Pages

Sunday, November 25, 2012

Kuliah Sore Bareng Babeh


Pada suatu sore, hari ketiga libur panjang di rumah diisi dengan mendengarkan ceramah singkat dari Ayah tercinta. Kebetulan anggota keluargaku udah full team. Adek yang sedang KKN pun sudah kembali ke rumah. Jadi saat tiba-tiba semuanya berkumpul di depan televisi, tiba-tiba pula Babeh menceritakan sebuah cerita. Bukan cerita dongeng pastinya, tapi sebuah kisah nyata yang di dalamnya tersirat sebuah pesan. Babeh menceritakan bagaimana kita harus siap terhadap perubahan jaman. Mungkin Babeh nggak bilang secara eksplisit mengenai pesan tersebut, tapi itu hasil dari interpretasiku sendiri. 

Dimulai dari cerita seorang Bidan di kompleks rumahku yang awalnya ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk berobat atau bersalin. Namun tahun berganti tahun, muncullah pemudi-pemudi yang berprofesi sebagai Bidan. Maka, masyarakatpun mempunyai pilihan dimana tempat untuk bersalin dan berobat. Pada titik inilah Bidan yang pertama harus siap terhadap persaingan dengan munculnya Bidan-bidan baru tersebut. Bidan yang lama harus mempunyai strategi untuk bersaing dengan Bidan-bidan baru tersebut. Namun pada kenyataannya, Bidan yang pertama kurang sigap terhadap kondisi ini. Apa yang terjadi, Bidan yang pertama terkesan 'memusuhi' Bidan-bidan baru tersebut atau bahkan dia terkesan tidak bersimpatik kepada warga masyarakat yang tidak memakai jasanya. 
Dari cerita tersebut Babeh mengingatkanku dan adekku bahwa hidup itu selalu dinamis, selalu bergerak dan selalu berubah. Karena hal yang sudah pasti tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. *kalau ini aku copast dari iklan sebuah televisi :)

Babeh mengingatkan kami kalau pada saat tertentu kami memegang kendali akan sesuatu, maka kami juga harus siap kalau kendali tersebut akan lepas karena ada pihak lain yang mengambilnya. Contohnya beberapa tahun lalu saat handphone belum populer, kami mempunyai sebuah warung telepon di rumah kami. Bisa dibilang wartel ini adalah wartel satu-satunya di desa kami. Pada saat itu semua orang yang membutuhkan jasa telekomunikasi, bisa datang ke wartel kami. Masyarakat juga bisa memakai jasa wartel kami untuk menerima telepon dari luar negeri karena beberapa masyarakat ada yang mengadu nasib di luar negeri sebagai TKI. Seiring berkembangnya waktu, handphone pun mulai populer di kalangan masyarakat. Pada akhirnya, telepon rumah sudah mulai ditinggalkan karena hampir semua orang bisa memiliki handphone. Disaat ini pula, provider dari telepon rumah kami tiba-tiba memberitahu kami bahwa mereka harus mencabut jaringan telepon rumah kami karena ada masalah jaringan di daerah kami. Akhirnya dengan dua alasan tersebut, usaha wartel kami harus ditutup karena jasa kami sudah tidak digunakan lagi. Pada saat itu kami tidak menyalahkan orang-orang yang sudah memakai jasa kami atau provider telepon rumah. Babeh dengan ikhlas menutupnya dan menerima bahwa inilah perkembangan jaman yang tidak bisa kita kendalikan.

Pelajaran yang bisa aku ambil dari 'kuliah sore' bareng Babeh kali ini adalah harus selalu siap dengan perubahan yang terjadi. Kita tidak harus menghindari perubahan tetapi harus mempunyai strategi untuk menghadapinya sehingga kita tidak akan tertinggal. Dari cerita Babeh, aku menangkap bahwa Beliau ingin menanamkan pada anak-anak nya agar selalu ikhlas dan tidak menyalahkan orang lain apapun yang terjadi kepada kami. Tiba-tiba dalam hati yang terdalam, rasa bangga mempunyai Babeh seperti ini menghinggapiku. Terima kasih untuk cerita sore ini. Thanks Alloh SWT for giving me a chance to be his daughter. My father is the best father ever for me and my brother. He is my best adviser and partner for discussion. Love you as always, Babeh. :*


-17112012-
-Gayuh-

Sunday, November 11, 2012

Oleh-oleh Long Weekend

Liburan panjang Idul Adha kali ini diisi dengan pulang kampuunggggg. Dan dipastikan setiap kali pulang kampung a.k.a mudik pasti selalu exited gini. Ya pastilah, semua yang dirindukan ada di Purwokerto. Orang tua tersayang, rumah yang nyaman, teman-teman yang menyenangkan, suasana kota kecil yang tenang, udara yang segar serta semua kenangan indah dan sedih selama 22 tahun hidup disana sebelum merantau di Jakarta. Semua yang ada disana selalu membuat saya ingin kembali menikmati indahnya hidup disana. Tapi saya bersyukur bisa bekerja di Jakarta karena dengan begitu saya bisa menikmati setiap detik saat-saat mudik ke kotaku tercinta, Purwokerto. ^.^
Ada yang lebih spesial dalam perjalanan mudik kali ini. Saya bertemu banyak teman-teman SMA di dalam kereta. Ada Lintunk, Mita, Krisna, Ratih, Prima, dan Finik. Kami tau kalau kami satu kereta setelah melihat status di twitter kalu kami naek kereta Sawunggalih. Akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul di restorasi setelah pengecekan tiket. Karena saya berada di gerbong pertama, maka saya-lah yang memulai perjalanan menuju ke restorasi. Satu persatu saya menghampiri teman saya. Dimulai dari Mita di gerbong 3, kemudian ada Prima, Krisna, Ratih dan Finik di gerbong 5, dan diakhiri dengan Lintunk di gerbong 7. Orang-orang di dalam kereta yang melihat kami berbondong-bondong berjalan ke arah belakang mengira kami didepak karena tidak punya tiket.Hahaha, kami hanya tersenyum senyum sambil lalu. 
Kami habiskan setengah perjalanan dengan bersenda gurau dan bercerita. Sebagian cerita masih seputar cerita jaman SMA yang ternyata bikin kangen juga kalau denger cerita soal jaman SMA.hehe. Setelah puas makan di restorasi, bercanda dan bercerita, akhirnya kami kembali ke tempat duduk kami masing-masing dan menghabiskan setengah perjalanan dengan tidur.
Menurut saya, perjalanan pulang kali ini berasa sangat lama. Entah karena saking pengennya pulang, atau kereta yang dinaiki beda kelas dengan kereta yang dipake pada perjalanan pulang sebelumnya. :D Akhirnya pada pukul 01.30 am kereta ini sampai di Stasiun Besar Purwokerto. Didepan stasiun sudah disambut dengan senyuman terhangat didunia dari Bapak dan Ibu. Terima Kasih ya Alloh untuk melihat mereka tersenyum karena saya.
Sampai disini dulu oleh-oleh long weekendnya. Selanjutnya ada cerita dari liburan saya di rumah.


-Gayuh-

Friday, October 12, 2012

West Borneo and The Story Behind.... #3

Ada cerita lagi dalam perjalan kami menuju hotel di Bengkayang. Yang paling mengharukan dari perjalanan malam itu dari Derit menuju Bengkayang adalah salah satu orang satker Pontianak yang ikut kami dalam survey lapangan, tiba-tiba mendapatkan telp dari saudaranya. Keadaan yang tadinya dipenuhi canda tawa dan obrolan seru tiba-tiba berubah menjadi hening dan hanya terdengar tangis dari si penerima telepon tadi. Mas eko namanya, dia disuruh secepatnya kembali ke Jakarta karena tiba-tiba kondisi ayahnya yang sedang dirawat dirumah sakit karena penyakit jantung, tiba-tiba masuk ICU dan sudah tidak sadarkan diri.
Kebetulan malam ini, Mas Eko yang menyetir mobil. Dengan kondisi Mas Eko yang demikian, maka mobil berhenti di tengah perjalanan kami agar dia bisa menerima telepon dengan tenang. Keadaan semakin hening dan haru dengan gelapnya dan sepinya jalan malam ini. Kami berada di tengah perjalanan dengan hutan disebelah kanan dan kiri kami. Kondisi jalan sangat sepi dengan hanya sesekali kendaraan lain lewat dan tidak adanya penerangan jalan.
Mobil yang kami bawa hanya satu, maka saat itu tidak memungkinkan untuk Mas Eko kembali langsung ke Pontianak karena tim kami juga harus melanjutkan survey lapangan keesokan harinya. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Bengkayang untuk menginap di hotel sebelum melanjutkan perjalanan ke proyek besoknya. Sedangkan Mas Eko kembali ke Pontianak dengan menggunakan taksi pada pukul 22.00 dari hotel.
Sepanjang perjalanan dari pemberhentian mobil kami tadi, saya langsung teringat dengan orang tua saya di rumah. Mas Eko yang orang tua nya di Jakarta, sudah hampir 3 tahun tidak kembali ke rumah. Yang membuat dia sangat sedih dan menyesal adalah kepulangannya kali ini untuk melihat kondisi ayahnya yang sudah tidak sadarkan diri. Dari sini saya langsung berfikir beruntungnya saya yang masih diberi kesempatan bisa pulang ke Purwokerto mengunjungi orang tua saya lebih dari sekali dalam satu tahun.
Dalam hati saya terus berfikir bahwa, kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi satu jam  yang akan datang bahkan satu menitpun kita tak bisa tau. Beberapa jam yang lalu, saat memulai perjalanan dari Derit, Mas Eko adalah orang yang paling ceria dan kocak diantara kami. Bahkan saat di dalam mobil pun, dia yang membuat perjalanan kami menjadi ramai. Tapi berita yang dia dapat secara tiba-tiba bisa merubah orang yang paling ceria tersebut menjadi orang yang paling sedih dan merana. 
Pada pukul 24.00 WIB, kami mendengar kabar kalau ayahnya Mas Eko sudah pulang ke Rahmatulloh. Mungkin dalam perjalanan menuju Pontianak, Mas Eko juga sudah mendengar kabar ini dan pastinya rasa sedih dan menyesal lebih menghinggapi dia. Dia tidak bisa sampai ke Jakarta pada saat ayahnya masih hidup. Tapi apapun yang dia rasakan, memang inilah takdir dari Alloh SWT. Yang harus dilakukan adalah ikhlas dan pasrah menghadapi ini semua. Semoga Mas Eko dan keluarga di beri ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi ini. 
Cerita ini menjadi renungan saya karena saya juga berada jauh dari orang tua. Betapa kematian orang yang kita sayangi bisa merenggut kebahagian dan keceriaan kita saat itu juga. Betapa penyesalan karena jarang mengunjungi orang tua itu selalu datang terakhir. Tapi itulah hidup. Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang bisa kita lakukan hanya berbuat sebaik-baiknya saat ini sehingga ketika kematian menjemput kita atau orang yang kita sayangi, setidaknya kita sudah sedikit siap untuk menerima itu.
Marilah kita membahagiakan dan menyayangi kedua orang tua kita selagi kita masih diberi kesempatan untuk bersama mereka. Marilah kita luangkan waktu sejenak untuk setidaknya menjenguk mereka dan berkumpul bersama mereka.
Luv my parents as always!

-01102012- 

-Gayuh-

Tuesday, October 9, 2012

West Borneo and The Story Behind.... #2

Tibalah saatnya pemeriksaan lapangan. Karena paket pekerjaan yang akan kami liat lokasinya jauh dari satu paket ke paket yang lainnya, akhirnya ketua tim kami membagi kami menjadi tiga tim. Saya bersama senior saya melihat paket pekerjaan ke arah timur Kalbar dan dilanjut ke arah utara yaitu Kabupaten Sintang dan Kabupaten Bengkayang. Ada lima paket pekerjaan yang kami liat. Namun, antara lokasi satu dan yang lain harus ditempuh berjam-jam dengan jalur darat. Alhamdulillah pemeriksaan lapangan kali ini saya kebagian tempat yang bisa ditempuh dengan jalur darat. Hari pertama kami melihat dua paket pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan perkuatan tebing wilayah sungai di Kabupaten Landak dan Sekadau. Kemudian bermalam di Sintang untuk melihat satu paket pengamanan banjir keesokan harinya. Kemudian kami lanjut ke Kabupaten Bengkayang dengan menempuh perjalanan kurang lebih 11 jam. Di tengah jalan menuju Bengkayang, kami berubah personil. Orang yang mengantar kami ke Sintang berbeda dengan yang mengantar kami ke Bengkayang. 
Perjalanan panjang malam kedua kami diisi dengan topik yang masih sama dengan perjalanan kami malam sebelumnya. Sepanjang jalan, kami membicarakan soal konflik yang beberapa tahun lalu muncul di bumi khatulistiwa ini. Konflik antar suku yang melibatkan suku Dayak dan Madura yang benar-benar menggoncang keamanan dan situasi di sini. Beruntung sekali pada saat kami kesini, konflik tersebut sudah menjadi sejarah. Dari salah satu pengantar kami, diceritakan pula kalau ada satu lagi konflik antar suku yaitu antara suku Madura dan Melayu yang memakan korban ratusan manusia. Bulu kuduk saya merinding sepanjang perjalanan. Apa yang mereka ceritakan lebih mengerikan dari yang saya dapat dari media. Benar-benar detail dari kronologis, penyebab dan akibat yang terjadi. Sungguh sangat disayangkan mengapa konflik antar suku seperti ini sering terjadi di Indonesia.
Dari cerita tersebut, terlintas di benak saya bahwa ternyata keberagaman suku dan budaya di Indonesia bukan menjadi sesuatu yang layak untuk kita banggakan kalau masing-masing dari kita tidak bisa menghormati keberadaan dan kepentingan orang lain yang beda suku dan budaya. Terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang memulai konflik tersebut, hal ini lebih terjadi karena (mungkin-menurut saya) masih terdapat sifat chauvinisme atau paham yang mengganggap suku atau daerah kita yang paling bagus disamping sifat egois dan emosional yang mungkin bisa jadi faktor pemicu juga. Selain itu, ada pula yang mengartikan paham tersebut sebagai pengkerdilan pemikiran yang akhirnya tercipta diskriminasi didalam hubungan yang mengakibatkan timbulnya konflik. Entahlah, apa penyebab dan siapa yang memulai mungkin bukan suatu hal yang penting sekarang. Yang penting sekarang konflik sudah selesai dan semoga tidak akan terulang kembali.
Tiba-tiba saya membayangkan slangkah indahnya memang kalau tidak ada konflik antar suku, budaya, ras, dan  agama at di negeri yang memiliki berbagai macam suku, budaya, ras, dan agama. Betapa damainya membayangkan hidup berdampingan bersama-sama tanpa memandang suku, budaya, ras dan agama. Marilah kita bersama-sama bersikap saling menghormati antara satu dan lainnya dan bersatu menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan perbedaan dan keramahan. No more conflict, no more victim.
Akhirnya cerita tersebut terhenti saat kami melihat plang hotel tempat kami akan menginap sudah di depan mata. Tak terasa, kami sudah sampai di hotel di Kabupaten Bengkayang. Kami harus bermalam disini sebelum kembali melakukan pemeriksaan lapangan keesokan harinya. Thank you for the story during the trip. Let's pray for a better Indonesia!!!

30-09-12
02-10-12

_Gayuh_


Saturday, October 6, 2012

West Borneo and The Story Behind.... #1

My next duty was going to West Borneo. I went there with four people for doing some tasks. We got flight schedule at 6 a.m on 25th of September 2012. It meant that I should depart from my boarding house approximately at 4 a.m in order to prevent the lateness. But, unfortunately I forgot to order the taxi at night before so that I had to wait the certain confirmation whether the taxi were available or not at 3 a.m. Alhamdulillah, the taxi are available to carry me to the airport. I arrived there at 4.30 a.m. and directly met with my team.

Suddenly, my mind was going back to the time when I was a college student. If I had some activities that started in the early morning, my mother always waked me up and help me to prepare my needs. While I taking a bath and preparing all the things, my mother preparing my breakfast. So, when I was ready, I just ate the food that had been prepared. After it, my father had been ready to carry me to the location of my activities. What a wonderful life I guess. No need to worry to order the taxi, wake up late or being afraid in the taxi alone. How I'm so lucky to have them as my parents. Thank you so much my Alloh. :)

The time is running so fast. I have been living in Jakarta for about 1,5 years. Living so far from my parents make me be more independent. I have to fix all the things by my self. But, never-mind, I don't even regret living here. This is life and life is about moving. We have to keep moving to keep alive. ;)
I'm so grateful what I have.hehehehehe

Now, It's time for working in West Borneo. See yaa in the next story... :)

Thursday, September 6, 2012

IndII Project

The Indonesia Infrastructure Initiative (IndII) is funded by the Goverment of Australia (GoA) through Australian Agency for International Development  (AusAID). The goal of IndII is to promote economic growth by working with the Government of Indonesia (GoI) in enhancing infrastructure policy, planning and investment. Inspectorate General of Ministry of Public Work (IG MPW) is one of the partner of IndII which gets a grant to make any betterment in IG management. The main purpose from this project is improving level of Internal Audit Capability Model (IACM) from level 2 to level 3.
There are three programs to support this project. They are institutional strengthening, better procurement practices, and enhanced anti-corruption environment. In order to make this project succeed, IndII cooperates with other consultants such as Ms Libby MacRae (IIA) wrote the Standard on IACM , Bob McDonald (IIA Sub-Committee on IACM; former Chief Internal Auditor, MPW Queensland, Chief Internal Auditor of Queensland Health Ministry), PwC Indonesia and International / National consultants /auditor for technical & financial audits – all Full Time (Arun Hemraj). They are also helped by Change Management Unit (CMU), a team from Inspectorate General of MPW.
On Wednesday-Thursday, 29th-30th of August 2012, all consultants present the matter relate to the program that they are expert in. The audiences were Inspector General of MPW, Inspector I-IV, Area Coordinator, Team Leader, and CMU team. There were three matter in this presentation. First, there was Internal Audit Capability Model that were presented by Libby Macrae and Bob McDonald. The second was Procurement in Indonesia by Rob Thompson (former LKPP advisor: Procurement expert). The last was Change Management by Steve Harris.
For the next, IndII and those consultant will work together with all parties in IG MPW to run this project. There will be transfer knowledge from those consultants to HR of IG MPW by training and mentoring. Further, IG MPW will has a better management and better human resources capacity as well. So, the main purpose of this project in improving level 3 IACM can be achieved. 


-Gayuh-

Tuesday, February 7, 2012

Halooo Jakarta,,,

Teriakan ini spontan terucap saat tiba ke Jakarta setelah mengikuti Intermediate Training selama dua minggu di Jawa Barat. Ya intermediate training, sebuah pelatihan yang digagas oleh Bapak Inspektur Jenderal bekerja sama dengan outbond organizer (BWS) dengan konsep self empowerment dan team building. Pelatihan ini benar-benar berbeda dengan pelatihan biasanya. Agenda dari pelatihan ini meliputi pelatihan militer, games, rock climbing, rafting, baksos, long march, jungle crossing, homestay plus baksos, dan bertahan hidup di hutan. Jadi kami benar-benar digembleng untuk menjadi pribadi yang tanggung dan bisa mengatasi rasa takut dalam diri masing-masing.  Intermediate training ini diperuntukkan bagi generasi muda Itjen PU angkatan 2007 sampai dengan 2010. Sebelum training ini, kami sudah pernah mengikuti training serupa yang diberi nama Basic Training dengan tingkat kesulitan yang lebih rendah. Basic training angkatan pertama diadakan pada awal tahun 2010 yang diikuti oleh angkatan 2006 – 2009. Angkatan kedua diikuti oleh CPNS Itjen PU angkatan 2010 yang berjumlah 60 orang termasuk saya.

Pada akhir Desember 2011, saya dan hampir semua teman dari angkatan 2007 merasa kaget begitu mendengar kabar burung bahwa akan diadakan intermediate training. Karena ini berarti apa yang kita hadapi akan lebih sulit dan menantang dibandingkan dengan basic training. Akhirnya, pada tanggal 19 Januari 2012, kabar burung itu bukan lagi menjadi kabar burung. Kami menerima Surat Perintah dari Pak Irjen untuk mengikuti Intermediate Training selama dua minggu dari tanggal 22 Januari – 5 Februari 2012. Ada 85 generasi muda Itjen PU dari angkatan 2007-2010 yang akan mengikuti training tersebut selama dua minggu penuh. Sementara ada sekitar 61 orang senior yang hanya akan mengikuti kegiatan ini dari tanggal 2-5 Februari 2012 di Grand Hotel Lembang. Tujuannya mungkin sudah cukup jelas, yaitu agar kami bisa saling mengenal antar angkatan dan antara senior dan junior. Selain itu, konsep training yang akan kita hadapi cukup menantang. Jadi, satu minggu hidup di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) di Cipatat, Baksos dan Homestay di Kampung Wisata Tajur, Jungle Crossing, dan Outbond di hotel bergabung dengan senior.
Akhirnya tanggal 22 Januari 2012 datang juga. Perasaan malas, takut, waswas, senang bercampur jadi satu. Kami berkumpul dikantor pada pukul 12.00 WIB. Pukul 14.00 kami berangkat menuju ke TKP yaitu Pusat Pendidikan Infanteri TNI-AD di Cipatat. Yang terlintas dipikiran saya saat masuk ke Pusdikif ini adalah satu minggu kedepan akan terisi dengan pendidikan militer yang sangat mengutamakan kedisiplinan dan ketaaan. Melihat para tentara yang akan membimbing kami selama enam hari membuat perasaan takut itu bertambah. Hal itu benar-benar terlihat saat makan malam pertama. Kami dilarang bersuara saat makan, dilarang menunduk saat menjemput sendok, dan ada beberapa peraturan lain pada saat makan. Tapi alhamdulillah, hari ketiga dan seterusnya pendidikan militernya tidak seketat seperti para tentara. Kami hanya diajarkan untuk mengikuti adat-istiadat yang berlaku di Pusdikif ini. Secara garis besar, para pelatih mengajari kami tentang materi PBB, tata cara makan, senam pagi, apel pagi, apel malam, dan nyanyian untuk menambah semangat kami. Yang lebih istimewa adalah kami diwajibkan menyanyi lagu-lagu perjuangan pada setiap pergerakan contohnya waktu jalan dari barak ke ruang makan, dari ruang makan ke lapanga apel, dan lainnya. Semuanya melatih kami untuk bisa hidup lebih teratur, semangat, kompak dan disiplin. Tentunya selama seminggu ini kami tidak hanya dilatih oleh para pelatih dari Pusdikif, tetapi fasilitator dari BWS juga ikut membimbing kami untuk kegiatan yang berbeda, seperti games dan diskusi kelompok.

Selama kegiatan ini, kami dibagi dalam 8  kelompok. Saya berada di kelompok 3 bersama Mas Faix, Mas Aryo, Mas Rifki, Mas Irul, Mas Dena, Mba Cory, Mba Indah, Jenny, Ara, dan Nadya. Untuk kegiatan PBB, kelompok 1 dan 2 bergabung menjadi kelas A, Kelompok 3 dan 4 menjadi kelas B,dan seterusnya. Kelas B diketuai oleh Aditya dari kelompok 4 dan dihandle oleh pelatih Rahmat. Hari pertama training diisi dengan kegiatan PBB dari pagi sampai siang. Setelah dilatih dalam kelompok besar, kemudian masing-masing kelas dihandle oleh pelatihnya masing – masing. Kelas saya yang dihandle oleh pelatih rahmat bisa dibilang dilatih dengan santai. Kalau sudah capek dengan praktek PBB, kami boleh istirahat duduk-duduk sambil berbincang dengan pelatih. Setelah makan siang, kami dihandle oleh BWS untuk melakukan beberapa games. Sebenarnya ada beberapa games yang sudah pernah kami lakukan sebelumnya, tapi kami tetap melakukannya dengan senang. Soalnya bermain games tersebut bisa membuat semakin akrab diantara anggota kelompok. Malam harinya diisi dengan diskusi kelompok bersama fasilitator masing-masing kelompok. Kang Bencut lah yang menjadi fasilitator kelompok 3. Selama diskusi, yang dibahas seharusnya tentang makna dari games yang kami lakukan siang tadi. Tapi pada akhirnya tema diskusi kita mengenai kegiatan dikantor. Hal ini terjadi karena ada Mas Faix, Mas Aryo dan Mas Rifki yang notabene paling senior diantara kami. Jadi diskusi kami menjadi lebih bermakna karena bisa sharing soal pekerjaan dikantor dari para senior.

Malam ini ditutup dengan apel malam. Tapi sebelum itu, kami diberi tambahan latihan PBB. Walopun angin kencang menderu-deru, tapi latihan kami tak kunjung dihentikan. Bahkan kami lanjut dengan kegiatan apel malam. Setelah apel malam, kami semua kembali ke barak masing-masing dan instirahat agar besok bisa melanjutkan kegiatan. Selama tidur, ada semacam piket serambi. Setiap satu jam, ada dua orang yang secara bergantian akan terjaga untuk menjaga barak kami. Hal itu dimaksudkan agar keamanan di barak bisa dijaga.

Demikian cerita awal intermediate training plus hari pertama di Pusdikif Cipatat. Hari-hari selanjutnya akan diceritakan lebih lanjut. 


-Gayuh-