Pages

Friday, November 14, 2014

Road to Raja Ampat #1

Pekerjaan saya lah yang akhirnya membawa saya pada tempat yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia. Sebenarnya impian ini pun bermula ketika saya mulai menggeluti pekerjaan ini. Kalau saja saya tidak bekerja pada posisi ini, mungkin hanya sekedar impian untuk mengunjungi tempat ini. 

Hari ini, 31 Oktober 2014, pukul 16.08 WIT, kami berangkat menuju ke Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat dari Pelabuhan Usaha Mina di Sorong. Setelah dua hari ini menyelesaikan kunjungan lapangan di Kota dan Kabupaten Sorong, akhirnya hari ini kami akan melanjutkan kunjungan lapangan kami untuk paket-paket pekerjaan yang terletak di Kabupaten Raja Ampat. Namun, sebelum melakukan pekerjaan ini, kami hendak rehat sejenak untuk menikmati keindahan Kepulauan Raja Ampat yang sudah tersohor ke dunia internasional.

Pukul 16.00 WIT, speedboat yang kami sewa menjemput kami di Dermaga Usaha Mina. Dermaga ini terletak sangat dekat sekali dengan Port of Sorong. Oleh karena itu banyak sekali kapal-kapal yang sedang bersandar di pelabuhan Sorong tersebut dari yang kecil sampai yang besar sekalipun. Sekitar pukul 16.20 WIT speedboat kami sudah meninggalkan dermaga. Ah, rasanya masih belum percaya kalau saat ini saya sedang menuju ke the most wanted place to visit. Rajaaaaaa Ampattttttt, I aaaaammmm comiiinggggggg!! Mungkin begitu suara hati saya saat ini. ^^

Well, berbicara mengenai Raja Ampat, siapa yang tidak kenal dengan tempat ini. Bagi sebagian besar orang yang mengaku suka traveling, Raja Ampat pasti masuk ke dalam list tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Termasuk saya tentunya. Keindahan gugusan pulau-pulaunya, laut yang hijau dan biru, pasir putihnya serta keindahan bawah lautnya sudah terdengar sampai ke mancanegara. Bahkan konon katanya, sebagian pemilik resort disini adalah orang asing (ini yang disayangkan). Selain terkenal dengan hal-hal tersebut di atas, Raja Ampat juga terkenal dengan susahnya akses menuju kesana dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Hal itu yang membuat tempat ini menjadi eksklusif karena hanya sebagian orang yang beruntung yang bisa menyisihkan uang, waktu dan tenaga mereka untuk mengunjungi tempat ini. Beruntunglah ketika saya bersama teman-teman satu tim bisa berkunjung ke Raja Ampat di sela-sela melaksanakan tugas kami.

Selama perjalanan, kami isi dengan bercerita dengan teman satu rombongan sambil menikmati setiap hal yang kami liat di laut. Ketika waktu hampir menunjukkan pukul 18.00 WIT, matahari perlahan-lahan turun hendak meninggalkan kami. Guratan-guratan cahaya kemerahan memenuhi langit disebelah barat. Masya Alloh, it was one of beautiful sunset I have ever seen.

Setelah matahari tenggelam, kami belum juga sampai ke resort tempat kami menginap. Perlahan-lahan kami sudah memasuki wilayah Kepulauan Raja Ampat. Pulau-pulau kecil sudah terlihat dari kejauhan dengan resort-resort yang dibangun dari kayu sudah berjejer di tepian pantainya. Ahhhh,, saya sudah membayangkan betapa romantisnya resort-resort itu. Tak lama kemudian, akhirnya kapal kami perlahan-lahan melambat dan mendekat ke sebuah dermaga panjang yang terbuat dari kayu. Wah ternyata ini dia resort tempat kami menginap. Aaaaakkkk, seketika saya ingin berteriak, "Rajaaaaa Ampattttt, Here I am!!!! Sambil tak lupa mengucap syukur kepada Alloh SWT atas kesempatan yang diberikan ini. 


Sekitar pukul 18.31 WIT, kapal berhenti sempurna di dermaga Dive Lodge Resort. Suasana di dermaga luamayan ramai malam ini. Beberapa orang sedang menyiapkan peralatan untuk diving. Sementara itu, dari dalam laut dekat dermaga, saya melihat ada cahaya lampu dari bawah. Ternyata ada yang sedang melakukan diving di malam hari. Ah, puncak kemupengan saya untuk diving sudah tidak dapat dibendung. Eitsss, tapi kami harus check-in terlebih dahulu di resort kami. Tak lupa kami foto-foto dulu di depan tulisan "Raja Ampat Dive Lodge" sebagai bukti kami sudah di Raja Ampat (ini penting banget ^^).
Salah satu kapal yang sedang berlabuh
Kami harus menyusuri dermaga kayu yang cukup panjang ini untuk sampai ke resort. Suasana yang remang-remang dan sunyi memang cocok sebagai tempat untuk rehat dari aktivitas sehari-hari di ibukota. Selain itu, tempat ini cocok juga untuk bulan madu soalnya romantis. hehe. Saat tiba di reception, kami di suguhi segelas welcome drink dan handuk dingin untuk membersihkan muka yang mungkin sudah kucel. PIC dari resort langsung membagikan kunci kamar kami masing-masing. Saya dan Bu Paini menempati kamar nomor 11 yang berada di dekat jalan masuk. Setelah bersih-bersih dikamar masing-masing, kami pun pergi ke restaurant untuk menyantap makan malam kami. Kami sengaja memilih meja di dekat pantai sambil menikmati semilir angin di malam hari. Setelah makan, kami masih ngobrol dan membahas mendoan. Sejenak kami pun melupakan tugas-tugas kami yang belum selesai untuk menikmati keindahan tempat ini. Sehabis makan, kami sempatkan jalan-jalan ke arah dermaga untuk melihat bintang dan bulan yang terlihat sangat jelas di langit malam ini. Ahhh,, I love this atmosphere so much. Suasana yang santai, tenang, langit yang terang akan cahaya bulan membuat saya ingin menikmati hal ini dengan orang-orang tersayang. Semoga ya someday bisa kesini bersama-sama keluarga. aamiin YRA. 
Ini reception yang bersebelahan dengan restaurant. Restaurant ini langsung menghadap ke pantai

Waktu sudah cukup malam, rasanya badan ini sudah meminta untuk direbahkan. Kami pun kembali ke kamar kami masing-masing untuk rehat demi hari esok yang pasti akan menyenangkan. Good night!!

Saturday, November 1, 2014

Road to Raja Ampat #2

Selamat Pageeeeeeeeee!!!

Rasanya hati ini sudah bergejolak tak sabar menanti pagi, menanti penjelajahan di pulau-pulau di Raja Ampat. Iyap, hari ini jadwal kami bersenang-senang. Agenda sementara yang dibicarakan antara pimpinan rombongan kami dan PIC dari resort tadi malam sudah terbayang-bayang di pikiran saya. Saya sudah membayangkan snorkling dengan ditemani ikan-ikan lucu, melihat icon nya Raja Ampat berupa gugusan pulau-pulau dengan laut yang hijau, pasir timbul di tengah laut dan masih banyak tujuan lainnya. Eitssss,,, tunggu dulu. Daripada cerita yang cuma ada di bayangan, mending cerita yang sebenarnya yuks.

Pagi ini, salah satu pagi yang sangat menyenangkan, membuat hati bergejolak, membuat diri ini tak sabar untuk meng-eksplore Raja Ampat. Sekitar pukul 05.00 WIT, saya bangun untuk sholat subuh. Karena berada di pulau yang masih sepi, saya pun tak bisa mendengar suara adzan disini. Hanya berbekal aplikasi pengingat sholat di smartphone saya, saya pun mengambil air wudlu dan segera menunaikan sholat subuh. Setelah sholat subuh, sebenernya saya ingin berjalan-jalan menyusuri resort atau sekedar berjalan-jalan menyusuri pantai dan dermaga. Tapi mata yang masih kantuk menyurutkan niat saya untuk keluar. Ditambah lagi karena jam 08.00 WIT kami harus sudah siap berangkat. Jadi saya pikir mending saya manfaatkan waktu buat bersiap-siap dari pada berjalan-jalan di pantai.

Pukul 08.00 WIT, saya dan Bu Paini menyempatkan untuk sarapan. Teman-teman yang lain juga sudah lebih dulu berada di resto untuk sarapan. Ternyata hanya saya dan Bu Paini yang pagi tadi tidak berjalan-jalan. Pak Hasron dan keluarga berjalan-jalan di pantai, sementara Mas Rio dan Mas Ricki bermain canoe di laut dangkat di sekitar dermaga. Ahhhhhh, saya mupeng. Saya pun protes karena mereka tidak mengajak saya untuk bermain canoe. Tapi tidak apa-apa, masih ada hari esok yang lebih baik. (halahhh, malah nyanyi ^^)

Setelah sarapan selesai, kami bersiap-siap menuju ke kapal kami untuk menuju ke Pianemo atau lebih terkenal dengan nama Wayag Kecil. Sekitar pukul 9.30 WIT, kapal kami perlahan-lahan meninggalkan dermaga resort. Perjalanan kami tempuh kurang lebih selama 1,5 jam menuju ke Pianemo. Saat kapal mulai memasuki wilayah Pianemo, kami semua takjub melihat keindahan gradasi warna lautnya yang hijau dan biru ditambah gugusan tebing-tebing/pulau-pulau yang mengelilinginya. Tempat terbaik untuk melihat keindahan gugusan pulau ini adalah dengan menaiki salah satu bukit. Keindahan dari atas sana tak bisa diungkapkan dengan kata-kata *katanya. Namun, sebelum kami naik, kami singgah dahulu ke tempat penangkaran hiu. Sebenarnya kalau kata pemilik resort tempat dimana hiu-hiu ini hidup, hiu-hiu ini tidak dipelihara. Mereka ada dengan sendirinya. Namun, karena semakin lama semakin banyak orang yang ingin melihat, maka hiu ini pun diberi makan secara rutin. Saat saya kesana, ada seorang tamu yang sedang memotong2 daging ikan tuna untuk santapan hiu-hiu yang kelaparan. Selain hiu, banyak juga jenis ikan yang hidup di sekitaran resort ini. Ada pula ikan pari yg berukuran kecil berenang-renang bersama hiu.

Tidak hanya melihat ikan, di belakang resort ini ternyata ada pantai. Biasanya kan resort di Raja Ampat kebanyakan ada di pinggir pantai. Kalau ini, resort yang bangunannya terbuat dari bambu dan kayu ini mempunyai konsep kebalik. Setelah menyusuri resort, kami baru bisa menemikan pantai. Sangat indah dan nyaman suasananya untuk melepas penat.

Setelah puas melihat2 ikan, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Pianemo, salah satu icon di Raja Ampat. Jarak dari resort hiu tadi tidak begitu jauh. Hanya beberapa menit saja, kami sudah sampai. Berdasarkan cerita dari rekan kami di Papua, sebelum ada Sail Raja Ampat, akses menuju ke atas bukit belum dilengkapi dengan tangga kayu. Jadi pengunjung waktu itu menaiki bukit tebing ini dengan usahanya sendiri (seperti yang saya lihat di program acara My Trip My Adventure). Tapi alhamdulillah saat kami datang, sudah dibangun tangga kayu menuju atas pulau/tebing. Ya lumayan juga naik tangganya. Di beberapa titik disediakan gazebo untuk istirahat bagi yang kelelahan. Kami pun dua kali istirahat saat naik. Dan kelelahan kami menaiki tangga tidak lah sebanding dengan pemandangan yang sangat indah yang terbentang di depan mata kami. Masya Alloh, Subhanalloh tak henti-hentinya mulut berucap takjub atas ciptaan Alloh SWT yang benar2 indah ini. Rasanya unbelievable. Pemandangan ini biasanya saya lihat di TV saja, tp kali ini dengan ijin Alloh SWT, saya bisa melihatnya langsung. Alhamdulillahh alhamdulillah alhamdulillah. Kamera smatphone, kamera digital, tongsing, dan DSLR pun langsung digunakan untuk memgabadikan tempat ini. Jadi selain tangga yang di bangun, pemerintah juga membuat semacam balkon dari kayu agar para pengunjung dapat menikmati pemandangan ini dengan aman. Ada dua balkon yang dibangun. Salah satunya terletah lebih rendah dari satu yg lainnya.

Waktu kami menikmati tempat ini cukup lama. Sebagian orang masih berfoto-foto dan sebagian lainnya hanya melihat-lihat setelah dirasa puas berfoto. Kalau saya pastinya termasuk yang masih berfoto. Saya tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk mengambil foto yang sebagus dan sebanyak-banyaknya. Setelah dirasa cukup puas mengambil foto, kami pun menuruni tangga dan menuju ke kapal. Sekitar pukul 12.30 WIT, kami turun dan melanjutkan makan siang yang kami bawa dari resort di dermaga Pianemo. Makan di pinggir laut begini benar-benar nikmat. Menu makan siang kami sebenrnya tidak begitu spesial. Pemandangan disekitar kitalah yang membuat makan siang kami bertambah nikmat. Perut kenyang, mata pun senang melihat bagusnya laut yg hijau dan karang-karang yang mengelilinginya. Masya Alloh, i am falling in love with this islands.

Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan kami menuju batu pensil. Konon katanya ada karang yang bentuknya menyerupai pensil. Namun setelah lama mengarungi tebing-tebing disini, kami tidak menemukan tempat yang kamj tuju. Akhirnya kami melanjutkan ke tujuan selanjutnya yaitu Pulau Pasir. Yaitu kumpulan pasir yang terdapat di tengah laut. Aaakkk saya sudah tidak sabar untuk melihatnya. Namun sebelum ke tempat tersebut, kami singgah ke resort untuk sholat dan mengambil barang2 yang diperlukan.

Setelah itu, kami menuju ke Pulau Pasir. Jadi pulau ini akan terlihat saat surut. Jika sedang terjadi pasang, maka akan tenggelam oleh air laut karena pulau ini hanya gumpalan pasir. Namun sayang, sesampainya kami dilokasi, boat yg kami tumpaki tidak bisa berlabuh di dekat pulau pasir ini karena terlalu dangkal. Tadinya kami mau nyebur dan berjalan kaki untuk menuju ke pulau tersebut. Namun karena dirasa bahaya, takut kalau tiba-tiba ada gelombang laut yang besar datang (lokasinya ditengah laut), jadi kami urungkan niat untuk berjalan kaki menuju ke pulau tersebut. Padahal ketinggian air disekitar pulau hanya sampai betis orang dewasa saja. Yaahh, kecewa si pasti ya. Karena belum pernah ada sebelumnya ada pasir ditengah laut begitu. Tapi ya sudah daripada ada kejadian yang tidak diinginkan. Melihat dari kejauhan saja sudah sangat menyenangkan. Air disekitar pulau juga sangaaaattt jernih. Sampai-sampai dasar laut yang dangkal juga terlihat. Rencana lain ditempat ini adalah kami berniat snorkling. Airnya yang jernih benar-benar menggoda saya dan teman-teman untuk nyeburrrrr. Tapi karena dilihat tidak ada ikan-ikan lucu dan terumbu karang yang bagus, akhirnya kami diajak ke resort yang lain yang ternyata disekitaran resort ini jg banyak ditemui ikan-ikan dan terumbu karang yang bagus. Sebenarnya disekitaran resort kami juga bisa snorkling. Tapi kami ingin mencoba spot yang lain. Resort ini hampir sama dengan resort yang lain. Kamar2nya terbuat dari bambu dan langsung berada di atas laut dipinggir pantai. Ternyata resort ini sudah sering dijadikan tempat untuk melihat ikan, sehingga pas kita datang, sudah ada orang yang memberikan semangkuk besar makanan ikan. Salah satu yang benar-benar istimewa dari Raja Ampat memang kekayaan lautnya. Ikan-ikannya masih sangatttt beragam dan bisa diliat tanpa harus snorkling. Semuanya jelas terlihat dari atas air. Kita tinggal melempar makanannta dan kemudian ikan-ikan ini berebutan. Aaaaaakkkk bikin betahhh.

Saya dan teman saya yang sudah menyewa alat snorkling akhirnya tetap nyebur. Tapi ternyata arusnya agak lumayan kencang jadi saya harus pegangan bambu penahan resort agar tidak terbawa arus. Saat melihat dibawah langsung, ada berada sangatt dekat dengat ikan yang indah itu, rasanya tidak bisa diungkapkan. I am falling in love with the beauty of underwater since the first time i tried it. Diving and snorkling are addictive. I want it more more and more. Hehe

Setelah dirasa puas bermain di resort ini (padahal ga pernah puas), akhirnya kami kembali ke dive lodgr resort. Saya dan beberapa teman melanjutkan snorkling di sekitaran dermaga kayu. Kami mengambil lokasi yang dangkal. Karena pas di dermaga kayu ini langsung ada palung yang dalam. Di sekitaran dermaga ini, ikannya tak kalah bagus. Dan saya menemukan nemooooooo. Aaakkkk lucu bangettt ikan ini. Sama persis seperti yang saya lihat di film finding nemo. Ada juga bintang laut, karang-karang warna warni yang lucu dan segerombolan ikan yang lewat. Masya Alloh, how i love this view soooo muchhhh. Terima kasih Yaa Alloh atas keindahan dan kekayaan yang diberikan kepada Indonesia. Bantu kami untuk menjaga dan memeliharanya. Semoga dilain waktu, saya bisa kembali kesini bersama orang-orang tersayang. Dan semoga teman-temen yang belum kesini bisa kesini dengan orang-orang tersayangnya juga. Aamiin

Tak terasa waktu sudah semakin sore. Kami pun menyudahi snorkling dan bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri. Petualangan hari ini sampai disini dulu. Hari besoknya kami harus kembali bekerja untuk meninjau lokasi proyek di Pulau Waisai. Tunggu cerita selanjutnya.

_gayuh_
01112014

Saturday, October 18, 2014

Menjemput Sebuah Harapan di Pulau Harapan #1

Sabtu, 18 Oktober 2014. Akhirnya salah satu rencana liburan anak2 kosan hampir tercapai. Hari ini, kami berenam akhirnya berangkat menuju Pulau Harapan di Kepulauan Seribu. Rencana awal yang ikut berjumlah 9 orang yang terdiri dari anak2 kosan kambal 15 sebanyak 5 orang, anak eks kosan kambal sebanyak 2 orang dan yang membawa teman ada 2 orang. Namun sayangnya, ketika mendekati hari H, ada 3 orang yang mundur. Satu diantaranya karena ada tugas kantor diluar kota, satu yang lainnya harus mengikuti tes OJK pada hari Minggunya dan satu lagi karena tiba2 sakit. Jadilah kami berenam yang fix berangkat ke Pulau Harapan yaitu saya, Asty, Riris, Finik, Kiki, dan Eka. Sebenarnya kondisi badan saya pun mendadak kurang fit sejak Selasa. Tiba-tiba bersin-bersin. Karena saya menganggap itu flu biasa, saya hanya mengatasinya dengan memperbanyak minuman yang mengandung banyak vitamin C. Namun, sampai hari Jumat, badan saya masih kurang enak. Akhirnya saya pun ke dokter untuk mengetahui penyebab sakit saya. Setelah diperiksa, dokter hanya bilang daya tahan tubuh saya lagi drop. Solusinya disuruh banyak istirahat. Tapi dorongan hati untuk melihat pantai cantik dan underwater yg tak kalah cantiknya membuat saya tetap ikut ke Pulau Harapan (maap ya dok, kali ini saya bandel). Siapa tau setelah melihat pantai dan laut yang jernih, saya jadi sembuh. Aamiin3x. Hehe.

Kembali lagi ke kapal, setelah menunggu agak lama, akhirnya kapan kami berangkat pukul 08.30 WIB. Karena kami agak telat naik ke kapalnya, kami pun dapat tempat duduk di bawah. Padahal lebih enak di atas karena guncangannya lebih sedikit berasa. Kami duduk di dekat tempat mesin. Jadi lumayan berisik dan bergetar. Tapi alhamdulillah kami masih dapet tempat duduk yang bisa bersandar. Jadi kami bisa tidur dengan 'sedikit nyaman' dalam perjalanan kurang lebih hampir 4 jam-an ini. Yeyyyyy, can't wait to be there, Hoping Island! Semoga Alloh SWT melancarkan dan memudahkan perjalanan ini dan bisa kembali dengan selamat. Aamiin YRA

18102014
Ditulis di atas kapal dalam perjalanan menuju Pulau Harapan
-gayuh-

Wednesday, September 24, 2014

Journey to The East #3

^.^ ^.^

Disela-sela buka-buka dokumen, disambi chat.
Semoga Alloh SWT memudahkan dan meridloi setiap langkah kami. Aamiin ^^


-gayuh-
Manokwari 23092014

Saturday, September 20, 2014

Journey to The East #2

Waktu menunjukkan sudah pukul 03.44 WIB-memasuki wilayah WIT-saat saya bangun dari tidur. Dengan sedikit ketidaknyenyakan karena beberapa kali ada pengumuman gangguan cuaca dan goyangnya pesawat, akhirnya saya bisa tidur juga. Walopun dengan beberapa kali terbangun. Ketika saya melihat keluar jendela, saya disambut oleh sinar mentari pagi yang masih malu-malu menampakan sinarnya (baca:sunrise). Sinar orange nya yang indah terbentang luas menembus awan-awan putih diluar pesawat. Saya pun memgambil smarphone untuk mengabadikan pemandangan yang indah ini sambil tak lupa mengucap masya Alloh. Saking takjubnya, saya pun lupa belum melaksanakan sholat subuh. Saya langsung mengambil tayamun dari debu dijendela dan buru-buru melaksanakan sholat subuh di tempat duduk saya. 
Tak lama setelah melaksanakan sholat subuh, kami pun disambut oleh senyuman dan wajah cantik para pramugari yang menawarkan sarapan untuk para penumpang. Saya pun memilih menu omelet untuk sarapan saya. Sebenarnya perut ini belum lapar, namun mengingat perjalanan masih lama sampai Manokwari, saya pun tetap memakan sarapan saya. Tiba-tiba suara kapten pilot kembali terdengar mengabarkan bahwa dalam waktu 1 jam 30 menit, kami akan tiba di Bandara Sentuni, Jayapura. Benar saja, setelah hampir 1 jam 30 menit, daratan dan lautan Papua sudah terlihat dari jendela pesawat. Akhirnya sebentar lagi saya akan menginjakkan kaki di bumi Papua. Well, welcome to Papua!!


Ditulis di Manokwari
19 September 2014
13.27 WIT

Thursday, September 18, 2014

Journey to The East #1

Salah satu pulau yang paling ingin saya kunjungi adalah pulau yang terletak di ujung timur wilayah Indonesia yaitu Pulau Papua. Mungkin karena pulau ini paling jauh dari ibukota, menyimpan banyak eksotisme, keragaman adat dan budaya serta pesona alam yang indah yang membuat saya begitu penasaran dengan pulau yang satu ini. Ditambah lagi adanya destinasi wisata seperti Raja Ampat di Papua Barat, yang sangat tersohor akan keindahan gugusan pulau, pantai dan bawah lautnya, menambah rasa penasaran saya untuk pergi kesana.
Malam ini, atas ijin Alloh SWT, akhirnya saya berkesempatan untuk melaksanakan tugas di Provinsi Papua Barat. Saat ini saya berada didalam pesawat dengan nomor penerbangan GA656 di atas ketinggian 33.000 kaki. Penerbangan dengan tujuan wilayah timur Indonesia memang sering terjadwal pada malam hingga dini hari. Saya dan teman satu tim memilih rute penerbangan Jakarta-Jayapura-Manokwari yang rencananya berangkat pada pukul 23.40 WIB, namun karena satu dan lain hal, kami baru take of pada pukul 00.30 WIB. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di Jayapura kurang lebih selama 5 jam lebih. Kaya harus transit di Jayapura selama kurang lebih 3 jam sebelum melanjutkan penerbangan kami ke Manokwari pada pukul 11.00 WIT.
Saat saya menulis tulisan ini, jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. Entah kenapa tiba-tiba saya tidak bisa tidur. Padahal saat akan take off, saya benar-benar mengantuk. Ada rasa excited dalam penugasan ini. Seperti dream comes true. Saat masih sekolah, saya hanya mendengar tentang Papua dari berita-berita di televisi. And I thought Papua is so far away and difficult to reach it. But now, Alloh SWT gives me a chance to visit this island. Alhamdulillah.
Entah kenapa saya agak sedikit excited pada penugasan ini. Sebentar lagi rasa penasaran saya akan keadaan dan kondisi di Papua bakal terjawab. Semoga Alloh SwT melindungi perjalanan ini sampai ke tujuan dan memudahkan kami dalam menjalankan tugas di Papua Barat. Semoga juga saya dan tim diberi kesempatan untuk menikmati secara langsung keindahan Raja Ampat. Aamiin3x Ya Rabb.
Mungkin cukup disini dulu cerita pembuka 'Journey to The East'. I think I have to sleep.

Ditulis di dalam pesawat Garuda GA 656
Ketinggian 33.000 kaki
18 September 2014 Pukul 01.20 *mungkin masih wilayah WIB

Tuesday, August 12, 2014

Rahajeng Semeng, Bali

It was 10 years ago when I visited Bali in the first time. At that time, I joined study tour that was held by my senior high school. Saat itu saya langsung jatuh cinta dengan Bali, terlebih lagi dengan budayanya. Siapa yang tidak ingin pergi ke pulau nan indah yang sarat akan budaya yang bahkan menjadi tempat favorit para turis mancanegara. Well, at that time, I never thought that I would go back to this island again. Seven years later, in 2011, I started working as civil servant in Ministry of Public Work. One of my duty is monitoring the branches in each province. My first duty was monitoring PAMSIMAS Project in East Nusa Tenggara. The team consisted of 3 persons and 1 leader. In the way back to Jakarta, we had to transit in Denpasar, Bali for 6 hours. So, we didn't waste the time in the airport. We rent a car plus driver and visited Kuta Beach because it is near to the airport. We spent the time only for taking a picture and waited for the sunset. After it, we went to Krisna shop to buy souvenir and directly went back to the airport. Well, even it was only 6 hours, but visiting Bali always made me fun.
Itu sekilas cerita awal saya di Bali. Selanjutnya ada cerita tentang Bali yang hampir membuat saya speechless. Ketika hampir satu tahun saya bekerja, saya dan angkatan saya mengikuti diklat fungsional pembentukan Jabatan Fungsional Auditor. Karena kantor perwakilan PU ada dihampir seluruh provinsi di Indonesia, maka nantinya audit juga akan dilaksanakan diseluruh Indonesia. Pada saat itu, saya pernah berucap singkat kepada seorang teman yang isinya kurang lebih begini, "enak kayanya ya dapet dines di Bali". Dan Februari 2012, saya mendapat tugas pertama kali untuk melakukan audit. Guess where were I going? Yup, my first duty would be in Bali. Waktu itu saya hanya berfikir mungkin kebetulan apa yang saya ucapkan benar-benar terjadi pada penugasan pertama saya. Saya bahkan tidak secara detail memohon dan berdoa untuk benar-benar ke Bali pada penugasan pertama saya. Yang saya harapkan hanya bisa datang ke pulau yang belum saya datangi. Tapi Alloh SWT dengan kuasaNya mengabulkan keinginan saya yang bahkan mungkin tanpa bersungguh-sungguh dalam mengucapkannya. Kalau hanya sekilas berucap saja sudah dikabulkan oleh Alloh SWT, apalagi doa yang dengan sunggung-sungguh kita ucapkan setiap hari? Alloh knows the best. Kalau masih ada doa yang belum dikabulkan, mungkin kita belum sepenuh hati memintanya.
Cerita selanjutnya tentang Bali adalah ketika saya dan beberapa teman kantor yang merencanakan  berkunjung ke Bali dalam rangka menghadiri acara pernikahan seorang teman kantor yang berasal dari Bali. Namun, sayangnya jadwal yang kami rencanakan bentrok dengan jadwal audit kami. Maka rencana ke Bali untuk acara ini pun gagal. Kami hanya bisa menghadiri resepsi pernikahan teman kami tersebut di Jakarta. Walaupun resepsinya di adakan di Jakarta, tapi nuansa adat Bali nya masih sangat terasa. Dari sinilah saya tanpa sengaja bilang kepada teman saya, "duhh jadi pengen ke Bali". Dan beberapa hari kemudian, saat SK penugasan untuk audit selanjutnya keluar, dengan kuasa Alloh SWT, saya kembali ditugaskan ke Bali. Masya Alloh, saya pun speechless dan berucap Alhamdulillah. Betapa Alloh SWT mengabulkan permintaan saya walopun itu hanya sebatas ucapan ringan kepada seorang teman. Innallaaha 'alaa kulli syai-in qadiir. Sesungguhnya Engkaulah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Even if you whisper it, Alloh hears you. Don't lose your hope!!
Semoga Alloh SWT selalu mengiringi setiap langkah kita. Aamiin3x YRA


Gayuh
12082014
Ditulis di kantor, saat jobless. ;)