Pages

Friday, October 4, 2013

Tana Toraja : Negerinya Orang Mati yang Hidup

Persawahan di Toraja Utara yang masih hijau
Sebutan untuk Tana Toraja seperti yang ada pada judul di atas saya temukan ketika saya mencoba mencari tau tentang Tana Toraja dengan mengetik Toraja di google. Seketika banyak sekali artikel-artikel yang bercerita mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Tana Toraja seperti objek wisata, budaya, dan Bahasa Toraja. Kebetulan, pada bulan Mei akhir sampai Juni awal, saya ditugaskan ke Makassar selama 14 hari. Selama 2 hari 1 malam, tepatnya tanggal 1 dan 2 Juni 2013, saya berkunjung ke Tana Toraja karena ada pekerjaan lapangan yang harus diselesaikan di sana. Saya berangkat bersama ketua tim, rekan tim dan beberapa rekan kerja di Makassar. Kami berangkat dari Kab. Palopo tanggal 1 Juni 2013 pukul 07.00 WITA. Kami melalui perbukitan dengan jalan yang menanjak dan berkelok-kelok. Sepanjang jalan, mata kami disuguhi pemandangan yang indah. Hijaunya pepohonan dan birunya langit sepanjang jalan membuat kami menikmati perjalanan ini. Saat mobil sudah memasuki wilayah Toraja, kami disambut dengan rumah-rumah adat Toraja di kanan kiri kami sepanjang jalan yang menandakan bahwa adat dan budaya di sini masih sangat kental. Saya pribadi selalu excited kalau ditugaskan ke suatu daerah yang mempunyai adat dan budaya yang unik. Selain bekerja, saya juga bisa melihat secara langsung adat dan budaya yang melekat di daerah tersebut.

Batu tempat penyimpanan mayat Suku Toraja
Well, sekitar pukul 11.30 WITA, kami sampai di pusat kota Tana Toraja. Kami langsung menuju hotel untuk check-in dan menaruh barang-barang kami sebelum kami melanjutkan perjalanan ke lokasi pekerjaan. Setelah sholat dan menaruh barang-barang, kami pun melanjutkan makan siang dan langsung menuju ke Toraja Utara untuk melihat proyek pekerjaan Pembangunan Embung Sungai Minangka Toraja Utara. Medan yang kami lalui ternyata cukup sulit. Saat kami sudah memasuki Toraja Utara, jalan sudah tidak beraspal lagi digantikan dengan jalan menanjak berbatu dan jalan tanah berlumpur di beberapa titik. Karena mobil yang kami naiki tidak bisa menanjak dan melewati jalan menanjak berbatu, akhirnya kami pindah ke mobil type 4WD (kalo tidak salah ingat^^). Walaupun jalan yang kami lalui sangat sulit, tapi kami terhibur oleh pemandangan hamparan sawah hijau bertingkat dengan rumah adat dan batu-batu besar tempat penyimpanan mayat-mayat suku Toraja. Untuk hal yang terakhir memang cukup membuat merinding. Tapi desa ini benar-benar masih terasa sangat tradisional. Saya bisa melihat langsung desa adat Toraja dengan budaya nya yang masih kental.

Jalan berlumpur menyebabkan ban mobil selip
Akhirnya setelah melalui jalan yang lebih cocok untuk jalur off-road cukup lama, kami tiba di lokasi proyek sekitar pukul 15.00 WITA. Hujan pun tiba-tiba mengguyur membuat mobil kami semakin susah untuk mencapai lokasi proyek karena jalan yang harus kami lalui menjadi becek dan kalau tidak hati-hati ban bisa selip. Tapi untunglah kami bisa sampai ke lokasi dengan selamat. Kami turun ke pinggir sungai dengan didampingi oleh beberapa pengawas lapangan. Kami pun tak lama singgah di sini karena hujan semakin deras. Hanya mengambil beberapa foto item pekerjaan yang sudah bisa terlihat. Saat perjalanan pulang, mobil yang kami naiki selip di tikungan tajam menanjak karena jalan tanah menjadi sangat becek. Saya turun dari mobil untuk mengambil gambar dan merekam para bekerja dan beberapa warga saat membantu mendorong mobil kami sampai ke atas di jalan yang sedikit kering.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.04 WITA. Langit sudah mulai gelap karena hujan dan kami masih berada di desa yang sangat jauh dari pusat kota. Seketika I felt that I had traveled so far away from my home. Bukan sedih yang saya rasakan, tapi lebih ke grateful karena kesempatan yang diberikan Alloh SWT sehingga saya bisa sampai ke desa terpencil ini. Apa maksudnya? Maksudnya adalah ini akan menjadi pengalaman saya secara langsung pernah mengunjungi suatu desa terpencil di Toraja Utara dengan hamparan sawah yang indah dan simbol adat budaya yang masih kental. 

Setelah berjam-jam melewati jalan menurun berbatu dan berlumpur, ditambah dengan gelapnya malam tanpa lampu jalan di kanan kiri kami, akhirnya kami sampai di pusat kota Tana Toraja. Kami pun langsung mencari warung makan untuk makan malam kami. Kami tiba di hotel sekitar pukul 09.10 WITA dan bergegas membersihkan diri dan tidur karena besok acaranya adalaaaaahhhhhh holidayyyyy!!!^^

seyaaa in the next chapter....

-Gayuh-
01-02062013

Sunday, September 15, 2013

Diving, I'm in love!! #2

Pagi ini saya bersama Mba Lasnita dan Mas Rifky sengaja bangun lebih pagi untuk jalan-jalan pagi di sepanjang pantai dan pastinya untuk menikmati sunrise. Sekitar pukul 05.15 WITA, kami keluar dari kamar dan mulai berjalan ke arah matahari terbit. Lucky us, the sun was rising. Actually, we were quite late to see it from the beginning. But it didn't matter, the sunrise was still awesome. Setelah puas mengabadikan sunrise, kami pun melanjutkan jalan-jalan pagi kami. Kami menyusuri pantai yang berada di kompleks resort tempat kami menginap. Setelah berjalan cukup jauh, kami pun memutuskan untuk kembali. Kali ini kami berjalan di pinggir pantai melewati pasir putih dan sambil bermain air. Ahhhhh,, I was so thankful to Alloh for this chance. Enjoying the fresh air and very beautiful scenery was a rare opportunity. Especially for people who live in Jakarta or another big city in Indonesia. So, we satisfied ourselves when we were here.

Breakfast timeeeee!!! Setelah capek berjalan-jalan pagi, kami pun menuju ke restoran resort untuk menikmati sarapan. Setelah sarapan, kami diajak ke sekretariat diving club di area resort untuk menandatangani semacam availability form yang berisi identitas diri kami dan asuransi yang menanggung kami. Rencana awal kami di Wakatobi adalah ingin ber-snorkling. Tapi tiba-tiba dive master yang akan menemani kami ber-snorkling malah menawari kami untuk diving. Woww,, saya pribadi sama sekali tidak terlintas untuk diving karena snorkling pun belum pernah. Ditambah saya masih belum kebayang untuk diving karena saya masih berfikir kalau diving itu butuh belajar dulu. Seorang diver pasti sudah menguasai teknik bagaimana bernafas di dalam air dengan oksigen dari tabung. Selain itu informasi yang saya dapat dari teman yang hobi diving adalah hanya orang yang bersertifikat diving lah yang dibolehkan untuk diving. Tapi ternyata tidak semua spot diving mensyaratkan sertifikat sebagai syarat untuk diving. Singkat cerita, akhirnya saya dan 6 orang yang tadinya akan ber-diving tiba-tiba berubah pikiran. Kami pun bersedia untuk diving karena kata dive master kami, kalau cuma snorkling kurang puas menikmati keindahan bawah laut Pulau Wangi-wangi ini.

Kami pun mencoba baju dan sepatu katak untuk diving. Yeeyyyy, We were ready for diving. Kami pun berangkat menuju lokasi diving. Sebenarnya tujuan awal kami adalah Pulau Huga. Namun, karena jarak tempuh yang cukup lama dengan menggunakan perahu mesin ditambah waktu kami yang tidak banyak, maka kami putuskan untuk ber-diving di sekitaran Pulau Wangi-wangi saja. Maybe next time, I will visit Pulau Huga.

Ternyata untuk sampai ke lokasi diving hanya dibutuhkan waktu sekitar 20 menit. Kapal mesin yang akan mengantar kami ke lokasi sudah siap di dermaga kecil di Pantai Sombu. Kapal pun berjalan menjauh dari dermaga. Kurang lebih 10 meter dari pantai, kapal pun berhenti. Sang dive master-saya lupa namanya-memberikan instruksi kepada 6 orang diantara kami untuk memakai baju diving. Karena kami semua belum mempunyai sertifikat diving, maka masing-masing dari kami harus didampingi oleh dive master pada saat diving. Dive master yang akan menemani hanya ada dua, jadi kami pun dibagi menjadi 3 kelompok yang masing-masing terdiri dari 2 orang. Saya dan Pak Nasrun mendapatkan kesempatan pertama untuk diving. Rasanya benar-benar takut bercampur penasaran. Saya takut karena belum bisa membayangkan bagaimana bernafas menggunakan mulut dengan oksigen dari tabung. Tapi saya sangat excited membayangkan apa yang akan saya lihat di dasar laut sana. Off course, it because this was my first time diving. ^^ 


Sebelum terjun langsung ke air, kami diberi penjelasan yang panjang mengenai bagaimana menggunakan alat-alat yang akan kami gunakan, kode-kode untuk berkomunikasi dengan dive master dan hal-hal yang boleh dan dilarang saat kami berada di dalam air. Saya benar-benar kesulitasn saat mencoba alat bernafas untuk diving. I almost gave up at that time. Even, my team leader almost persuaded me to cancel it. But, my interest and curiosity was bigger than my fear. So, I kept trying to breath using that tools. Ternyata, kesulitan untuk bernafas menggunakan alat tadi terjadi karena saya menggunakannya di atas air. Pada saat saya mencobanya di dalam air, saya hampir tidak merasakan kesulitan. Apalagi saat saya melihat ke arah terumbu karang di bawah laut sana, kesulitan dalam bernafas pun seperti hilang begitu saja. Saya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama dengan terumbu karang yang sangat indah itu. Subhanalloh, that was my first word to say when I saw coral reefs in the seabed.


Perlahan-lahan kami menambah kedalaman kami. Semakin dalam, dive master yang menemani saya memastikan saya baik-baik saja. Dia memastikan tekanan di telinga saya tidak ada gangguan. Sebelumnya, dive master menjelaskan bahwa semakin dalam kami diving, tekanan pada telinga kami pun akan semakin kuat. Jadi saat kami merasa telinga kami ada tekanan, kami pun harus melakukan cara yang telah diajarkan oleh dive master kami. Kalo mau diibaratkan bagaimana tekanan di dalam laut itu mungkin seperti tekanan saat kita naik pesawat atau berada ditempat yang tinggi. Mungkin tekanan pada telinga itu rasanya kurang lebih sama.

Well, lanjut lagi ke cerita diving saya. Semakin dalam saya semakin jatuh cinta dengan keindahan bawah laut di Pantai Sombu. Di sini saja terumbu karangnya sudah sebagus ini, apalagi di Pantai Huga dan Tomia. Sekilas saya berfikir seperti itu. Hal yang kurang disini adalah ikan-ikan dan biota lautnya kurang banyak dan beragam. Saya menemukan ikan-ikan kecil dan ular laut. Tak lupa saya mengabadikan mereka dalam kamera anti air yang kami sewa dari dive master kami. Suasana hening di bawah laut benar-benar membuat saya rileks. Sambil selalu memuji ciptaan Alloh, saya terus memandangi terumbu karang sebelum waktu untuk diving selesai. Tak lupa saya pun berfoto-foto bersama terumbu karang yang indah itu.

The time was up!! huaaaa,, ternyata sudah sekitar 30 menit kami menyelam. Benar-benar waktu yang singkat. Saya benar-benar menikmati pengalaman menyelam tadi sampai-sampai waktu kami sudah habis dan harus kembali ke permukaan dan bergantian dengan giliran selanjutnya. Well, I am definitely falling in love with diving. I can't wait for my second time. Hopefully, I have another chance for diving. But before that, perhaps I should have a diving license. ^^

Sesampainya di atas, saya benar-benar speechless. Saya masih tidak percaya apa yang saya lihat tadi benar-benar indah. I wanted mooooreeeeee!!!! ^^ Ketua tim saya yang tadi sempat khawatir pada saya pun menanyakan kondisi saya. Saya pun mencerikatan apa yang saya lihat dan saya rasa. You must try it, Mam!!

Next turn was Mba Nita dan Mas Rifki. Sambil menunggu giliran-giliran selanjutnya, saya pun bergabung dengan teman-teman yang snorkling. Tanpa pelampung, saya memberanikan diri terjun dari kapal. Saya lupa memakai kacamata renang jadi saya kesulitan untuk melihat keindahan bawah laut dengan mata telanjang. Saya pun ke pinggir kapal dan meminta teman saya mengambilkan kacamata renang yang masih tersisa. Dan yaaa,, sekarang saya bisa melihat dengan sangat jelas keindahan terumbu karang di dasar laut sana.

Hampir seharian kami berada di lokasi untuk snorkling dan diving. Makan siang kami juga kami lakukan di atas kapal dengan menu yang sudah kami pesan semalam. Well, diving sudah, snorkling sudah, makan siang sudah. Waktunya kembali ke resort. Sekitar pukul 16.00 WITA kami melabuhkan kapal kami ke dermaga kecil tempat kami berangkat. Mobil yang mengantar kami tadi sudah siap menjemput kami menuju resort. 
Yap, that was the end of our journey in Wakatobi. It was so priceless. So, for you who are interested in diving and snorkling, I suggest to you to visit Wakatobi. 

Keesokan harinya, kami pun harus kembali ke Kendari dan melanjutkan pekerjaan kami yang belum selesai. Untuk kembali ke Kedari, kami memilih menggunakan pesawat terbang untuk menyingkat waktu. Dari Bandara Matahora, Pulau Wangi-wangi, kami pun terbang menuju Bandara Haluoleo, Kendari. Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di Kendari dengan menggunakan pesawat. 

Finally, our holiday was over. Saya ingin menambahkan sedikit informasi mengenai cara untuk sampai di Wakatobi. Pertama, kamu bisa menggunakan pesawat menuju Kendari dan transit menuju Pulau Wangi-wangi. Kemudian, kamu juga bisa menggunakan pesawat dari Makassar-Baaubau-Wanci (ibukota Pulau Wangi-wangi). Jika ingin menggunakan kapal laut juga bisa. Dari Makassar, kamu bisa naik pesawat menuju Bau-bau dan melanjutkan perjalanan menggunakan kapal fery menuju Pulau Wangi-wangi. Untuk paket diving dan snorkling, kamu bisa pilih sesuai budget dan waktu yang kamu punya. Ada beberapa paket diving dan snorkling yang ditawarkan club-club diving di Wakatobi. Bahkan ada diving at night. Paket diving dan snorkling tersebut biasanya sudah termasuk makan siang dan akomodasi kapal. Pastikan semua sudah di rencanakan agar kamu bisa menikmati Wakatobi sepuas-puasnya.  Mungkin sekian cerita saya di Wakatobi. Hope u enjoy it. See yaa in another story....^^


-Gayuh-
17042013-18042013

Diving, I'm in love!! #1

Yeyyyy,,, kali ini saya mendapat penugasan ke Kendari, Sulawesi Tenggara tepatnya pada bulan April 2013. Seperti penugasan-penugasan sebelumnya, saya pun mencari tahu potensi pariwisata di daerah yang akan saya kunjungi ini. Peribahasa "Sambil Menyelam Minum Air" tampaknya sesuai untuk setiap perjalanan dinas saya karena selain menunaikan tugas di daerah tersebut, biasanya disempatkan pula untuk mengunjungi salah satu objek pariwisata di sana. Tentunya ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Pertama, pekerjaan telah selesai dengan cepat sehingga bisa dimanfaatkan untuk refreshing ke objek-objek wisata tersebut walaupun hanya satu hari. Kedua, objek pariwisata tersebut bisa dijangkau dengan mudah. Ketiga tergantung siapa ketua yang memimpin penugasan. Well, saya selalu berharap syarat dan ketentuan tersebut bisa dipenuhi ketika saya bertugas di luar daerah Jakarta.

Setelah tanya-tanya ke mbah google dan mengingat-ingat memori di otak, akhirnya muncullah Wakatobi di otak saya. Sebuah objek wisata yang mengandalkan keindahan bawah lautnya yang di klaim sebagai surganya para dive master. Saya sempat berharap bisa mengunjungi tempat ini pada saat pekerjaan bisa selesai lebih cepat. Dan ternyata Alloh mengizinkan saya dan tim untuk mampir walaupun hanya satu hari. Alhamdulillah.

Kesempatan ini sebenarnya sudah ditawarkan sejak pertama kali kami datang. Teman kantor kami di Kendari menawarkan untuk mampir ke Wakatobi karena ada paket pekerjaan yang harus kami lihat di Pulau Buton. Kata mereka tanggung kalau sudah sampe ke Buton tapi tidak mampir ke Wakatobi. Padahal kami harus menempuh empat jam perjalanan dari Pulau Buton ke Wakatobi dengan menggunakan kapal feri. Tapi karena kesempatan yang langka untuk ke Wakatobi, maka akhirnya kami setuju untuk mampir ke Wakatobi setelah pekerjaan di Pulau Buton selesai.


Hari Selasa tanggal 16 April 2013 pukul 12.00 WITA, kami berangkat ke Wakatobi dari Pelabuhan Murhum Kota Baubau di Pulau Buton. Ada sekitar 12 orang yang menemani kami ke Wakatobi. Salah satunya adalah Pak Bahrun, penduduk asli Wakatobi. Beliau-lah yang merekomendasi resort tempat kami menginap. Kami pun menginap di Patuna Resort yang berada di Pulau Wangi-wangi. Jadi Wakatobi adalah nama kepulauan yang terletak di sebelah tenggara Kota Kendari. Wakatobi sendiri singkatan dari Pulau WAngi-wangi, KAledupa, TOmia, dan BInongko. Selain 4 pulau besar ini, terdapat pula pulau-pulau kecil yang mengelilinginya. Semua pulau di Kepulauan Wakatobi mempunyai wisata bawah laut yang sangat indah. Namun kata Pak Bahrun, pulau yang menawarkan pemandangan bawah laut paling indah adalah Pulau Tomia. Sayangnya, pulau ini sudah dikelola oleh orang asing. Di Pulau Tomia, segala fasilitas sudah lengkap seperti resort-resort dan bandara untuk penerbangan langsung dari dan ke Bali. Satu lagi contoh lemahnya pemerintah dalam menjaga dan memajukan pariwisata yang kita miliki. Mendengar hal tersebut, saya merasa miris dan hanya bisa berdoa semoga tidak ada lagi objek-objek pariwisata yang dikelola oleh pihak asing.

Setelah hampir 4 jam berada di kapal feri, akhirnya kami sampai di Dermaga Mandati, Pulau Wangi-Wangi. Pulau ini merupakan gerbang menuju keindahan Wakatobi. Kami pun langsung menuju ke resort tempat kami menginap yaitu Patuna Resort. Perjalanan dari Dermaga Mandati menuju resort dapat ditempuh selama sekitar 30 menit. Sesampainya di resort, kami pun mengurus check-in dan pembagian kamar. Kesan pertama saya adalah I like the concept of the resort. Resort kami berada persis dipinggir pantai dengan konsep cottage berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Jadi nuansa pesisir pantai nya begitu berasa. It's so traditional. Cocok sekali untuk refreshing dan rehat dari kehidupan kota. Walaupun pantai yang berada di pinggir resort bukanlah pantai dengan pasir putih yang lembut, tapi pantai ini mempunyai keindahan tersendiri. Air lautnya masih jernih sehingga warna gradasi dari biru muda sampai biru tua masih terlihat. Tidak hanya itu, setiap pagi kami bisa menikmati sunrise dari depan kamar cottage kami. Subhanalloh, i can't ask for more. 

Setelah hampir sekitar 30 menit mengurus check-in dan pembagian kamar, akhirnya kami menuju ke kamar kami masing-masing. Saya dan Mba Lasnita berada dalam satu kamar dan kami pun bergantian membersihkan diri dan istirahat sejenak sebelum makan malam. Kamar kami membelakangi pantai. Tapi terdapat balkon yang menghadap pantai sehingga bisa kami gunakan untuk melihat pantai atau sunrise. 

Kasuami
Malam ini kami makan malam di restoran hotel. Dengan menu yang sudah dipesan sebelumnya, kami pun bersama-sama menikmati hidangan malam itu. Ada yang spesial pada makan malam kali ini yaitu ada menu makanan khas Wakatobi. Orang-orang menyebutnya "Kasuami". Namanya cukup unik untuk saya dan teman-teman saya. Ternyata bukan hanya namanya yang unik, tapi rasa nya juga unik. Kasuami sendiri terbuat dari singkong. Saya tidak begitu paham tentang cara pembuatannya, tapi bentuknya hampir sama seperti ketan putih dengan tekstur yang beda. Ada dua jenis Kasuami, yang pertama teksturnya kering dan yang kedua agak kenyal. Rasanya hampir mendekati hambar. Oleh karena itu, kami disarankan memakannya bersamaan dengan lauk. Mungkin Kasuami sendiri bisa mengganti fungsi nasi bagi masyarakat di sana. 

Makan malam pun selesai, beberapa diantara kami masih ada yang mengobrol. Saya bersama Mba Lasnita, Mas Rifky dan Pak Nasrun memilih balkon restoran yang berada persis di pinggir pantai untuk mengobrol. Setelah hampir berjam-jam mengobrol ditemani semilir angin pantai malam itu, akhirnya kami memilih untuk beristirahat karena besok akan jadi hari yang menyenangkan. ^^



to be continued....
-Gayuh-
16042013

Monday, June 17, 2013

Bukittinggi Koto Rang Agam

Well, setelah ganti baju dan menunaikan ibadah shoat Dhuhur, saya dan rombongan pun bergegas menuju ke Bukittinggi. Kami membawa dua mobil yang masing-masing mobil berisi lima orang. Kami pun membeli cemilan dan air mineral untuk bekal kami selama diperjalanan karena untuk mencapai Bukittinggi, dibutuhkan waktu kurang lebih 4-5 jam. Walaupun menempuh medan yang lumayan sulit-jalan berkelak-kelok dan hujan-tapi kami tetap menikmati perjalanan karena kami juga disuguhi pemandangan yang indah. Di tengah perjalanan, kami melihat Air Terjun Lembah Anai yang terletak di tepi Jalan Raya Padang-Bukittinggi yang kami lalui. Jadi setiap pengendara tidak harus berhenti untuk melihat langsung air terjun yang tingginya kurang lebih 60 meter. Namun, jika ingin rehat sejenak untuk melepas lelah juga bisa. Pengelola menyediakan lahan parkir, beberapa toko dan warung didekat lokasi air terjun. Karena letaknya yang sangat dekat dengan jalan, maka kadang terjadi kemacetan jika banyak pengendara yang berhenti dan berkunjung ke obek wisata tersebut. Kami pun memutuskan untuk hanya sekedar lewat dan menikmati ciptaan Alloh SWT tersebut dari dalam mobil. Kami merencanakan untuk mampir dan berfoto di air terjun ini saat perjalanan pulang ke Padang.

Sesampainya kami di Padang Pariaman, kami mampir untuk mengisi perut di warung sate padang yang sangat terkenal yaitu Sate Padang Mak Syukur. Sebenarnya perut masih agak kenyang karena makan siang di reseprinya Uda. Tapi mumpung disini, kami pun mencicipi sate padang ini. Setelah memesan, kami pun mencari tempat duduk. Suasana warung memang sangat ramai karena banyak pengunjung yang datang. Akhirnya kami pun memilih tempat duduk di lantai 2. Tak berapa lama, pesanan kami datang. Kami pun langsung menyantap hidangan di depan kami. Setelah selesai makan, saya pun menyadari kenapa warung ini begitu terkenal dan ramai. Rasa yang ditawarkan sate padang Mak Syukur memang benar-benar enak. Bahkan lebih enak dari yang saya makan sebelumnya. Saya tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa enaknya sate ini, tapi saya berkesimpulan bahwa makanan tradisional apapun memang jauh lebih enak kalau dibeli dan dimakan ditempat makanan tersebut berasal.

Setelah kenyang melahap sate padang Mak Syukur, kami melanjutkan perkalanan menuju Bukittinggi. Hujan pun semakin deras turun. Sekitar pukul 17.00 WIB kami sampai di Kota Bukittinggi. Kotanya cukup kecil tapi ramai. Suasananya sangat sejuk dikarenakan letaknya yang di atas bukit-bukit. Mungkin itulah kenapa kota ini disebut dengan Bukittinggi yaitu kota di atas bukit yang tingi  (ini analisis saya.hehe). Kami berbegas mencari hotel untuk menginap selama satu malam. Akhirnya kami dapat dua kamar di Hotel Royal Denai. Saya, Devi, Nadya, dan Meta menempati satu kamar dan kamar yang satunya ditempati oleh Rio, Indra, Mery, dan Mamet. Kami pun bergegas untuk mandi dan istirahat sejenak sebelum memulai menjelajahi Kota Bukittinggi.

Tujuan pertama kami pastinya Jam Gadang yang merupakan icon Kota Bukittinggi. Ternyata lokasi jam tersebut lumayan dekat dengan hotel kami. Tidak sampe setengah jam, kami pun sampai di lokasi. Setelah memarkir mobil, kami berjalan menuju bangunan tinggi megah gaya kolonial Belanda dengan 4 jam di puncak bangunan ini. Yup, here it was Jam Gadang. Suasana malam ini tampak ramai oleh pengunjung. Mungkin karena bertepatan dengan malam Minggu jadi banyak warga sekitar yang menghabiskan malam minggunya di sini bersama orang terkasih dan keluarganya. Kami pun langsung mencari spot yang pas untuk berfoto. Setelah puas berfoto di salah satu sisi Jam Gadang, kami berjalan-jalan untuk melihat sisi yang lainnya. Sebenarnya, pengunjung diperbolehkan untuk memasuki bangunan ini dan naik ke atas. Tapi berhubung antrian di loket sangat ramai, maka kami mengurungkan niat untuk masuk dan naik ke atas bangunan. Disekitar lokasi banyak dipenuhi oleh pedagang-pedangan diantaranya pedagang makanan, suvenir dan kaos-kaos bertuliskan Bukittinggi. Naluri untuk belanja sebenarnya sudah mulai memuncak, tapi harus ditekan dulu karena besok masih ada sesi khusus untuk berbelanja di Pasar Bukittinggi.

Setelah puas berkeliling, berfoto dan bahkan membaca sejarah mengenai Jam Gadang, kami akhirnya memutuskan untuk mencari sesuatu yang mengenyangkan. Kami bergegas menuju ke tempat dimana mobil kami diparkir. Namun sebelumnya, kami berfoto dulu di depan Istana Bung Hatta Bukittinggi yang terletak di dekat lokasi Jam Gadang ini. Acara selanjutnya adalah mencari makan karena perut kami sudah mulai memanggil-manggil untuk diisi. Kami pun makan di warung tenda dengan menu mie rebus dan nasi goreng.
Saya malah memilih untuk membeli martabak telor mesir karena tidak ada menu yang sesuai dengan selera saya. Selesai makan, kami kembali ke hotel dan istirahat karena besok masih ada jadwal belanja dan harus kembali ke Padang untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta. 



-Gayuh-
30032013

Monday, May 20, 2013

Salamaik Manampuah Hiduik Baru...

Sabtu pagi tanggal 30 Maret 2013, kami bersiap-siap untuk menghadiri resepsi pernikahan Uda Adit dan Uni Ira di kediaman Uda Adit. Sekitar pukul 10.00 WIB, kami berdelapan sampai di rumah Uda. Kami langsung ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada pengantin dan berfoto bersama. Di sini kami juga bertemu rombongan lain dari kantor kami.

Ini merupakan pengalaman pertama saya datang di resepsi dengan adat Minang. Pastinya terdapat banyak perbedaan antara pernikahan adat Minang dengan adat Jawa. Pertama dari baju pengantin, adat Minang lebih didominasi oleh warna merah dan emas. Tidak hanya baju pengantinnya saja, tapi hampir seluruh dekorasi di pelaminan didominasi oleh warna merah dan emas. Tempat pelaminannya pun unik menurut saya. Jadi pelaminannya berada di dalam rumah, mungkin di ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruangan berwarna merah dan emas ditambah dengan aksesoris khas Minang. Kedua mempelai tidak di temani oleh kedua orang tua di samping kanan dan kiri. Orang tua mereka berada di luar menyambut tamu-tamu yang baru datang. Berdasarkan cerita dari Uda, adat Minang di resepsi kali ini kurang terlihat karena resepsi ini berada di rumah mempelai laki-laki. Seharusnya kami harus datang pada saat resepsi di tempat mempelai wanita jika ingin melihat pernikahan dengan adat Minang. 

Setelah puas berfoto-foto, kami pun menikmati hidangan yang sudah disediakan. Karena ini pernikahan orang Padang, maka tak heran jika menu yang disajikan pun hampir seperti di warung padang. Ada rendang, sate padang, dan beberapa makanan khas lainnya yang saya tidak ingat namanya. Walaupun menu hidangannya seperti di warung makan padang, namun rasa makanan tersebut pastinya berbeda dengan makanan warung padang yang ada di Jawa. Saya yang tidak terlalu menyukai makanan padang, baru pertama kali ini merasakan makanan padang itu enak. Saat saya makan sate padang di Jakarta, saya pun tidak menyukai makanan ini. Namun, tiba-tiba saya suka dengan sate padang. Rasanya benar-benar beda dengan sate padang yang ada di Jakarta. Mungkin karena saya makan di tempat dimana makanan-makanan tersebut berasal, jadi rasa makanan padangnya pun original dan lebih enak. Sama seperti saya makan mendoan di Jakarta dan di Purwokerto. Pastinya mendoan di Purwokerto-lah yang lebih enak karena ada di daerah asalnya. 

Setelah kenyang menyantap hidangan yang disediakan, kami pun pamit karena akan melanjutkan perjalanan kami ke Bukittinggi. Kami mengantar Pak Dino ke hotel dan sekaligus berganti baju dan menunaikan sholat dhuhur di sana. Oke then, Bukittinggi, we were comiiingggggggggggg..........



-to be continued-

Gayuh
30032013


Wednesday, May 15, 2013

Salamaik Datang di Kota Bengkuang....

Tanggal 29-31 Maret 2013 adalah long weekend pertama saya yang tidak saya gunakan untuk pulang kampung. Saya dan beberapa teman kantor saya secara khusus merencanakan pergi ke Kota Padang untuk menghadiri resepsi pernikahan Uda Adit dan Uni Ira. Ada sekitar 8 orang yang ikut ke Padang tapi dengan jadwal keberangkatan yang berbeda-beda. Tiga orang berangkat lebih awal pada hari Kamis malam tanggal 28 Maret 2013. Tiga orang selanjutnya termasuk saya berangkat pada Jumat pagi tanggl 29 Maret 2013 dan dua orang lagi berangkat pada Jumat sorenya. Kami bertujuh menginap di Hotel Aliga sedangkan senior kami, Pak Dino, menginap di Hotel Mercure. 

Acara resepsi Uda diadakan pada hari Sabtu siang tanggal 30 Maret 2013. Namun, Jumat malam kami berdelapan pergi ke rumah Uda untuk berkunjung dan bersilaturahmi. Setibanya di rumah Uda, kami disambut dengan pertunjukkan musik organ tunggal. Setelah beramah tamah dengan istri, orang tua dan saudara-saudara Uda, kami pun diajak untuk ikut permainan Pantun dan Lagu. Awalnya kami belum paham tentang mekanisme permainannya. Jadi kami diberi kertas lima lembar dengan warna yang berbeda. Masing-masing kertas terdapat kotak-kotak yang telah diisi dengan angka yang tersusun secara acak. Kemudian, yang harus kami lakukan adalah mendengarkan orang menyanyi. Penyanyi tersebut akan mengambil angka secara acak di dalam sebuah gelas besar. Saat penyanyi tersebut sudah mendapatkan satu angka, kemudian dia akan membuat lagu yang sedang dinyanyikan tersebut menjadi sebuah pantun yang pada akhir pantun akan menyebutkan angka yang terambil tadi. Kami harus mendengarkan secara seksama angka berapa yang disebutkan karena penyanyi tersebut memakai bahasa minang. Setelah mendengar angka berapa yang disebutkan, kami harus memberi tanda silang apabila angka yang disebutkan tadi ada di kertas kami. Soalnya komposisi angka di kertas kami berbeda satu sama lain. Jika dalam satu kertas tersebut bisa memberi silang pada lima angka dan membentuk garis horizontal, maka orang tersebut langsung tunjuk tangan dan langsung menuntukkan kertas tersebut ke penyanyi untuk dicek. Kalau benar, maka orang tersebut berhak memilih hadiah yang telah disediakan. Berikut kertas yang digunakan dalam permainan ini:

Dipanggung ada layar untuk memonitor angka-angka
Jika ada satu orang yang berhasil membentuk garis horizontal dari angka yang disilang tadi, maka permainan dilanjutkan kembali sampai ada yang berhasil membentuk garis horizontal tersebut sampai tiga baris berturut-turut. Kemudian kami lanjutkan ke kertas dengan warna selajutnya. 



Sayang sekali, rombongan dari Jakarta tidak ada yang mendapatkan hadiah satupun dari permainan ini. But, it doesn't matter. The game was so interesting for me. Kami pun kembali ke hotel sekitar pukul 01.00 WIB dan langsung istirahat agar besok bisa kembali fresh pada saat datang ke resepsi pernikahan Uda.




-Gayuh-
290313

Saturday, April 6, 2013

Ternate Bahari Berkesan #3

Masih ingatkah pelajaran sejarah SD/SMP yang bercerita mengenai kerajaan islam di Indonesia? Diantara kerajaan-kerajaan islam yang berjaya pada saat itu, pasti masih teringat tentang Kesultanan Ternate dan Tidore yang juga pernah mencapai masa kejayaannya. Dan kali ini, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Pulau Tidore untuk melaksanakan tugas sekaligus bisa mengunjungi beberapa situs sejarah setelah selesai melaksanakan pekerjaan saya.


Kunjungan sehari ke Pulau Tidore ini dalam rangka pengecekan beberapa aset fisik. Setelah selesai melaksanakan tugas, saya bersama ketua tim dan teman saya di ajak untuk berkeliling sejenak di pulau ini. Pulau yang bersebelahan dengan Pulau Ternate ini memiliki kondisi topografi yang mirip dengan Pulau Ternate. Keduanya memiliki gunung berapi yang masih aktif di tengah pulau. Pulau Ternate dengan Gunung Gamalama yang tingginya mencapai 1.715 mdpl dan Pulau Tidore dengan Gunung Kie Marubu yang tingginya mencapai 1730 mdpl. Suasana di Tidore lebih sepi dibandingkan dengan suasana di Ternate. Cocok untuk orang yang ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk dan kemacetan kota.


Karena Tidore mempunyai sejarah tentang jaman kerajaan, maka objek pertama yang kami kunjungi adalah Kesultanan Tidore. Kondisi bangunan masih kokoh berdiri dengan gaya melayu yang khas melekat pada bangunan istana tersebut. Berbeda sekali dengan bangunan istana di Keraton Yogyakarta. Namun sayang seribu sayang, istana Kesultanan Tidore ini tidak di lestarikan sebagai cagar budaya. Kabarnya, istana ini sudah tidak dihuni oleh keturunan Sultan Tidore karena mereka sudah bekerja di pulau lain. Kami pun hanya berfoto di depan Istana Tidore dan tidak bisa memasuki istana tersebut. Sumber lain mengatakan bahwa kami bisa memasuki istana dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada penjaga istana. Sehingga, penjaga istana dapat menemani pengunjung yang ingin memasuki istana. Karena kami tidak ada rencana mengunjungi istana ini, kami pun rela tidak bisa masuk dan melihat peninggalan sejarah kejayaan Kesultanan Tidore secara langsung.





Tujuan kami selanjutnya ke benteng peninggalan Portugis. Lokasi benteng ada di sebelah istana Kesultanan Tidore. Untuk sampai di benteng, kami harus mendaki berpuluh-puluh anak tangga. Namun, sebelum sampai tepat di benteng tersebut, kami sudah harus turun. Rombongan yang berada jauh di depan mengatakan bahwa anak tangga yang kami daki buntu. Tidak ada tangga terusan untuk sampai ke benteng. Kami pun hanya melihat benteng tersebut dari anak tangga tempat kami berdiri. Agak kecewa memang saat kami harus turun kembali tanpa bisa sampe ke benteng tersebut. Namun, kekecewaan kami bisa terhapuskan dengan melihat pemandangan laut yang indah dari ketinggian tempat kami berdiri. Ucapan subhanalloh pun terus terucap melihat pemandangan yang indah ini. Terima kasih ya Alloh....



 Wisata budaya dan wisata alam sudah, kini tinggal wisata kuliner. Kata orang Tidore, "belum afdol kalau belum mencoba durian Tidore". Perut kami pun langsung berbunyi tak sabar mencoba durian Tidore yang katanya lebih enak daripada durian Ternate. Tapi, sebelum menyantap durian, perut kami harus diisi terlebih dahulu. Kami pun diajak ke warung makan makanan khas Tidore yang pernah dikunjungi oleh Pak Bondan 'Maknyuss". Menu yang disajikan banyak sekali. Hampir semuanya makanan khas Tidore. Ada papeda yang terbuat dari sagu dan singkong yang bentuknya seperti lem dan ada ikan kuah kuning untuk menemani makan papeda. Kemudian ada gohu yang terbuat dari ikan cakalang mentah dicampur dengan bumbu-bumbu rempah. Ada amo yaitu makanan dari sukun yang direbus dengan santan. Ada juga pisang rebus dan ikan bakar. Dari semua makanan yang disajikan, yang paling saya sukai adalah amo. Rasa sukun rebus tersebut benar-benar enak. Kalau di kampung halaman saya, sukun biasanya digoreng untuk dijadikan keripik sukun. Rasa amo ini juga beda dengan sukun yang direbus oleh nenek saya. Walaopun lidah saya tidak cocok dengan makanan khas Tidore, tapi saya berhasil mencoba semua makanan yang disajikan.

Seletah selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Pulau Ternate. Di sepanjang perjalanan, durian-durian yang di jual oleh warga Tidore tak henti-hentinya memanggil kami. Sepertinya mereka sudah tak sabar untuk berpindah ke perut kami. Kami pun membeli beberapa buah untuk di makan di pinggir pantai sebelum kembali ke Pulau Tidore. Ditemani angin sepoi-sepoi, suara gemuruh ombak dan landscape Pulau Ternate, kami pun menyantap durian dengan lahapnya. Perpaduan yang sempurna menurut saya. Kapan lagi bisa menyantap durian di pinggir pantai dengan pemandangan yang indah.


Durian-durian yang dibeli sudah tinggal kulitnya saja. Kini, waktunya kami pulang ke hotel di Pulau Ternate. Kami naik speedboat selama kurang lebih 7 menit untuk sampai di Pulau Ternate.  Terima kasih untuk wisata budaya dan kuliner yang luar biasa di Pulau Tidore.


-Gayuh-
05032013