Pages

Tuesday, August 12, 2014

Rahajeng Semeng, Bali

It was 10 years ago when I visited Bali in the first time. At that time, I joined study tour that was held by my senior high school. Saat itu saya langsung jatuh cinta dengan Bali, terlebih lagi dengan budayanya. Siapa yang tidak ingin pergi ke pulau nan indah yang sarat akan budaya yang bahkan menjadi tempat favorit para turis mancanegara. Well, at that time, I never thought that I would go back to this island again. Seven years later, in 2011, I started working as civil servant in Ministry of Public Work. One of my duty is monitoring the branches in each province. My first duty was monitoring PAMSIMAS Project in East Nusa Tenggara. The team consisted of 3 persons and 1 leader. In the way back to Jakarta, we had to transit in Denpasar, Bali for 6 hours. So, we didn't waste the time in the airport. We rent a car plus driver and visited Kuta Beach because it is near to the airport. We spent the time only for taking a picture and waited for the sunset. After it, we went to Krisna shop to buy souvenir and directly went back to the airport. Well, even it was only 6 hours, but visiting Bali always made me fun.
Itu sekilas cerita awal saya di Bali. Selanjutnya ada cerita tentang Bali yang hampir membuat saya speechless. Ketika hampir satu tahun saya bekerja, saya dan angkatan saya mengikuti diklat fungsional pembentukan Jabatan Fungsional Auditor. Karena kantor perwakilan PU ada dihampir seluruh provinsi di Indonesia, maka nantinya audit juga akan dilaksanakan diseluruh Indonesia. Pada saat itu, saya pernah berucap singkat kepada seorang teman yang isinya kurang lebih begini, "enak kayanya ya dapet dines di Bali". Dan Februari 2012, saya mendapat tugas pertama kali untuk melakukan audit. Guess where were I going? Yup, my first duty would be in Bali. Waktu itu saya hanya berfikir mungkin kebetulan apa yang saya ucapkan benar-benar terjadi pada penugasan pertama saya. Saya bahkan tidak secara detail memohon dan berdoa untuk benar-benar ke Bali pada penugasan pertama saya. Yang saya harapkan hanya bisa datang ke pulau yang belum saya datangi. Tapi Alloh SWT dengan kuasaNya mengabulkan keinginan saya yang bahkan mungkin tanpa bersungguh-sungguh dalam mengucapkannya. Kalau hanya sekilas berucap saja sudah dikabulkan oleh Alloh SWT, apalagi doa yang dengan sunggung-sungguh kita ucapkan setiap hari? Alloh knows the best. Kalau masih ada doa yang belum dikabulkan, mungkin kita belum sepenuh hati memintanya.
Cerita selanjutnya tentang Bali adalah ketika saya dan beberapa teman kantor yang merencanakan  berkunjung ke Bali dalam rangka menghadiri acara pernikahan seorang teman kantor yang berasal dari Bali. Namun, sayangnya jadwal yang kami rencanakan bentrok dengan jadwal audit kami. Maka rencana ke Bali untuk acara ini pun gagal. Kami hanya bisa menghadiri resepsi pernikahan teman kami tersebut di Jakarta. Walaupun resepsinya di adakan di Jakarta, tapi nuansa adat Bali nya masih sangat terasa. Dari sinilah saya tanpa sengaja bilang kepada teman saya, "duhh jadi pengen ke Bali". Dan beberapa hari kemudian, saat SK penugasan untuk audit selanjutnya keluar, dengan kuasa Alloh SWT, saya kembali ditugaskan ke Bali. Masya Alloh, saya pun speechless dan berucap Alhamdulillah. Betapa Alloh SWT mengabulkan permintaan saya walopun itu hanya sebatas ucapan ringan kepada seorang teman. Innallaaha 'alaa kulli syai-in qadiir. Sesungguhnya Engkaulah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Even if you whisper it, Alloh hears you. Don't lose your hope!!
Semoga Alloh SWT selalu mengiringi setiap langkah kita. Aamiin3x YRA


Gayuh
12082014
Ditulis di kantor, saat jobless. ;)

Friday, June 20, 2014

Kapangeranan Gebang Kinatar

I'm always interested in Indonesian culture, historical site and everything related to culture and history. Salah satu favorit saya adalah ketika bisa berkunjung ke bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya. Contohnya keraton, candi-candi, desa adat, museum, dan objek wisata lainnya. Beruntungnya saya, pekerjaan saya kali ini membawa saya ke sebuah cagar budaya yang terletak di Cigugur, Kabupaten Kuningan. Pada tahun 2011, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis (PBLS) Direktorat Jenderal Cipta Karya melaksanakan Pekerjaan Pelaksanaan Renovasi Cagar Budaya Nasional Tripanca Tunggal Cibubur, Kab. Kuningan Jawa Barat. Gedung Tripanca Tunggal ini secara resmi disebut Gedung Paseban Tri Panca Tunggal yang merupakan bangunan keraton milik Kepangeranan Gebang Kinatar Kuningan. Sebelumnya saya hampir tidak pernah mendengar tentang kerajaan/kepangeranan di Kuningan ini. Tetapi begitu mendengar bahwa saya akan mengunjungi salah satu keraton yang masih dipimpin oleh seorang raja dan masih melestarikan budaya dan adat setempat, maka saya pun tidak bisa menutupi antusiasme saya. 

Cagar budaya yang telah direnovasi tersebut menggunakan dana APBN Tahun Aggaran 2011. Pembangunan tersebut juga telah rampung pada tahun yang sama. Pada tahun 2014 ini, Satker PBLS akan melaksanakan proses hibah atas aset tersebut yang akan diserahterimakan kepada Yayasan Tri Mulya yang diketuai oleh pangeran dari Kepangeranan Gebang Kinatar. Dalam proses hibah ini, saya dan tim dari Inspektorat Jenderal yang berperan sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) mempunyai tugas untuk memeriksa asset yang akan dihibahkan. Hal tersebut sesuai dengan yang diamanahkan dalam Peraturan Menteri Keuangan 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara. Hasil dari pemeriksaan asset ini akan dijadikan sebagai salah satu dokumen kelengkapan proses pengajuan hibah kepada Kementerian Keuangan. Setelah pengajuan proses hibah ini disetujui, maka Satker PBLS dapat melakukan serah terima aset cagar budaya ini untuk selanjutnya dikelola oleh Yayasan Tri Mulya. Untuk selanjutnya, Yayasan Tri Mulya lah yang bertanggung jawab dalam mengelola dan memelihara bangunan ini. Hal ini tentunya akan memudahkan dalam pelestarian Gedung Paseban Tri Panca Tunggal agar tidak cepat rusak.

Hari Rabu, 18 Juni 2014, saya dan tim dari PBLS berangkat menuju Kuningan pukul 11.00 WIB. Rute awal yang akan kami lalui adalah melalui Jatinangor dan Sumedang. Namun, karena kemacetan yang terjadi di Sumedang, maka kami memutuskan untuk berputar dan melewati rute Lembang-Subang. Perjalanan menuju Kuningan ini menghabiskan waktu yang sangat lama dibandingkan waktu normal yang biasa ditempuh. Total waktu perjananan yang kami tempuh adalah 9,5 jam termasuk waktu makan dan sholat. Akhirnya pukul 20.30 WIB, kami sampai di Kepangeranan Gebang Kinatar dan langsung disambut oleh Bu Dewi yang merupakan putri dari Raja Kepangeranan Gebang Kinatar. Bu Dewi langsung mengajak kami untuk bertemu dengan Rama-panggilan Raja-di ruang Srimanganti. Kami pun menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan kami di Gedung Paseban ini. Obrolan tidak berlangsung lama, kami pun diajak untuk makan malam di ruang Jinem. 

Waktu sudah cukup malam, kami pun kembali ke Ruang Sirimanganti untuk bertemu Raja dan Ratu dan pamit menuju hotel. Pagi harinya, Kamis, 19 Juni 2014, kami kembali ke Gedung Paseban Tri Panca untuk melaksanakan tugas kami. Sesampainya di lokasi, kami kembali disambut oleh Rama dan Ratu di Ruang Sirimanganti. Tiba-tiba pikiran saya kembali ke masa kerajaan ini masih berjaya. Mungkin saat saya bertemu dengan raja dan ratu pada saat itu, saya harus melalui prosesi adat dan pastinya tidak sembarang orang yang bisa bertemu beliau. Mungkin juga, raja dan ratu ini tidak memakai baju biasa seperti orang kebanyakan, melainkan baju adat raja dan ratu yang sering kita lihat dalam film-film kolosal di TV.

Well, membayangkan saya berada di masa keemasan kerajaan sudah cukup membuat saya senang. Apalagi ditambah dengan cerita langsung dari Rama tentang babad Kepangeranan Gebang Kinatar ini. Karena lumayan penasaran mengenai sejarah kerajaan ini, saya pun bertanya langsung bagaimana kerajaan ini bisa terbentuk dan masih melanjutkan keturunannya untuk melestarikan adat dan budaya kerajaan. Walaupun secara administrasi tidak memimpin wilayah Kuningan saat ini, namun warga sekitar masih menghormati dan menghargai Rama sebagai Raja di Kepangeranan Gebang Kinatar ini. Berdasarkan cerita Rama pagi ini, Kepangeranan Gebang ini awalnya dibagi menjadi 3 Kesultanan, yaitu Kanoman, Kasepuhan, Kacirebonan. Kemudian terjadi perebutan antara 3 kesultanan tersebut, maka untuk menghindari Belanda yang waktu itu, dipindahlah Kepangeranan Gebang ke daerah Cigugur ini. Alasan pemindahan ke Cigugur adalah karena daerah ini merupakan basis dari tentara Kerajaan Mataram. Kepangeranan Gebang bekerja sama dengan Kerajaan Mataram untuk melawan Belanda. Pada akhirnya Kepangeranan Gebang dibubarkan dan keturunan Raja Gebang pada saat itu yang kebetulan adalah Kakek dari Rama bersembunyi dari Belanda dan membangun padepokan untuk mengajarkan mengenai masalah sejarah dan budaya kepada Masyarakat. Namun sayangnya, Belanda berhasil menemukan padepokan ini, maka Raja Gebang saat itu dibuang ke Bedigul di Irian Jaya. 

Walapun Rama sudah memasuki usia ke-82, tapi beliau masih sangat lancar dalam menceritakan tentang sejarah dari Kepangeranan Gebang ini. Dalam ceritanya, Rama menjelaskan bahwa Gebang ini bukanlah suatu kerajaan, bahkan beliau sendiri menyebut dirinya bukanlah seorang raja, melainkan hanya keturunan dari Kepangeranan Gebang Kinatar. Oleh karena itulah, sampai sekarang Rama dan keluarganya tetap mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dalam komunitas adat Sunda. Menurut beliau, daerah ini adalah satu-satunya daerah yang plural. Semua agama ada disini, namun satu sama lain saling menghargai. Moto atau slogan yang masih mengakar di sini adalah "Sekalipun tidak sepengakuan, kita harus sepengertian". Sepengertian tersebut mengandung makna bahwa masing-masing individu harus mempunyai kesadaran berbangsa dan bernegara. Itulah yang mendorong masyarakat disekitar masih mempunyai toleransi beragama yang sangat tinggi. Bisa dibilang konflik karena gesekan keyakinan belum pernah terjadi. Sangat indah dibayangkan jika Indonesia yang saya cintai ini bisa terhindar dari konflik horizontal dan bisa hidup dengan damai walaupun mempunyai keyakinan, suku, dan ras yang berbeda-beda.

Setiap tahunnya, tepatnya tanggal 22 Rayagung dalam penanggalan Sunda, Kepangeranan Gebang Kinatar ini mengadakan perayaan Seren Taun. Semua masyarakat adat ikut serta dalam perayaan ini. Bukan hanya masyarakat dari sekitar Cigugur saja, namun dari berbagai wilayah di Indonesia juga ikut berpartisipasi dalam perayaan ini. Bahkan wisatawan mancanegara juga turut serta menjadi bagian dalam perayaan Seren Tahun ini. Pesan-pesan yang disampaikan dalam upacara adat ini begitu kuat sehingga ia seperti pesona budaya dan menjadi refleksi rohani bagi kehidupan manusia. Perayaan ini berlangsung selama 5 hari. Hari terakhir menjadi puncak dari perayaan. Well, setelah mendengar cerita singkat dari Rama, saya cukup penasaran untuk melihat perayaan ini. Tiba-tiba saja tercetus ide untuk mengunjungi Cigugur saat perayaan Seren Taun tahun ini digelar. Ada yang tertarik?

Cerita tentang Seren Taun ini menutup cerita singkat dari Rama pagi ini. Kami pun segera melaksanakan tugas utama kami disini. Pengecekan terhadap aset Gedung Paseban Tri Panca berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Pukul 13.00 WIB, kami berhasil menyelesaikan tugas kami dan kembali ke Ruang Sirimanganti untuk berbincang-bincang sejenak dengan Bu Dewi, Rama dan Ratu sebelum melanjutkan dengan makan siang. Setelah selesai makan siang, kami pun pamit untuk kembali ke Bandung. Sebelumnya, kami tidak melewatkan untuk berfoto bersama dengan keluarga Kepangarenan Gebang Kinatar. Rasanya masih ingin tinggal dan menikmati bangungan bersejarah ini. This building is so unique dan membuat saya merasakan suasana masa-masa kerajaan dulu. Namun, tugas sudah selesai dilaksanakan. Kami pun harus kembali ke Bandung dan melanjutkan tugas yang masih menunggu disana.


-gayuh-
ditulis di Bandung 20062014

Kapangeranan Gebang Kinatar

I'm always interested in Indonesian culture, historical site and everything related to culture and history. Salah satu favorit saya adalah ketika bisa berkunjung ke bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya. Contohnya keraton, candi-candi, desa adat, museum, dan objek wisata lainnya. Beruntungnya saya, pekerjaan saya kali ini membawa saya ke sebuah cagar budaya yang terletak di Cigugur, Kabupaten Kuningan. Pada tahun 2011, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis (PBLS) Direktorat Jenderal Cipta Karya melaksanakan Pekerjaan Pelaksanaan Renovasi Cagar Budaya Nasional Tripanca Tunggal Cibubur, Kab. Kuningan Jawa Barat. Gedung Tripanca Tunggal ini secara resmi disebut Gedung Paseban Tri Panca Tunggal yang merupakan bangunan keraton milik Kepangeranan Gebang Kinatar Kuningan. Sebelumnya saya hampir tidak pernah mendengar tentang kerajaan/kepangeranan di Kuningan ini. Tetapi begitu mendengar bahwa saya akan mengunjungi salah satu keraton yang masih dipimpin oleh seorang raja dan masih melestarikan budaya dan adat setempat, maka saya pun tidak bisa menutupi antusiasme saya. 

Cagar budaya yang telah direnovasi tersebut menggunakan dana APBN Tahun Aggaran 2011. Pembangunan tersebut juga telah rampung pada tahun yang sama. Pada tahun 2014 ini, Satker PBLS akan melaksanakan proses hibah atas aset tersebut yang akan diserahterimakan kepada Yayasan Tri Mulya yang diketuai oleh pangeran dari Kepangeranan Gebang Kinatar. Dalam proses hibah ini, saya dan tim dari Inspektorat Jenderal yang berperan sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) mempunyai tugas untuk memeriksa asset yang akan dihibahkan. Hal tersebut sesuai dengan yang diamanahkan dalam Peraturan Menteri Keuangan 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara. Hasil dari pemeriksaan asset ini akan dijadikan sebagai salah satu dokumen kelengkapan proses pengajuan hibah kepada Kementerian Keuangan. Setelah pengajuan proses hibah ini disetujui, maka Satker PBLS dapat melakukan serah terima aset cagar budaya ini untuk selanjutnya dikelola oleh Yayasan Tri Mulya. Untuk selanjutnya, Yayasan Tri Mulya lah yang bertanggung jawab dalam mengelola dan memelihara bangunan ini. Hal ini tentunya akan memudahkan dalam pelestarian Gedung Paseban Tri Panca Tunggal agar tidak cepat rusak.

Hari Rabu, 18 Juni 2014, saya dan tim dari PBLS berangkat menuju Kuningan pukul 11.00 WIB. Rute awal yang akan kami lalui adalah melalui Jatinangor dan Sumedang. Namun, karena kemacetan yang terjadi di Sumedang, maka kami memutuskan untuk berputar dan melewati rute Lembang-Subang. Perjalanan menuju Kuningan ini menghabiskan waktu yang sangat lama dibandingkan waktu normal yang biasa ditempuh. Total waktu perjananan yang kami tempuh adalah 9,5 jam termasuk waktu makan dan sholat. Akhirnya pukul 20.30 WIB, kami sampai di Kepangeranan Gebang Kinatar dan langsung disambut oleh Bu Dewi yang merupakan putri dari Raja Kepangeranan Gebang Kinatar. Bu Dewi langsung mengajak kami untuk bertemu dengan Rama-panggilan Raja-di ruang Srimanganti. Kami pun menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan kami di Gedung Paseban ini. Obrolan tidak berlangsung lama, kami pun diajak untuk makan malam di ruang Jinem. 

Waktu sudah cukup malam, kami pun kembali ke Ruang Sirimanganti untuk bertemu Raja dan Ratu dan pamit menuju hotel. Pagi harinya, Kamis, 19 Juni 2014, kami kembali ke Gedung Paseban Tri Panca untuk melaksanakan tugas kami. Sesampainya di lokasi, kami kembali disambut oleh Rama dan Ratu di Ruang Sirimanganti. Tiba-tiba pikiran saya kembali ke masa kerajaan ini masih berjaya. Mungkin saat saya bertemu dengan raja dan ratu pada saat itu, saya harus melalui prosesi adat dan pastinya tidak sembarang orang yang bisa bertemu beliau. Mungkin juga, raja dan ratu ini tidak memakai baju biasa seperti orang kebanyakan, melainkan baju adat raja dan ratu yang sering kita lihat dalam film-film kolosal di TV.

Well, membayangkan saya berada di masa keemasan kerajaan sudah cukup membuat saya senang. Apalagi ditambah dengan cerita langsung dari Rama tentang babad Kepangeranan Gebang Kinatar ini. Karena lumayan penasaran mengenai sejarah kerajaan ini, saya pun bertanya langsung bagaimana kerajaan ini bisa terbentuk dan masih melanjutkan keturunannya untuk melestarikan adat dan budaya kerajaan. Walaupun secara administrasi tidak memimpin wilayah Kuningan saat ini, namun warga sekitar masih menghormati dan menghargai Rama sebagai Raja di Kepangeranan Gebang Kinatar ini. Berdasarkan cerita Rama pagi ini, Kepangeranan Gebang ini awalnya dibagi menjadi 3 Kesultanan, yaitu Kanoman, Kasepuhan, Kacirebonan. Kemudian terjadi perebutan antara 3 kesultanan tersebut, maka untuk menghindari Belanda yang waktu itu, dipindahlah Kepangeranan Gebang ke daerah Cigugur ini. Alasan pemindahan ke Cigugur adalah karena daerah ini merupakan basis dari tentara Kerajaan Mataram. Kepangeranan Gebang bekerja sama dengan Kerajaan Mataram untuk melawan Belanda. Pada akhirnya Kepangeranan Gebang dibubarkan dan keturunan Raja Gebang pada saat itu yang kebetulan adalah Kakek dari Rama bersembunyi dari Belanda dan membangun padepokan untuk mengajarkan mengenai masalah sejarah dan budaya kepada Masyarakat. Namun sayangnya, Belanda berhasil menemukan padepokan ini, maka Raja Gebang saat itu dibuang ke Bedigul di Irian Jaya. 

Walapun Rama sudah memasuki usia ke-82, tapi beliau masih sangat lancar dalam menceritakan tentang sejarah dari Kepangeranan Gebang ini. Dalam ceritanya, Rama menjelaskan bahwa Gebang ini bukanlah suatu kerajaan, bahkan beliau sendiri menyebut dirinya bukanlah seorang raja, melainkan hanya keturunan dari Kepangeranan Gebang Kinatar. Oleh karena itulah, sampai sekarang Rama dan keluarganya tetap mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dalam komunitas adat Sunda. Menurut beliau, daerah ini adalah satu-satunya daerah yang plural. Semua agama ada disini, namun satu sama lain saling menghargai. Moto atau slogan yang masih mengakar di sini adalah "Sekalipun tidak sepengakuan, kita harus sepengertian". Sepengertian tersebut mengandung makna bahwa masing-masing individu harus mempunyai kesadaran berbangsa dan bernegara. Itulah yang mendorong masyarakat disekitar masih mempunyai toleransi beragama yang sangat tinggi. Bisa dibilang konflik karena gesekan keyakinan belum pernah terjadi. Sangat indah dibayangkan jika Indonesia yang saya cintai ini bisa terhindar dari konflik horizontal dan bisa hidup dengan damai walaupun mempunyai keyakinan, suku, dan ras yang berbeda-beda.

Setiap tahunnya, tepatnya tanggal 22 Rayagung dalam penanggalan Sunda, Kepangeranan Gebang Kinatar ini mengadakan perayaan Seren Taun. Semua masyarakat adat ikut serta dalam perayaan ini. Bukan hanya masyarakat dari sekitar Cigugur saja, namun dari berbagai wilayah di Indonesia juga ikut berpartisipasi dalam perayaan ini. Bahkan wisatawan mancanegara juga turut serta menjadi bagian dalam perayaan Seren Tahun ini. Pesan-pesan yang disampaikan dalam upacara adat ini begitu kuat sehingga ia seperti pesona budaya dan menjadi refleksi rohani bagi kehidupan manusia. Perayaan ini berlangsung selama 5 hari. Hari terakhir menjadi puncak dari perayaan. Well, setelah mendengar cerita singkat dari Rama, saya cukup penasaran untuk melihat perayaan ini. Tiba-tiba saja tercetus ide untuk mengunjungi Cigugur saat perayaan Seren Taun tahun ini digelar. Ada yang tertarik?

Cerita tentang Seren Taun ini menutup cerita singkat dari Rama pagi ini. Kami pun segera melaksanakan tugas utama kami disini. Pengecekan terhadap aset Gedung Paseban Tri Panca berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Pukul 13.00 WIB, kami berhasil menyelesaikan tugas kami dan kembali ke Ruang Sirimanganti untuk berbincang-bincang sejenak dengan Bu Dewi, Rama dan Ratu sebelum melanjutkan dengan makan siang. Setelah selesai makan siang, kami pun pamit untuk kembali ke Bandung. Sebelumnya, kami tidak melewatkan untuk berfoto bersama dengan keluarga Kepangarenan Gebang Kinatar. Rasanya masih ingin tinggal dan menikmati bangungan bersejarah ini. This building is so unique dan membuat saya merasakan suasana masa-masa kerajaan dulu. Namun, tugas sudah selesai dilaksanakan. Kami pun harus kembali ke Bandung dan melanjutkan tugas yang masih menunggu disana.


-gayuh-
ditulis di Bandung 20062014

Saturday, May 10, 2014

Cuma Segitu Doank???

Pas banget hari ini tiba-tiba ada yang membuat saya sedih/capek/bingung. Saat saya merasa benar-benar bingung apa yang harus dilakukan, saat itulah saya sedikit mengeluh atas apa yang terjadi. Dan kalau dilanjutkan, maka pada akhirnya akan ada keluhan terhadap nikmat yang Alloh SWT berikan. Astaghfirulloh...
Well, di dunia ini memang selalu tidak ada yang kebetulan. Semuanya sudah tertulis di Lauful Mahfudz. Dan sore ini ketika saya merasa sedih atas apa yang terjadi, tiba-tiba saja ada broadcast message ke salah satu grup whatsapp saya yang secara tidak langsung mengingatkan saya untuk tidak merasa sedih dan mengeluh. See, how Alloh SWT loves us so much. He doesn't let us to feel sad and complaint. Let's see the broadcast message:

Buat yg lagi ngerasa capek..lelah..letih..lesu..galau..dkk:

Berhentilah Mengeluh dan Meratapi Kehidupanmu

Ada yang pernah nyicipin ditelan ikan paus?

Ada yang pernah ngerasain dibakar hidup-hidup?

Ada yang pernah ngalamin diusir dari surga?

Ada yang pernah disuruh disembelih buat jadi qurban?

Ada yang pernah dibuang ke sumur waktu masih kecil sama abang sendiri dan dipenjara gara2 difitnah menodai ibu asuh oleh bapak asuhnya?

Ada yang pernah ngalami kebuntuan dakwah 950 tahun?

Ada yang pernah dikejar-kejar buat dibunuh sama orang sekampung, termasuk sama om sendiri? Dan di kesempatan lain dilemparin batu sama orang satu desa rame-rame?

Kalo puluhan tahun ini ujian hidupmu hanya berputar-putar pada masalah:
* kesulitan uang dan segala jenis variasinya
* masalah kesehatan dengan berbagai keragamannya
* konflik dengan orang di sekeliling kita dengan berbagai jenis konfliknya
* masalah jodoh yang nggak kunjung datang atau kecepetan atau lepas lagi dan yang semisalnya
* dan segala hal remeh yang juga dialami milyaran orang di bumi ini yang mereka telah berhasil menghadapinya dengan penuh ketegaran

Maka, ayolah... Berhentilah mengeluh! Berhentilah meratapi penderitaan yang seakan tanpa ujung!
Ayo tersenyum bersamaku dan kita saling mendoakan yang terbaik untuk kita semua!

Ingatlah bahwa aku, kamu dan semua orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita nanti akan ketawa-ketawa di surga mengenang penderitaan semasa hidup yang ternyata "cuman segitu doang".

Sama seperti kita mengenang masa SMA yang penuh penderitaan sambil tersenyum, mengenangnya sebagai peristiwa manis yang takkan terlupakan, sambil berkata dengan ringan, "cuman segitu doang..."

Ustadz Abu Qawwam

Tuesday, April 29, 2014

Tiket oohh Tiket

Sudah 3 tahun lebih saya merantau di Jakarta. Dan selama 3 tahun inilah ada waktu-waktu dimana saya dan semua anak rantau di Jakarta akan mengerahkan segala kemampuan, tenaga, pikiran, gadget, koneksi internet, dan pulsa telepon (lebay mode on), hanya untuk mendapatkan selembar tiket untuk mudik lebaran. Sejak PT. KAI memberlakukan sistem pemesanan tiket secara online yang bisa dipesan sejak 90 hari sebelum tanggal pemberangkatan, maka H-90 sebelum tanggal mudik itulah hari dimana saya dan teman-teman begadang untuk memesan tiket kereta lebaran. Kenapa harus begadang? Ya karena persis pada pukul 00.00, pemesanan tiket baru dibuka. Dan yang akan memesan tiket bukan hanya saya dan segelintir orang, tetapi ada ratusan bahkan mungkin ribuan orang rantau yang juga stand bye untuk mendapatkan tiket lebaran. Well, can u imagine the situation? Let me tell you about my story in hunting the tickets!

Di tahun 2014 ini, Idul Fitri akan jatuh pada tanggal 28 Juli 2014. Setelah melihat kalender, maka sudah bisa diprediksi bahwa hari terakhir masuk kerja adalah Hari Jumat tanggal 25 Juli 2014. Berdasarkan prediksi dan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kemungkingan puncak arus mudik adalah Jumat malam, selepas jam pulang kantor dan Hari Sabtu tanggal 26 Juli 2014. Tentunya kondisi ini untuk para pekerja kantoran yang bergantung hari kerja. Sementara itu, PT. KAI juga sudah mengeluarkan informasi mengenai tanggal pemesanan untuk tanggal keberangkatan H-7 dan H+3 lebaran Idul Fitri. Untuk tanggal keberangkatan tanggal 25 Juli 2014, maka pemudik sudah bisa membeli secara online pada tanggal 26 April 2014. Sedangkan untuk tanggal keberangkatan tanggal 26 Juli 2014, maka pemesanan secara online sudah bisa dilakukan mulai tanggal 27 April 2014.

Saya dan beberapa teman yang berasal dari Banyumas dan sekitarnya sudah memutuskan untuk pulang tanggal 26 Juli 2014. Itu artinya, tanggal 27 April 2014 kemarin,  kami harus mulai begadang dan menunggu pukul 00.00 agar segera bisa langsung memesan tiket. Dari sore hari menjelang malam, saya sudah berkoordinasi dengan beberapa teman. Intinya si saling membantu. Iqror dan Ayip mengajak saya dan beberapa teman lain untuk mengantri dan membeli langsung di agent resmi PT. KAI di Stasiun Gambir. Namun, setelah dipikir-pikir akan lebih efektif dan efisien jika bagi-bagi tugas (begini amat ya mau beli tiket buat mudik, butuh strategi segala.hehe). Saya, Asty, Finik, sama Trias stand bye di kosan untuk membeli lewat online dan call centernya PT. KAI. Selain itu masih ada Kiki dan Mas Zaki yang juga berada di kosan masing-masing untuk stand bye membeli lewat online dan call center. Oh iya ada satu lagi usaha kami yaitu Finik dan Trias juga mengerahkan adik-adik mereka yang berada di rumah untuk membeli langsung di Indomart. Semuanya sudah saling menitipkan nama lengkap dan nomer KTP masing-masing. Pokoknya siapa saja yang bisa masuk sistem online maupun call centernya PT. KAI, dia yang akan berusaha untuk membelikan tiket untuk kami.

That was our strategy for hunting the tickets, maximizing our friends. It was a good strategy, wasn't it?^^
Sekarang, saya mau cerita tentang tools yang akan kami gunakan untuk memesan tiket. Iqror dan Ayip hanya membutuhkan tenaga dan kesabaran untuk mengantri di agent. Saya dan Asty yang stand bye di kamar saya sudah menyiapkan satu laptop untuk membeli online, satu galaxy note 1 untuk tethering wifi, satu blackberry untuk telepon call center, satu blackberry untuk membuka aplikasi resmi PT. KAI untuk pemesanan tiket, dan satu buah komputer tablet yang juga untuk membeli melalui online lewat web resminya PT. KAI maupun lewat www.ticket.com. Semuanya sudah dipersiapkan dengan sangat matang. Kami pun hanya tinggal berdoa agar semua lancar dan servernya PT. KAI tidak ada gangguan (ini beneran kaya mau perang). How prestigious the tickets are!! Tapi sebenarnya ini bukan hanya tentang tiket. Yang kami perjuangkan ini adalah upaya untuk berkumpul bersama keluarga masing-masing dalam moment Idul Fitri. That is irreplaceable.

Sekitar pukul 22.00 WIB, Iqror tiba-tiba menelepon dan memberi tahu bahwa nomor antrian untuk pemesanan tiket tanggal pemberangkatan 26 Juli 2014 di agent resmi yang di Gambir sudah habis. Wowww, kalau nomor antrian saja sudah habis, berarti sudah tidak ada kemungkinan untuk membeli tiket lewat agen ini. Tapi dia tetap stand bye di Gambir. Ya siapa tahu masih ada keajaiban. Don't ever lose hope!

Pukul 00.00 WIB. Perjuangan dimulai. Saya sudah membuka halaman web PT. KAI dan www.tiket.com sebelum pukul 00.00. Tapi saat mendekati pukul 00.00, webnya tetap tambah lemot. Bahkan tiba-tiba muncul notifikasi 'the connection was reset'. Dihalaman sebelahnya juga sudah dibuka www.tiket.com. Awalnya cukup masih lancar, saya bisa masuk ke page dimana saya memilih stasiun awal, stasiun tujuan, tanggal pemberangkatan dan jumlah penumpang. Tapi saat sudah klik 'cari', webnya kembali lemot. Asty sudah stand bye dengan BBnya menelepon 021121, call center pemesanan tiket PT. KAI, tapi selalu sibuk. Begitu pula dengan tabnya, tidak bisa masuk ke webnya PT. KAI. Saya sudah hampir panik. Soalnya malam sebelumnya saya juga sudah begadang sendirian untuk memesan tiket untuk teman saya. Hasilnya nihil. Webnya down, telepon call center juga tidak bisa masuk. Tiba-tiba saya ingat aplikasi pemesanan tiket kereta di BB saya. Saya pun membukanya dan alhamdulillah bisa masuk. Saking senengnya malah tambah gemetar.hehe. Karena dari awal kami ingin naik kereta Purwojaya, maka saya pun fokus ke jadwal, harga, dan jumlah kursi yang masih tersedia. Saat itu masih lumayan banyak jumlah kursi yang tersedia. Tanpa pikir panjang, saya memilih kelas eksekutif untuk 4 orang pertama (Saya, Asty, Mas Zaki dan Kiki) dengan harga @Rp 300.000,00. Saya pun lupa untuk mencari tiket promo karena saking buru-burunya. Tibalah saat pengisian biodata yang lumayan terhambat karena si aplikasi meminta data nomor handphone dan tanggal lahir. Saya pun bbm Mas Zaki dan Kiki untuk tanya tanggal lahir dan nomor handphone mereka. Setelah semua lengkap, kami pun berniat untuk memindah kursi agar kami duduk depan dan belakang. Tapi saat memilih kursi, tiba-tiba sistem memberi tahu bahwa kursi sudah terisi. Daripada terlalu lama memilih dan kami kehabisan, maka kami pun melanjutkan proses pemesanan. Alhamdulillah, 4 orang ini berhasil mendapatkan tiket lebaran untuk tanggal pemberangkatan 26 Juli 2014. Kami pun mendapatkan kode bayar yang harus diinput saat melakukan pembayaran. 

Well, sedikit bisa menghela napas. Sekarang tugas Asty untuk melakukan pembayaran melalui internet banking. Trias yang tadinya berada di kamar akhirnya bergabung dengan saya dan Asty di kamar saya. Misi selanjutnya adalah membeli tiket untuk Trias, Finik, Iqror dan Ayip. Karena Iqror memilih untuk pulang sore hari, maka pemesanan kedua-masih menggunakan aplikasi di BB-hanya untuk Finik dan Trias yang sama-sama memilih kereta Purwojaya. Alhamdulillah tanpa hambatan yang berarti. Tiket Finik dan Trias sudah berhasil di booking. ^^

Sekarang cerita pemesanan tiket untuk Iqror dan Ayip agak sedikit miris karena mereka hampir kehabisan tiket. Karena Iqror yang beberapa kali request ganti kereta, maka beberapa kali saya harus mengulang proses pemesanan dari awal. Dan itu pastinya takes time kan. Benar saja, saat saya selesai mengetik informasi pemesan, tiba-tiba tiket sudah habis. Saat saya kembali mencari kereta lain pun ternyata tiket sudah habis semua. Saya pun terpaksa memberi kabar tidak sedap ini kepada Iqror dan Ayip sambil meyakinkan mereka bahwa saya masih akan terus memantau melalui aplikasi ini. Ya siapa tahu ada yang membatalkan tiket. Benar saja, tidak ada 15 menit berlalu, saya kembali membuka aplikasi lagi dan alhamdulillah masih ada 2 buah tiket. Saya langsung mengisi informasi pemesan dengan cepat agar tidak keduluan oleh penumpang lain. Alhamdulillah, tiket untuk Iqror dan Ayip berhasil di booking. Wooooww,, I was so relief and gratefull. Akhirnya semua mendapatkan tiket untuk pulang ke kampung halaman kami tercinta. Oiya, ada satu lagi yang berhasil mendapatkan tiket. Riris yang tiba-tiba datang ke kamar saya juga berhasil mendapatkan tiket pulang kampung tujuan Pekalongan. Kami pun kembali ke kamar kami masing-masing sekitar pukul 02.30 WIB. Alhamdulillah bisa tidur nyenyak. ^^

Well, that was our story and it is not over. We still have to hunt the tickets for going back to Jakarta. Pemesaan tiket balik baru bisa dipesan seminggu kemudian. Don't worry, we are still ready to faight!! hahaha.
Sekian,, Adios!!


-Gayuh-
29042014

Monday, April 14, 2014

Lombok yang Unik dan Indah

Garuda Indonesia diatas Gunung
Saya patut bersyukur terhadap Alloh SWT atas kesempatan yang diberikan. Pekerjaan saya saat ini memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa mengunjungi beberapa pulau-pulau yang ada di Indonesia, bahkan sampai ke lokasi pedalaman yang bukan merupakan tujuan wisata. Yang lebih istimewa lagi adalah maskapai penerbangan yang disediakan oleh kantor adalah Garuda Indonesia. Mungkin sebagian besar sudah tahu kenapa maskapai penerbangan ini istimewa. Kalau menurut saya, Garuda Indonesia merupakan maskapai yang sangat identik dengan Indonesia. Dari namanya saja sebenarnya sudah terlihat. Ditambah lagi dengan seragam para pramugari yang menurut saya benar-benar membawa image budaya Indonesia. Setelan atasan dan kain batik yang dipakai selalu membuat para pramugari Garuda Indonesia terlihat lebih anggun. Pelayanan kepada pengunjung saat on board pun sangat ramah dengan ditambah menu-menu makanan yang enak. Ada satu hal yang selalu saya lakukan setelah pesawat take off yaitu membaca Colours-majalah bulanannya Garuda Indonesia. Majalah ini selalu menarik perhatian saya karena isi yang disajikan benar-benar informatif terutama mengenai tempat-tempat yang direkomendasikan sebagai tujuan untuk liburan. Jika anda kurang berminat untuk membaca, foto-foto yang disajikan pun sudah cukup mewakili keindahan dan informasi dari tempat-tempat tersebut. Setiap bulannya, Colours selalu mempunyai informasi baru dan unik yang sangat sayang jika dilewatkan.


Majalah Colours Edisi Januari 2014


Dari beberapa provinsi yang pernah saya kunjungi dalam rangka penugasan dari kantor, ada satu provinsi yang membuat saya jatuh cinta akan keindahan dan keunikan yang dimiliki. Pada pertengahan Januari 2014 ini, saya berkesempatan untuk melaksanakan tugas kantor di Provinsi Nusa Tenggara Barat selama 7 hari. Yang pertama terngiang di kepala saya ketika mendengar provinsi ini adalah Pulau Lomboknya dengan pantai dan pemandangan bawah lautnya yang sangat bagus. Sebenarnya, Lombok sudah menjadi salah satu wishlist yang ingin dikunjungi pada tahun 2013. Dan alhamdulillah, doa saya terjawab saat awal tahun 2014 ini. Saya pun membuat strategi agar pekerjaan saya bisa selesai lebih cepat sehingga weekend bisa saya manfaatkan untuk pergi ke pantai.

Minggu, 12 Januari 2014
Akhirnya hari Minggu tiba juga. Setelah membereskan hampir seluruh pekerjaan dan ditambah kantor perwakilan juga libur pada hari Minggu, maka saya pun mantap untuk meng-eksplore pantai-pantai indah di pulau ini. Berbekal informasi yang saya dapatkan dari browsing di internet dan nomor travel agent di sini yang didapat dari seorang teman, maka saat Sabtu malam saya langsung booking mobil plus supirnya selama 12 jam untuk mengantar saya kemana saya ingin. Minggu pagi sekitar pukul 09.00 WITA, pak supir dan mobilnya sudah menunggu saya di lobby hotel. Saya pun bergegas turun dan siap untuk berangkat. Saya baru pernah liburan sendirian seperti ini karena ketua tim saya tidak mau untuk ikut jalan-jalan. Beliau sudah hampir 6 kali ke sini jadi sudah hampir pernah mengunjungi tempat-tempat yang indah disini.

Perjalanan tidak sekaku yang saya bayangkan. Pak Awan sang driver selalu menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati. Beliau juga cerita tentang sejarah bagaimana orang-orang Bali dulunya bisa menghuni Pulau Lombok ini. Salah satunya adalah karena adanya ekspansi besar-besaran Kerajaan Bali ke wilayah Lombok. Akibatnya, banyak Pura yang terletak di Kota Mataram ini. 

Rumah Adat Suku Sasak Desa Sade
Tempat selanjutnya yang kami singgahi adalah Desa Sade-desa adat Susu Sasak-suku asli Pulau Lombok. Desa ini sudah dijadikan sebagai desa wisata oleh Pemerintah Provinsi NTB. Konon kata Pak Awan dan guide lokal yang menemani saya berkeliling, Desa Sade ini masih menjunjung tinggi warisan budaya dan adat istiadat nenek moyang Suku Sasak. Hal itu bisa terlihat pada saat sesampainya saya dipintu gerbang masuk Desa Sade. Seluruh rumah dan bangunan di dalam desa ini masih bergaya tradisional. Atapnya masih memakai ijuk dan pagar rumahnya masih menggunakan anyaman dari bambu. Lantainya masih ada yang beralaskan tanah, namun tidak sedikit yang sudah bealaskan plester semen. Selain keaslian rumah dan bangunannya, ternyata kehidupan masyarakat Desa Sade ini juga masih tradisional. Warga Desa Sade sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani padi. Karena sawah di Desa Sade adalah sawah tadah hujan, maka mereka hanya panen sekali dalam setahun. Hasil panennya pun tidak untuk dijual melainkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagai perkerjaan sampingan, warga Desa Sade mengerjakan tenun ikat. Hal yang unik dalam pembuatan tenun ikat ini adalah semuanya dikerjakan secara manual dari pembuatan benang sampai pewarnaan benang. Walaupun begitu, hasil tenun tersebut bisa dibilang cukup berkualitas karena kain tenun yang dihasilkan tidak mudah luntur. 

Belajar Menenun
Prosesi perkawinan di Desa Sade ini juga sangat unit. Prosesnya dimulai ketika ada seorang pria dan wanita yang saling suka. Ketika mereka hendak melangkah ke jenjang perkawinan, maka harus ada proses 'penculikan'. Penculikan yang dimaksud adalah sang pria membawa sang wanita ke rumahnya tanpa sepengetahuan orang tua dari wanita tersebut. Di rumah sang pria pun, sang wanita hanya tinggal dan menginap semalam. Mereka tetap tidak boleh melakukan hal-hal yang dilarang. Biasanya hal tersebut dilakukan pada malam hari. Pagi harinya dari pihak pria mengirim utusan kepada orang tua pihak wanita dan memberi tahu bahwa anak wanitanya tidak hilang atau dibunuh melainkan sudah diculik oleh sang pria tersebut. Setelah ada utusan, orang tua dari calon mempelai wanita sudah mengerti bahwa anak gadisnya sudah ada yang meminang. Mereka  tidak bisa menolak atau tidak setuju pada hubungan anak wanitanya dan pria tersebut. Sang ayah harus bersedia menjadi wali dan menikahkan anak gadisnya dengan sang pria yang telah menculiknya.


Pantai Tanjung Aan
Wisata sejarah dan budaya sudah selesai, selanjutnya tujuan kami adalah Pantai Tanjung Aan. Dari blog yang saya baca, Pantai Tanjung Aan ini sangat indah. Pantai dengan warna toska dan pasir putihnya membuat saya jatuh cinta pada pantai ini. Sebenarnya, pantai yang terkenal di Lombok adalah Pantai Kuta dan Pantai Pink. Namun sayang akses menuju ke Pantai Pink rusak parah sehingga tidak bisa dilewati mobil. Pantai Kuta terletak cukup dekat dengan Pantai Tanjung Aan. Dan saya memilih untuk berkunjung ke Pantai Tanjung Aan karena penasaran akan keindahan yang saya lihat dari foto.

Sesampainya di Pantai Tanjung Aan, saya langsung takjub dengan keindahan pantai ini. Bagaimana tidak, komposisi dari gradasi warna laut yang indah, pasir putih, pasir merica dengan bukit-bukit yang mengelilingi sungguh membuat pantai ini benar-benar sangat indah. Mungkin ini pantai terindah yang pernah saya liat. Beberapa wisatawan mancanegara sedang asik dengan kegiatan selancarnya, sementara wisatawan domestik asik mengabadikan moment-moment dengan foto atau hanya sebatas mengobrol dipinggir pantai. Saya pun tak lupa untuk mengambil foto di beberapa spot yang menurut saya paling bagus.

Setelah puas menikmati indahnya Pantai Tanjung Aan, saya pun diajak untuk makan makanan khas di Kabupaten Lombok Timur. Namanya adalah Nasi Balap. Warung makan yang cukup sederhana ini terletak di dekat lokasi Bandara Lombok. Nasi Balap ini konon katanya sudah terkenal hingga ke Eropa. Satu porsi Nasi Balap terdiri dari nasi putih, kering kacang, ayam suwir kering, ayam pelcingan dan kacang kedelai yang disajikan menggunakan daun pisang. Pengunjung bisa menambah ayam goreng jika dirasa masih kurang. Bagi pecinta pedas, Nasi Balap ini sangat wajib untuk dicoba karena sambel yang disajikan sangat pedas. 

Panti Tanjung Aan dengan gugusan karangnya




Nasi Balap
Setiap kali saya mengunjungi suatu tempat yang baru pernah saya kunjungi, saya selalu mencari tahu mengenai budaya setempat, tempat wisata, bahasa daerah, dan tak lupa mengenai kuliner khas di daerah tersebut. Kesemua hal tersebut hampir berbeda-beda di masing-masing daerah. Hal tersebutlah yang membuat rasa cinta terhadap Indonesia menjadi semakin meningkat. Bagaimana tidak, Indonesia itu sangat kaya akan ragam dan budaya di masing-masing daerah yang hanya bisa ditemui di negeri kita tercinta ini. Rasa nasionalisme saya menjadi semakin meningkat ketika saya mulai mengenal sosok Pandji Pragiwaksono. Pertama kali kenal dengan sosok ini adalah ketika Pandji menjadi host kuis yang memberikan pertanyaan kepada masyarakat tanpa membuat masyarakat tersebut tahu kalau sedang ikut suatu kuis. Tak berhenti sampai disitu, salah satu teman saya merekomendasikan untuk mencari video di youtube tentang stand up comedy yang dilakukan oleh Pandji di salah satu cafe di daerah Kemang. Dari situ, saya suka dengan materi-materi yang dibawakan oleh Pandji terutama saat menyinggung tentang kritik-kritik terhadap kondisi politik negeri ini. Saya pernah merasa pesimis akan kondisi bangsa ini akan banyaknya kasus korupsi dan berbagai masalah yang ada. Namun, setelah beberapa kali melihat Pandji, saya pun mulai optimis bahwa Indonesia masih punya harapan menjadi lebih baik. Saya juga mengenal Pandji dari tulisan di blog dia. Salah satu tulisan yang membuat saya merinding selama membacanya adalah tulisan mengenai Bapak Anies Baswedan. Dari situ, saya percaya masih banyak orang baik yang mendambakan Indonesia lebih baik. Salah satunya Bapak Anies Baswedan yang telah berhasil mengarahkan ribuan pemuda-pemudi terbaik bangsa untuk menjadi Pengajar Muda di SD yang terletak di pelosok-pelosok Indonesia. Karena menurut Pak Anies, pendidikan adalah ekskalator dalam bidang sosial ekonomi dan bisa membawa gelombang baru untuk Indonesia.

Semoga karya-karya Bang Pandji selanjutnya semakin sukses dan semakin bermanfaat untuk negeri yang kita cintai ini, Indonesia. Selamat berkarya bang!!


Monday, March 24, 2014

Kontribusi Kementerian Pekerjaan Umum dalam Mengurangi Dampak Perubahan Lingkungan


Perubahan iklim yang terjadi saat ini disebabkan karena adanya peningkatan aktivitas manusia yang menghasilkan gas CO2 yang selanjutnya akan mengakibatkan lapisan atmosfer bumi menebal. Dengan menebalnya lapisan atmosfer bumi, maka sinar matahari yang diserap pun semakin banyak. Hal tersebutlah yang menyebabkan suhu rata-rata di bumi naik dan mengakibatkan terjadinya bencana alam dan cuaca ekstrim di hampir seluruh belahan bumi.

Menghadapi dampak dari pemanasan global tersebut, banyak pihak berlomba-lomba untuk ikut berkontribusi menyelamatkan lingkungan. Banyak forum-forum diskusi baik secara nasional maupun internasional yang diselenggarakan untuk mencari solusi dan mengumpulkan komitmen bersama dalam mengurangi dampak dari pemanasan global. Kementerian Pekerjaan Umum sebagai institusi pemerintah yang bergerak di bidang pembangunan infrastruktur juga telah ikut berpartisipasi untuk mengurangi dampak pemanasan global melalui program-program kegiatan di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum. Salah satunya adalah pembangunan Gedung Utama Kementerian Pekerjaan Umum dengan konsep green building. Kenapa konsep green building ini termasuk salah satu solusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim? Berikut ada fakta tentang bangunan gedung yang dikeluarkan oleh IPCC Fourth Assessment Report on Climate Change 2007, yaitu:

  • Bagunan gedung menghabiskan lebih dari 1/3 sumber daya dunia untuk konstruksinya;
  • Menggunakan 40% dari total energi global;
  • Menggunakan 12 % dari total persediaan air bersih;
  • Menghasilkan 40% dari total emisi greenhouse gas (GHG);
  • Pada tahun 2030, diperkirakan 1/3 total emisi CO2 dunia berasal dari bangunan gedung, dengan penyumbang terbesar dari negara-negara di Asia.

Dengan adanya konsep green building ini diharapkan dapat mengurangi penggunaan sumber daya dunia. Dari awal pembangunannya, green building ini memakai material-material yang ramah lingkungan dengan didukung dengan konstruksi yang berkelanjutan. Green building ini juga bertujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku pengguna gedung karena adanya resources management untuk mengurangi kelangkaan sumber daya alam. Oleh karena itu, green building dianggap sebagai metafora dari Bangunan Berkelanjutan dan sebagai bagian dari upaya “green” yang sistemik, termasuk secara spasial.

Dukungan lain dari Kementerian Pekerjaan Umum dalam menghadapi climate change adalah melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dengan mewujudkan Green Neighbourhood dan Green District. Adapun langkah-langkah yang diambil adalah sebagai berikut:

  • Percepatan penyusunan Rancangan Perda Bangunan Gedung sejak tahun 2012;
  • Penyusunan NSPK terkait dengan Bangunan Gedung Hijau;
  • Pembinaan terhadap semua stakeholder terkait;
  • Penyelenggaraan Bangunan Gedung yang meliputi pemerintah, Pemda, masyarakat, asosiasi profesi, akademisi, dunia usaha, dan lain-lain;
  • Pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan tentang Bangunan Gedung Hijau;
  • Pendampingan kepada daerah dalam program revitalisasi kawasan dan perencanaan Ruang Terbuka Hijau.

Selain langkah-langkah di atas, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga juga berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim dengan membangun jalan dengan konsep “Jalan Hijau”. Apa itu jalan hijau? Jalan hijau adalah penyelengaraan jalan yang menerapkan prinsip lingkungan dalam pembiayaan, perencanaan, desain, konstruksi dan pemeliharaan jalan, serta penanganan dampak perubahan iklim. Berikut prinsip-prinsip dalam pembangunan “Jalan Hijau”:

  • Memanfaatkan energi dan pemanfaatan air secara minimal
  • Jalan sebagai penyimpan energi, penampungan air dan penyimpan energi surya. Contohnya pembangunan drainase, jalan porus dan lampu jalan yang menggunakan energi surya.
  • Mengurangi penggunaan sumber daya alam yang tidak terbarui
  • Penggunaan material jalan yang mengurangi dampak lingkungan yaitu dengan melakukan uji limbah B3 untuk material jalan baru.
  • Lansekap jalan yang bersinergi dengan sekitar. Contohnya jika jalan yang dibangun melalui kawasan hutan lindung atau wilayah konservasi, maka pembangunan jalan tersebut tidak boleh merusak dan mengganggu fungsi dari hutan lindung dan wilayah konservasi tersebut.
Kontribusi Kementerian Pekerjaan Umum dalam mengurangi dampak perubahan iklim tidak berhenti sampai disitu saja. Melalui Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian PU mengambil langkah dalam mewujudkan keberlanjutan kota yang tidak akan menggerus kawasan perdesaan/penggiran, memiliki keberpihakan pada pelestarian lingkungan, dengan didorong oleh peran masyarakat, melalui program-program yang nyata dan kreatif serta berbasis penataan ruang.

Salah satu program dari Direktorat Jenderal Penataan Ruang dalam mengurangi dampak perubahan iklim adalah menjalankan Program Pengembangan Kota Hijau yang selanjutnya disingkat P2KH. Program tersebut merupakan program kolaboratif antara pemerintah kota/kabupaten dengan komunitas hijaunya, yang dikoordinasikan oleh pemerintah provinsi dan difasilitasi oleh pemerintah pusat.

Program P2KH dimulai pada tahun 2011 dan hingga saat ini program P2KH telah berkontribusi dalam pembangunan kota hijau di Kab/Kota di Indonesia. Ruang Lingkup P2KH pada tahun 2011-2013 dan arah pelaksanaan P2KH ke depan (2014 – 2019) adalah sebagai berikut:

  1. Awal (2011): penandatanganan piagam komitmen kota hijau untuk aksi nyata. 
  2. Ruang Lingkup (2012-2013):
    • Rencana Aksi Kota Hijau
    • Kampanye Kota Hijau oleh Forum Komunitas Hijau
    • Peta Komunitas Hijau
    • Master Plan RTH and Detailed Engineering Design (DED):
    • Pilot Project Perwujudan RTH Perkotaan (5000 m2)
    • Pilot Project Perluasan Atribut Kota Hijau (pedestrian, jalur sepeda, bank sampah, dll).
  3. Arah pelaksanaan P2KH ke depan (2014 – 2019)

  • Penanganan dan Perwujudan Taman & Hutan Kota Strategis Nasional;
  • Integrasi Green & Blue Development (termasuk penanganan bantaran sungai strategis sebagai Green Corridor untuk mengurangi risiko banjir dan pembangunan kolam retensi perkotaan untuk fresh water supply);
  • Penyiapan Urban Climate Plan dalam rangka Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim pada skala Perkotaan.
Dengan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum tersebut diharapkan dapat berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dan peran serta masyarakat. Jadi sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program-program pemerintah khususnya Kementerian Pekerjaan Umum sangat dibutuhkan agar tercipta pola hidup yang peduli terhadap lingkungan. 


-Gayuh-
 19032014

Dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan Pelatihan Greenship Associate Plus Angkatan 5