curiosity was bigger than my fear. So, I kept trying to breath using that tools. Ternyata, kesulitan untuk bernafas menggunakan alat tadi terjadi karena saya menggunakannya di atas air. Pada saat saya mencobanya di dalam air, saya hampir tidak merasakan kesulitan. Apalagi saat saya melihat ke arah terumbu karang di bawah laut sana, kesulitan dalam bernafas pun seperti hilang begitu saja. Saya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama dengan terumbu karang yang sangat indah itu. Subhanalloh, that was my first word to say when I saw coral reefs in the seabed.


Perlahan-lahan kami menambah kedalaman kami. Semakin dalam, dive master yang menemani saya memastikan saya baik-baik saja. Dia memastikan tekanan di telinga saya tidak ada gangguan. Sebelumnya, dive master menjelaskan bahwa semakin dalam kami diving, tekanan pada telinga kami pun akan semakin kuat. Jadi saat kami merasa telinga kami ada tekanan, kami pun harus melakukan cara yang telah diajarkan oleh dive master kami. Kalo mau diibaratkan bagaimana tekanan di dalam laut itu mungkin seperti tekanan saat kita naik pesawat atau berada ditempat yang tinggi. Mungkin tekanan pada telinga itu rasanya kurang lebih sama.

Well, lanjut lagi ke cerita diving saya. Semakin dalam saya semakin jatuh cinta dengan keindahan bawah laut di Pantai Sombu. Di sini saja terumbu karangnya sudah sebagus ini, apalagi di Pantai Huga dan Tomia. Sekilas saya berfikir seperti itu. Hal yang kurang disini adalah ikan-ikan dan biota lautnya kurang banyak dan beragam. Saya menemukan ikan-ikan kecil dan ular laut. Tak lupa saya mengabadikan mereka dalam kamera anti air yang kami sewa dari dive master kami. Suasana hening di bawah laut benar-benar membuat saya rileks. Sambil selalu memuji ciptaan Alloh, saya terus memandangi terumbu karang sebelum waktu untuk diving selesai. Tak lupa saya pun berfoto-foto bersama terumbu karang yang indah itu.

The time was up!! huaaaa,, ternyata sudah sekitar 30 menit kami menyelam. Benar-benar waktu yang singkat. Saya benar-benar menikmati pengalaman menyelam tadi sampai-sampai waktu kami sudah habis dan harus kembali ke permukaan dan bergantian dengan giliran selanjutnya. Well, I am definitely falling in love with diving. I can't wait for my second time. Hopefully, I have another chance for diving. But before that, perhaps I should have a diving license. ^^

Sesampainya di atas, saya benar-benar speechless. Saya masih tidak percaya apa yang saya lihat tadi benar-benar indah. I wanted mooooreeeeee!!!! ^^ Ketua tim saya yang tadi sempat khawatir pada saya pun menanyakan kondisi saya. Saya pun mencerikatan apa yang saya lihat dan saya rasa. You must try it, Mam!!

Next turn was Mba Nita dan Mas Rifki. Sambil menunggu giliran-giliran selanjutnya, saya pun bergabung dengan teman-teman yang snorkling. Tanpa pelampung, saya memberanikan diri terjun dari kapal. Saya lupa memakai kacamata renang jadi saya kesulitan untuk melihat keindahan bawah laut dengan mata telanjang. Saya pun ke pinggir kapal dan meminta teman saya mengambilkan kacamata renang yang masih tersisa. Dan yaaa,, sekarang saya bisa melihat dengan sangat jelas keindahan terumbu karang di dasar laut sana.

Hampir seharian kami berada di lokasi untuk snorkling dan diving. Makan siang kami juga kami lakukan di atas kapal dengan menu yang sudah kami pesan semalam. Well, diving sudah, snorkling sudah, makan siang sudah. Waktunya kembali ke resort. Sekitar pukul 16.00 WITA kami melabuhkan kapal kami ke dermaga kecil tempat kami berangkat. Mobil yang mengantar kami tadi sudah siap menjemput kami menuju resort. 
Yap, that was the end of our journey in Wakatobi. It was so priceless. So, for you who are interested in diving and snorkling, I suggest to you to visit Wakatobi. 

Keesokan harinya, kami pun harus kembali ke Kendari dan melanjutkan pekerjaan kami yang belum selesai. Untuk kembali ke Kedari, kami memilih menggunakan pesawat terbang untuk menyingkat waktu. Dari Bandara Matahora, Pulau Wangi-wangi, kami pun terbang menuju Bandara Haluoleo, Kendari. Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di Kendari dengan menggunakan pesawat. 

Finally, our holiday was over. Saya ingin menambahkan sedikit informasi mengenai cara untuk sampai di Wakatobi. Pertama, kamu bisa menggunakan pesawat menuju Kendari dan transit menuju Pulau Wangi-wangi. Kemudian, kamu juga bisa menggunakan pesawat dari Makassar-Baaubau-Wanci (ibukota Pulau Wangi-wangi). Jika ingin menggunakan kapal laut juga bisa. Dari Makassar, kamu bisa naik pesawat menuju Bau-bau dan melanjutkan perjalanan menggunakan kapal fery menuju Pulau Wangi-wangi. Untuk paket diving dan snorkling, kamu bisa pilih sesuai budget dan waktu yang kamu punya. Ada beberapa paket diving dan snorkling yang ditawarkan club-club diving di Wakatobi. Bahkan ada diving at night. Paket diving dan snorkling tersebut biasanya sudah termasuk makan siang dan akomodasi kapal. Pastikan semua sudah di rencanakan agar kamu bisa menikmati Wakatobi sepuas-puasnya.  Mungkin sekian cerita saya di Wakatobi. Hope u enjoy it. See yaa in another story....^^


-Gayuh-
17042013-18042013

Diving, I'm in love!! #1

Yeyyyy,,, kali ini saya mendapat penugasan ke Kendari, Sulawesi Tenggara tepatnya pada bulan April 2013. Seperti penugasan-penugasan sebelumnya, saya pun mencari tahu potensi pariwisata di daerah yang akan saya kunjungi ini. Peribahasa "Sambil Menyelam Minum Air" tampaknya sesuai untuk setiap perjalanan dinas saya karena selain menunaikan tugas di daerah tersebut, biasanya disempatkan pula untuk mengunjungi salah satu objek pariwisata di sana. Tentunya ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Pertama, pekerjaan telah selesai dengan cepat sehingga bisa dimanfaatkan untuk refreshing ke objek-objek wisata tersebut walaupun hanya satu hari. Kedua, objek pariwisata tersebut bisa dijangkau dengan mudah. Ketiga tergantung siapa ketua yang memimpin penugasan. Well, saya selalu berharap syarat dan ketentuan tersebut bisa dipenuhi ketika saya bertugas di luar daerah Jakarta.

Setelah tanya-tanya ke mbah google dan mengingat-ingat memori di otak, akhirnya muncullah Wakatobi di otak saya. Sebuah objek wisata yang mengandalkan keindahan bawah lautnya yang di klaim sebagai surganya para dive master. Saya sempat berharap bisa mengunjungi tempat ini pada saat pekerjaan bisa selesai lebih cepat. Dan ternyata Alloh mengizinkan saya dan tim untuk mampir walaupun hanya satu hari. Alhamdulillah.

Kesempatan ini sebenarnya sudah ditawarkan sejak pertama kali kami datang. Teman kantor kami di Kendari menawarkan untuk mampir ke Wakatobi karena ada paket pekerjaan yang harus kami lihat di Pulau Buton. Kata mereka tanggung kalau sudah sampe ke Buton tapi tidak mampir ke Wakatobi. Padahal kami harus menempuh empat jam perjalanan dari Pulau Buton ke Wakatobi dengan menggunakan kapal feri. Tapi karena kesempatan yang langka untuk ke Wakatobi, maka akhirnya kami setuju untuk mampir ke Wakatobi setelah pekerjaan di Pulau Buton selesai.


Hari Selasa tanggal 16 April 2013 pukul 12.00 WITA, kami berangkat ke Wakatobi dari Pelabuhan Murhum Kota Baubau di Pulau Buton. Ada sekitar 12 orang yang menemani kami ke Wakatobi. Salah satunya adalah Pak Bahrun, penduduk asli Wakatobi. Beliau-lah yang merekomendasi resort tempat kami menginap. Kami pun menginap di Patuna Resort yang berada di Pulau Wangi-wangi. Jadi Wakatobi adalah nama kepulauan yang terletak di sebelah tenggara Kota Kendari. Wakatobi sendiri singkatan dari Pulau WAngi-wangi, KAledupa, TOmia, dan BInongko. Selain 4 pulau besar ini, terdapat pula pulau-pulau kecil yang mengelilinginya. Semua pulau di Kepulauan Wakatobi mempunyai wisata bawah laut yang sangat indah. Namun kata Pak Bahrun, pulau yang menawarkan pemandangan bawah laut paling indah adalah Pulau Tomia. Sayangnya, pulau ini sudah dikelola oleh orang asing. Di Pulau Tomia, segala fasilitas sudah lengkap seperti resort-resort dan bandara untuk penerbangan langsung dari dan ke Bali. Satu lagi contoh lemahnya pemerintah dalam menjaga dan memajukan pariwisata yang kita miliki. Mendengar hal tersebut, saya merasa miris dan hanya bisa berdoa semoga tidak ada lagi objek-objek pariwisata yang dikelola oleh pihak asing.

Setelah hampir 4 jam berada di kapal feri, akhirnya kami sampai di Dermaga Mandati, Pulau Wangi-Wangi. Pulau ini merupakan gerbang menuju keindahan Wakatobi. Kami pun langsung menuju ke resort tempat kami menginap yaitu Patuna Resort. Perjalanan dari Dermaga Mandati menuju resort dapat ditempuh selama sekitar 30 menit. Sesampainya di resort, kami pun mengurus check-in dan pembagian kamar. Kesan pertama saya adalah I like the concept of the resort. Resort kami berada persis dipinggir pantai dengan konsep cottage berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Jadi nuansa pesisir pantai nya begitu berasa. It's so traditional. Cocok sekali untuk refreshing dan rehat dari kehidupan kota. Walaupun pantai yang berada di pinggir resort bukanlah pantai dengan pasir putih yang lembut, tapi pantai ini mempunyai keindahan tersendiri. Air lautnya masih jernih sehingga warna gradasi dari biru muda sampai biru tua masih terlihat. Tidak hanya itu, setiap pagi kami bisa menikmati sunrise dari depan kamar cottage kami. Subhanalloh, i can't ask for more. 

Setelah hampir sekitar 30 menit mengurus check-in dan pembagian kamar, akhirnya kami menuju ke kamar kami masing-masing. Saya dan Mba Lasnita berada dalam satu kamar dan kami pun bergantian membersihkan diri dan istirahat sejenak sebelum makan malam. Kamar kami membelakangi pantai. Tapi terdapat balkon yang menghadap pantai sehingga bisa kami gunakan untuk melihat pantai atau sunrise. 

Kasuami
Malam ini kami makan malam di restoran hotel. Dengan menu yang sudah dipesan sebelumnya, kami pun bersama-sama menikmati hidangan malam itu. Ada yang spesial pada makan malam kali ini yaitu ada menu makanan khas Wakatobi. Orang-orang menyebutnya "Kasuami". Namanya cukup unik untuk saya dan teman-teman saya. Ternyata bukan hanya namanya yang unik, tapi rasa nya juga unik. Kasuami sendiri terbuat dari singkong. Saya tidak begitu paham tentang cara pembuatannya, tapi bentuknya hampir sama seperti ketan putih dengan tekstur yang beda. Ada dua jenis Kasuami, yang pertama teksturnya kering dan yang kedua agak kenyal. Rasanya hampir mendekati hambar. Oleh karena itu, kami disarankan memakannya bersamaan dengan lauk. Mungkin Kasuami sendiri bisa mengganti fungsi nasi bagi masyarakat di sana. 

Makan malam pun selesai, beberapa diantara kami masih ada yang mengobrol. Saya bersama Mba Lasnita, Mas Rifky dan Pak Nasrun memilih balkon restoran yang berada persis di pinggir pantai untuk mengobrol. Setelah hampir berjam-jam mengobrol ditemani semilir angin pantai malam itu, akhirnya kami memilih untuk beristirahat karena besok akan jadi hari yang menyenangkan. ^^



to be continued....
-Gayuh-
16042013

Saturday, April 6, 2013

Ternate Bahari Berkesan #3

Masih ingatkah pelajaran sejarah SD/SMP yang bercerita mengenai kerajaan islam di Indonesia? Diantara kerajaan-kerajaan islam yang berjaya pada saat itu, pasti masih teringat tentang Kesultanan Ternate dan Tidore yang juga pernah mencapai masa kejayaannya. Dan kali ini, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Pulau Tidore untuk melaksanakan tugas sekaligus bisa mengunjungi beberapa situs sejarah setelah selesai melaksanakan pekerjaan saya.


Kunjungan sehari ke Pulau Tidore ini dalam rangka pengecekan beberapa aset fisik. Setelah selesai melaksanakan tugas, saya bersama ketua tim dan teman saya di ajak untuk berkeliling sejenak di pulau ini. Pulau yang bersebelahan dengan Pulau Ternate ini memiliki kondisi topografi yang mirip dengan Pulau Ternate. Keduanya memiliki gunung berapi yang masih aktif di tengah pulau. Pulau Ternate dengan Gunung Gamalama yang tingginya mencapai 1.715 mdpl dan Pulau Tidore dengan Gunung Kie Marubu yang tingginya mencapai 1730 mdpl. Suasana di Tidore lebih sepi dibandingkan dengan suasana di Ternate. Cocok untuk orang yang ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk dan kemacetan kota.


Karena Tidore mempunyai sejarah tentang jaman kerajaan, maka objek pertama yang kami kunjungi adalah Kesultanan Tidore. Kondisi bangunan masih kokoh berdiri dengan gaya melayu yang khas melekat pada bangunan istana tersebut. Berbeda sekali dengan bangunan istana di Keraton Yogyakarta. Namun sayang seribu sayang, istana Kesultanan Tidore ini tidak di lestarikan sebagai cagar budaya. Kabarnya, istana ini sudah tidak dihuni oleh keturunan Sultan Tidore karena mereka sudah bekerja di pulau lain. Kami pun hanya berfoto di depan Istana Tidore dan tidak bisa memasuki istana tersebut. Sumber lain mengatakan bahwa kami bisa memasuki istana dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada penjaga istana. Sehingga, penjaga istana dapat menemani pengunjung yang ingin memasuki istana. Karena kami tidak ada rencana mengunjungi istana ini, kami pun rela tidak bisa masuk dan melihat peninggalan sejarah kejayaan Kesultanan Tidore secara langsung.





Tujuan kami selanjutnya ke benteng peninggalan Portugis. Lokasi benteng ada di sebelah istana Kesultanan Tidore. Untuk sampai di benteng, kami harus mendaki berpuluh-puluh anak tangga. Namun, sebelum sampai tepat di benteng tersebut, kami sudah harus turun. Rombongan yang berada jauh di depan mengatakan bahwa anak tangga yang kami daki buntu. Tidak ada tangga terusan untuk sampai ke benteng. Kami pun hanya melihat benteng tersebut dari anak tangga tempat kami berdiri. Agak kecewa memang saat kami harus turun kembali tanpa bisa sampe ke benteng tersebut. Namun, kekecewaan kami bisa terhapuskan dengan melihat pemandangan laut yang indah dari ketinggian tempat kami berdiri. Ucapan subhanalloh pun terus terucap melihat pemandangan yang indah ini. Terima kasih ya Alloh....



 Wisata budaya dan wisata alam sudah, kini tinggal wisata kuliner. Kata orang Tidore, "belum afdol kalau belum mencoba durian Tidore". Perut kami pun langsung berbunyi tak sabar mencoba durian Tidore yang katanya lebih enak daripada durian Ternate. Tapi, sebelum menyantap durian, perut kami harus diisi terlebih dahulu. Kami pun diajak ke warung makan makanan khas Tidore yang pernah dikunjungi oleh Pak Bondan 'Maknyuss". Menu yang disajikan banyak sekali. Hampir semuanya makanan khas Tidore. Ada papeda yang terbuat dari sagu dan singkong yang bentuknya seperti lem dan ada ikan kuah kuning untuk menemani makan papeda. Kemudian ada gohu yang terbuat dari ikan cakalang mentah dicampur dengan bumbu-bumbu rempah. Ada amo yaitu makanan dari sukun yang direbus dengan santan. Ada juga pisang rebus dan ikan bakar. Dari semua makanan yang disajikan, yang paling saya sukai adalah amo. Rasa sukun rebus tersebut benar-benar enak. Kalau di kampung halaman saya, sukun biasanya digoreng untuk dijadikan keripik sukun. Rasa amo ini juga beda dengan sukun yang direbus oleh nenek saya. Walaopun lidah saya tidak cocok dengan makanan khas Tidore, tapi saya berhasil mencoba semua makanan yang disajikan.

Seletah selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Pulau Ternate. Di sepanjang perjalanan, durian-durian yang di jual oleh warga Tidore tak henti-hentinya memanggil kami. Sepertinya mereka sudah tak sabar untuk berpindah ke perut kami. Kami pun membeli beberapa buah untuk di makan di pinggir pantai sebelum kembali ke Pulau Tidore. Ditemani angin sepoi-sepoi, suara gemuruh ombak dan landscape Pulau Ternate, kami pun menyantap durian dengan lahapnya. Perpaduan yang sempurna menurut saya. Kapan lagi bisa menyantap durian di pinggir pantai dengan pemandangan yang indah.


Durian-durian yang dibeli sudah tinggal kulitnya saja. Kini, waktunya kami pulang ke hotel di Pulau Ternate. Kami naik speedboat selama kurang lebih 7 menit untuk sampai di Pulau Ternate.  Terima kasih untuk wisata budaya dan kuliner yang luar biasa di Pulau Tidore.


-Gayuh-
05032013