Pages

Friday, March 6, 2015

Rangkaian Big Day #3 "Pengajian"

Kamis, 12 Februari 2014. Hari ini dimulai rangkaian pra-acara yaitu pengajian. Sekitar pukul 09.00 WIB, para hafizh, hafizhah dan beberapa orang dari pesantren di Pamijen datang ke rumah. Agenda pagi ini adalah khataman Al Quran dari para penghafal Al Quran. Sebelum dimulai, Bapak sebagai tuan rumah memberikan sambutan selamat datang kepada para hafizh dan sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan acara pengajian ini. Dengan tidak berlama-lama, para hafizh dan hafizhah yang berjumlah 3 orang pun memulai membaca Al Quran tanpa melihat isi Al Quran. Masya Alloh. Saya selalu amazed setiap kali melihat dan mendengar para penghafal Al Quran ini. Saya selalu merasa kalau saya ini bukan apa-apa dibanding mereka. Astaghfirulloh,, kapan ya saya bisa jadi penghafal Al Quran.

Selama tadarus Al Quran ini sesekali saya juga ikutan membaca Al Quran, melanjutkan halaman tadarus saya. Sesekali juga saya ikut bantu-bantu orang-orang di dapur. Sekitar ba'da Dhuhur, 30 juz telah seselai dikhatamkan. Acara tadarus pun selesai dan dilanjutkan dengan makan siang. Setelah makan siang, acara tadarus Al Quran di tutup dengan ucapan terima kasih dan beberapa patah kata dari Bapak.

Agenda hari ini masih sekitar pengajian. Ba'da Ashar, grup berjanji RW I Desa Kedondong sudah hadir di rumah untuk berjanji. Kalau orang rumah si menyebutnya perjanjen atau hadroh. Kegiatan ini semacam membaca Al Quran dan menyanyikan lagu-lagu islam dengan diringi alunan musik hadroh. Acara ini selesai sebelum adzan Maghrib berkumandang. 

Setelah sholat maghrib, acara dilanjutkan dengan tahlilan dan kajian dengan tema Pernikahan yang disampaikan oleh .......................... dari ..................... Dalam ceramahnya, beliau lebih memfokuskan mengenai peran suami dan istri. Bagaimana sebaiknya menjadi seorang suami dan istri. Beliau menjelaskan bahwa suami itu harus bisa menjadi berani membela istri dan keluarganya. Dia tidak boleh takut terhadap apapun, kecuali Alloh SWT. Seorang suami juga harus bisa menjadi uswatun khasanah bagi istri dan anak-anaknya. Dia harus berani dalam mencari nafkah yang halal bagi keluarganya. Sedangkan seorang istri harus bisa sabar dan taat terhadap suaminya selama apa yang diperintahkan oleh suami sesuai dengan syariat islam. Jika suami berusaha dalam mencari nafkah yang halal, maka istri ikut berkontribusi dalam mendoakan suaminya agar dipermudah mencari rizki dan dapat mendapatkan rizki yang halal. Kesimpulan dari semuanya adalah suami dan istri itu harus saling menghargai dan bersama-sama selalu berusaha untuk mendapatkan ridlo Alloh SWT. Begitu kira-kira isi dari ceramah/kajian tentang pernikahan pada malam ini. Terima kasih ustadz atas materi yang disampaikan. Semoga saya bisa menjadi istri yang baik dan sholehah. aamiin. Sayangnya calon suami belum hadir disini. Padahal saya kepengen dia ikut mendapat ilmu ini. 

Setelah selesai pengajian, acara masih berlanjut. Kali ini sudah bukan lagi tentang pengajian. Tapi acara yang berkaitan tentang kebudayaan. Yup, malam ini dilanjutkan dengan acara gendingan (pagelaran musik jawa dengan alunan alat musik tradisional). Acara ini juga dimaksudkan untuk melestarikan budaya jawa yang saat ini sudah mulai punah. Ya walaupun saya tidak begitu mengikuti perkembangan musik-musik tradisional, tapi saya senang dengan adanya acara ini, para tetangga juga masih menyaksikan sampai selesai. Hal ini juga tujuannya untuk meramaikan rumah yang punya hajatan. Ya begitulah hidup di sebuah desa. I do love being here among them. ^^

Semakin malam semakin merasa mengantuk mata ini. Akhirnya saya putuskan untuk tidur. Malam ini sudah lebih deg-degan mengingat besok sudah memasuki H-1 pernikahan saya. Besok juga sudah masuk pra-acara inti yaitu siraman. Sudahlah saya pun tambah deg-degan. Tapi bagaimanapun juga, the day is coming closer. I just hope Alloh SWT will give His blessing to my wedding. aamiin ya rabbal'alamin....


-Gayuh-

Thursday, March 5, 2015

Rangkaian Big Day #2

Sabtu, 7 Februari 2014. Pukul 19.30 taksi pesanan saya sudah datang menjemput saya di kosan. Taksi yang saya pesan untuk mengantar saya ke Stasiun Gambir sudah datang 15 menit lebih awal. Padahal saat taksi datang, saya dan Kiki sedang membeli makan malam di depan kompleks. Akhirnya saya menyuruh supir taksinya menunggu sembari saya makan. Sebetulnya saya masih dalam program diet, tapi karena perut lapar, akhirnya saya pun membeli makan malam. Selain itu, saya ingin merasakan moment makan malam bareng Kiki di kamarnya plus ngobrol karena mungkin saja setelah ini, saya sudah tidak bisa makan bareng Kiki di kamarnya karena sudah tinggal bersama suami. Ya begitulah saya, melow lagi kan jadinyaa. :(

Well, malam ini tepatnya pukul 20.40, saya akan pulang ke kampung halaman saya di Kecamatan Sokaraja untuk melangsungkan pernikahan dengan Fajar Zaki Al Faris pada hari Sabtu tanggal 14 Februari 2014 (bukan karena valentine). Pulang kali ini saya tanpa didampingi calon suami. Karena perbedaan jumlah cuti, saya pun bisa pulang terlebih dahulu. Dengan menggunakan kereta Taksaka, saya berangkat dari Stasiun Gambir. Karena takut terjebak macet, saya pun pesan taksi untuk menjemput saya sekitar pukul 19.30 WIB. Sekitar pukul 19.15, taksi burung biru sudah datang di kosan saya. Setelah menyelesaikan makan malam saya, saya bergegas ke kamar saya untuk mengambil barang-barang yang sudah siap saya bawa. Malam itu saya membawa 1 buah koper besar,1 buah ransel besar dan 1 buah kardus. Saya pun berpamitan dengan teman satu lorong, mba-mba penjaga kosan, dan beberapa teman di lorong sebelah. Ah, saya sudah berasa mau pindah. Saya sudah melow membayangkan saat ini adalah saat-saat bersama mereka sebelum saya pindah. Mereka pun mengantar saya sampai depan kosan, kecuali Kiki. Dia mengantar saya sampai saya naik taksi. Saat itu saya sudah berkaca-kaca. Rasanya air mata ini sudah tidak bisa dibendung lagi untuk keluar. Saya pun berpamitan dengan Kiki, bersalaman dan bercipika-cipiki sambil bilang 'sampai jumpa ya ki, aku masih kekosan kok besok-besok.' Kiki pun tak lupa mendoakan semoga persiapan dan acara saya berjalan dengan lancar. Sampai jumpa di hari Sabtu di rumah saya ya Ki dan teman-teman kambal 15. Semoga perjalanan kalian menutu Purwokerto lancar dan tidak ada kejadian-kejadian yang aneh ya. Aamiin

Selama di perjalanan saya isi dengan chatting dengan cami (calon suami,red). Seperti biasa dia menemani saya dari kejauhan. Ya daripada saya bengong kan. hehe. Akhirnya sekitar pukul 02.00 WIB, saya mendarat dengan aman di Stasiun Besar Purwokerto tercinta. Alhamdulillah, Bapa Mama sudah berada di stasiun untuk menjemput putri tercintanya ini. Sesampainya di rumah, saya membersihkan badan terlebih dahulu sebelum tidur. Melihat kasur ini jadi berfikir hanya tinggal beberapa hari saja saya tidur sendirian di kamar ini. Setelah tanggal 14 in syaa Alloh sudah ada yang menemani tidur. hihihi. Ada haru ada senang. Ya begitulah hidup. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 03.00 WIB. It's time to sleep.

Besok paginya, eh bukan, maksudnya pagi ini saya bangun agak siang. Mungkin karena dikereta kurang tidur jadi kekurangannya dirapel pagi ini. Ternyata pagi ini di rumah sudah mulai rame. Beginilah yang saya suka. Hidup di desa dengan kekerabatan yang masih erat membuat jiwa tolong-menolongnya juga masih kental. Hari ini ternyata jadwalnya Bapak mau bagi undangan. Karena ada hampir 1500 undangan yang disebar, maka Bapak meminta tolong ke beberapa orang untuk membantu membagi undangannya. Sodara-sodara dari Bapak Mama juga sudah datang untuk bantu-membantu di rumah. Undangannya dipisahkan berdasarkan lokasi. Jadi Bapak meminta tolong orang-orang di masing-masing lokasi untuk membagi undangan. Bapak juga meminta staf nya di sekolah untuk mencetak nama-nama di label undangan dan sekaligus menempelkannya. Karena ada beberapa yang salah cetak, saya membantu untuk mencetaknya lagi di rumah. Untung saya punya template untuk label undangan saya yang dibuat oleh teman kantor saya. Jadi saya tinggal mengganti nama-nama yang sudah saya ketik dengan nama-nama di undangan Bapak dan Mama yang salah. 

Kesibukan lain yang sudah mulai terlihat di rumah saya adalah memasang tarub di sebelah timur rumah saodara yang bersebelahan dengan rumah saya (rumahnya deket-deketan) untuk dijadikan tempat masak dan tempat mencuci piring. Para tetangga dekat, sodara wanita dan nenek sudah ikut membantu memasak untuk orang-orang yang memasang tarub dan yang membagi undangan. Rasanya senang sekaligus haru. Bersyukur sekali pada Alloh saya hidup dilingkungan seperti ini. Lingkungan yang masih saling kenal satu sama lain, masih kental kekerabatannya, masih saling tolong-menolong dan yang pasti kami jika ada yang sedang mempunyai hajatan atau musibah, orang-orang desa tidak segan-segan untuk datang menolong. Hal ini yang saya tidak temukan ketika saya hidup di ibukota. 

Hari-hari setelah hari ini sudah semakin ramai. Hari Selasa, tanggal 10 Februari 2015, tarub utama yang di pasang di depan rumah sudah mulai dipasang. Sekiar pukul 10.00 WIB, orang-orang dari ABID Tarub sudah mulai datang. Karena saya mengalah untuk mengadakan hajatan dirumah (sebelumnya saya ingin di gedung, tapi Mama ingin di rumah), maka Bapak meyakinkan saya bahwa dirumah pun bisa di buat konsepnya seperti di gedung. Berdasarkan request saya tersebut, Bapak, yang mempunyai profesi tambahan sebagai MC di pernikahan, mempunyai banyak referensi tentang vendor-vendor untuk acara pernikahan. Akhirnya dipilihkan ABID Tarub yang dirasa bisa menyediakan tarub yang sesuai dengan request saya. Benar saja, tarub yang dipasang menjulang tinggi dan panjang sampai ke depan rumahnya Mbah saya. Oiya, karena rumah saya tidak memiliki halaman, maka atas ijin Kepala Desa, jalan depan rumah saya boleh di tutup dan dialihkan melalui jalan lain. Tarub pun dipasang di jalan depan rumah saya. Panjangnya sekitar 8 m dengan pelaminan ada di sebelah barat rumah dan menghadap ke timur (rumah saya menghadap ke selatan).

Ternyata memasang tarub ini tidak cukup hanya dalam satu hari saja. Apalagi hari pertama memasang tarub, hujan turun beberapa kali. Sehingga saat hujan, orang-orang yang memasang tarub menghentikan pekerjaannya dan meneduh. Hari ini pemasangan tarub hanya sampai sekitar  pukul 21.00 WIB. Pemasangan dilanjutkan keesokan harinya, yaitu hari Rabu tanggal 11 Februari 2015 sekitar pukul 08.00 WIB. Tarubnya sudah terpasang sampai ke atapnya. Sepertinya tinggal menghias dan menutupi beberapa bagian yang perlu ditutupi. Pemasangan hari ini terus dilanjut sampai dini hari, Hari Kamis tanggal 12 Februari 2014 pukul 05.00 WIB. Bapak saya dan beberapa tetangga juga ikut-ikutan begadang untuk ikut mengontrol dan menyediakan makanan, minuman dan rokok untuk orang-orang yang memasang tenda. Padahal saya sudah tertidur pulas malam ini.hehe.

Keesokan harinya, ketika sekitar habis subuh saya keluar rumah, saya terpana melihat tarub yang sudah 80% jadi. Hiasan atap tarub yang dipasang dengan kain warna putih pink sudah terpasang indah dengan hiasan bunga buatan di tengah pertemuan kain-kain ini. Ada dua bunga yang terpasang. Tarub ini juga dipasang sampai ke halaman rumah tetangga di depan rumah saya. Dengan kerelaan hari tetangga saya, rumah mereka pun ditutup dengan kain putih untuk menambah kerapian tempat hajatan pernikahan saya. Saya pun berkeliling dan mengambil foto tarub yang sudah terpasang. Setelah berkeliling dan melihat-lihat, saya pun baru menyadari kalau ada tarub yang kurang. Jadi, karena ada rombongan kantor yang akan datang dari Jakarta dan jumlahnya tidak sedikit, maka saya meminta Bapak untuk menambah tarub yang dipasang di sebelah timur rumah saya (tepatnya di halaman Wa Kasem). Namun, ketika Bapak meminta tambahan tarub untuk di samping rumah saya, pihak ABID Tarub tidak menyanggupinya. Saya pun mulai panik dan merengek-rengek ke Bapak. Soalnya saya menginginkan disamping timur rumah saya itu dijadikan ruang VIP untuk teman-teman saya dari Jakarta. Sehingga mereka tidak harus buru-buru pergi jika ada tamu-tamu yang berdatangan. Akhirnya saya memberikan ide ke Bapak untuk mencari penyedia tarub lain yang bisa memasang tarub di samping rumah. Alhamdulillah atas restu Alloh, Bapak bisa mendapatkan penyedia jasa tarub yang sanggup memasang tarub di samping rumah saya. Penyedia jasa tarubnya berasal dari Pamijen (desa sebelah). Ini juga didapat karena bantuan dari Pak Lik saya yang berasal dari Pamijen juga. Bapak hanya request tema dekorasinya putih pink. Alhamdulillah lagi, mereka punya warna yang sama pink nya. Terima kasih Yaa Alloh, semua atas ijinMu. 

Pemasangan tarub sudah hampir 100% selesai. Siang hari nya orang dari ABID Tarub kembali datang untuk menyelesaikan printilan-printilan yang belum selesai, lebih ke merapikan kain-kain penutupnya. Tarub tambahannya juga bisa selesai dalam satu hari. Alhamdulillah, saya dan keluarga sudah mulai fokus ke inti acara yang dimulai Kamis ini. Bismillah,, semoga semuanya lancar. aamiin yaa rabbal'alamin....


-Gayuh-


Tuesday, March 3, 2015

Rangkaian Big Day #1

Akhirnya cuti untuk alasan penting di approve. Saya mengajukan cuti alasan penting untuk melangsungkan pernikahan selama 14 hari kerja dimulai dari Hari Jumat tanggal 6 Februari 2015 sampai dengan hari Kamis tanggal 26 Februari 2015. Kalau dihitung-hitung, total cuti saya hampir 3 minggu karena ditambah weekend dan 1 hari tanggal merah. Hari ini saya sudah mulai cuti. Tapi saya belum beranjak untuk pulang ke kampung halaman di Purwokerto. Agenda saya hari ini adalah mencari keperluan untuk pernikahan yang masih kurang. Rencananya si kepengen ke Thamrin City buat cari seragam buat Bude-Bulik yang big size, cari kerudung buat kebaya, aksesoris kerudung, baju main dan suvenir  untuk siraman. Terus saya juga kepengen ke Matahari untuk membeli baju dan celana, kemudian kepengen ke Mall Ambasador buat beli handphone android untuk adik saya. Namun karena keterbatasan waktu dan tenaga, akhirnya hari ini saya habiskan di Thamrin City saja. Dan selalu saja ada barang-barang yang diluar perkiraan yang akhirnya kebeli. Tapi alhamdulillah semua keperluan terkait kerudung dan aksesorisnya sudah terbeli, suvenir siraman berupa kerudung langsungan pun bisa didapat sesuai budget. Sebenarnya saya masih ingin berkeliling sambil mengingat-ingat apakah masih ada yang masih dibutuhkan. Namun karena kondisi kaki yang sudah cukup lelah, akhirnya saya putuskan untuk pulang.

Sesampainya di kos, saya pun merekap pengeluaran saya hari ini sambil mengecek apakah barang-barang yang dibeli benar-benar ada. Dan benar saja, pengeluaran hari ini melebihi budget yang saya rencanakan. Tapi bukan berarti barang yang dibeli tidak penting. Hanya saja ada kebutuhan-kebutuhan yang muncul ketika melihat barang tersebut.

Saya pun mulai berkemas dan memilih-milih baju dan barang-barang yang akan saya bawa ke rumah saya di Purwokerto besok malam. Hufhh, rasanya hati ini sudah tidak tenang memikirkan My Big Day on 14th of Februari 2015. Semoga kedepannya diberi kemudahan dan kelancaran menuju hari H. aamiin aamiin aamin



-Gayuh-
6 Februari 2014

Friday, February 27, 2015

Sebar Undangan....

Dulu, mungkin setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, ketika saya membantu teman dekat saya membagi undangan pernikahan untuk rekan-rekan di kantor kami, saya pernah membatin 'wah kapan ya saya membagi undangan untuk pernikahan saya. Duh, kayanya malu, nanti pasti bagi dicie-ciein.' hehehe.
The time is running so fast. Alhamdulillah, hari Jumat ini, hari yang penuh barokah, saya memutuskan untuk membagi undangan pernikahan saya kepada rekan-rekan kantor. Kebetulan juga, hari ini bisa dibilang tinggal 2 minggu lagi menuju hari yang paling penting dalam hidup saya. Dengan perasaaan yang deg-degan sejak berada dikos (saya juga bingung kenapa., lebih tepatnya grogi kayanya^^), saya membawa sisa undangan yang belum dibawa ke kantor. Beberapa undangan sudah saya bawa sejak dua hari sebelumnya agar tidak keberatan.

Sesampainya di kantor, saya melakukan ritual pagi dulu. Setelah itu, dengan dibantu Mba Dina dan Tante Daisy, saya mulai membagi undangan. Pertama dimulai dari wilayah saya, Inspektorat Wilayah IV. Dimulai dari Pak Inspektur sampai rekan-rekan sejawat. Pembagian undangan di wilayah saya lancar tak ada kendali karena jumlah undangan pas. Saya mulai gerogi ketika mau lanjut ke wilayah selanjutnya, Inspektorat Khusus. Saya menyampaikan sendiri undangan untuk Inspektur dan para Koordinator Wilayah. Sedangkan Mba Dina dan Daisy membantu menyampaikan undangan kepada rekan-rekan sejawat. Dari sini saya tau ada yang belum kebagian undangan. Mulailah panik dan timbul rasa tidak enak (perasaan semalem udah dicek lengkap, batinku). Tapi bisa saya susulin nanti. Sekarang lanjut dulu ke Inspektorat Wilayah III. Rulesnya pembagiannya sama seperti di wilayah lain. Saya pun langsung masuk ke ruangan TU untuk menyampaikan undangan kepada Pak Inspektur Wilayah III. Sayang sekali, yang bersangkutan sedang ada tamu. Jadi saya melanjutkan pembagian ke rekan-rekan auditor di wilayah III. Ternyata hampir sebagian orang berada di mejanya masing-masing. Kebanyakan teman satu angkatan saya. Mulailah mereka heboh dan ngecengin, "Cie cie gayuhhh mau nikah". Ahh tambahlah saya gerogi. Mba Dina dan Daisy pun bilang, "Bagi undangan aja gerogi yuh, gimana nanti akad nikah". hahaha. Saya pun hanya tersenyum. ^^

Ketika hampir semua undangan di wilayah III sudah dibagi (beberapa ditaruh di meja karena ybs tidak ada ditempat), tiba-tiba beberapa teman yang berencana untuk datang, menanyakan lokasi pernikahan saya. Memang acara akad nikah dan resepsi saya diadakan di rumah bukan di gedung. Daaaaaannnn,, lokasi rumah saya itu sebenarnya bisa ditempuh di jalur mana saja. Tapiiiiiiiiiiii, untuk menuju kesana harus melalui jalan yang berbelok-belok. Ahhhh gayuh tinggal bilang aja rumahnya pelosok.hehehehe. ^^v. Bukan bukann,,, bukan pelosok kok. Buktinya cuma membutuhkan waktu 15-20 menit untuk sampai ke Kota Purwokerto. Jaraknya pun cuma 10 km. Tapi ya memang karena lokasinya yang di desa, akses menuju ke rumah saya pun harus dilalui dengan melewati sawah-sawah dan sungai-sungai.

Kembali ke pertanyaan teman-teman seputar denah yang saya cantumkan di undangan. Ada yang tanya, "kalo dari Aston kemana yenk?". Adalagi, "dari terminal kemana yenk?'. Terus, "coba-coba cari di google map. wahhh ga ada desa nya di google." Dalam hati, saya merasa bersyukur mengucap syukur kepada Alloh diberi teman-teman yang baik dan juga senior-senior (bapak-bapak dan ibu-ibu) seperti mereka. Mereka bersedia meluangkan waktu dan biaya untuk menghadiri pernikahan saya. Semoga Alloh SWT memberi kemudahan atas niat baik mereka untuk datang ke rumah saya. Jazakillahu khoiron katsiran, Jazakallohu khoiron katsiran semuanya. *terharu :'(

Selanjutnya saya melanjutkan membagi undangan ke Inspektorat Wilayah II, Bagian HPD, Bagian Umum Cabang dan Inspektorat Wilayah I yang ada di lantai 15 dan dilanjutkan ke lantai 14. Karena saat itu sedang ada acara Dharma Wanita di Ruang Rapat lantai 14, maka sebagian karyawati di lantai 15 dan 16 tidak berada di mejanya. Akhirnya beberapa undangan saya taruh di meja yang bersangkutan. 

Walaupun ada beberapa orang yang ketinggalan belum dikasih undangan, tapi alhamdulillah pembagian undangan pernikahan saya berjalan lancar. Semoga hari-hari menuju hari yang paling bersejarah untuk saya dan calon suami berjalan lancar. Semoga teman-teman yang akan hadir juga diberi kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan ke Purwokerto. Aamiin aamiin yaa rabbal'alamin....


-Gayuh-
Ditulis Jumat, 30 Januari 2014 di kantor sebelum pulang.

Saturday, February 7, 2015

4 tahun bersama Kambal 15

Sepertinya Alloh SWT menciptakan saya dengan perasaan sensitif yang tinggi dan perasaan melow yg bersebihan. Terutama ketika saya berpindah dari satu fase menuju fase selanjutnya, dari satu komunitas ke komunitas yang lain dan dari satu tempat ke tempat yang lain. Dalam titik perpindahan itu, saya selalu merasa sedih dan melow yang seringnya ditumpahkan dengan menangis. Selalu ada ungkapan, 'yahh besok udah ga disini lagi' atau 'yah besok kita ga bareng lagi'. Karena hal ini terjadi bukan saja karena saya yg pergi, tetapi terjadi juga ketika ada teman yang pindah/pergi. 

Setelah saya ingat-ingat, saat perpisahan SMP, saya menangis ketika bersalam-salaman dengan teman-teman. Terutama teman kelas 3D. Bagaimana tidak, 2 tahun kita bersama dengan banyak cerita yg menyenangkan dan menyedihkan. Jaman saat kami sedang usil dan mencari jati diri. Tsaaahhhhh. Padahal, setelah kami masuk ke SMA kami masing2, kami masih bisa berkumpul dan bersilaturahim. Kami jg menemukan komunitas baru yg menyenangkan di SMA kami. Kejadian ini terus berlanjut ketika perpisahan SMA, perpisahan kuliah, perpisahan dengan anak-anak SEF, perpindahan teman kantor ke tempat yang baru, dan akhir-akhir ini perpindahan teman kos ke kosan yang baru. Bahkannn malam iniiii,, saya merasa melow sendiri atas rencana kepindahan saya dari kosan ini. Karena mungkin saja malam-malam selanjutnya akan saya habiskan di rumah dan di rumah mertua dan dilanjutkan di rumah suami. In syaa Alloh. 

Walaupun saya masih punya hak atas kamar ini setidaknya sampai tanggal 6 Maret 2015.
Dalam hati, saya membenarkan perasaan saya. 'Wajar donk saya melow. Wajar saya selalu berfikir kalau ingin menikmati kamar ini, ngobrol bareng Kiki sambil nonton tivi, dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang selalu saya lakukan di kos, karena besok saya sudah pulang ke Purwokerto untuk menikah. Dan selanjutnya in syaa Alloh akan diajak tinggal bersama suami di Depok.' Bahkan untuk urusan mencuci pun, saya membatin 'ah mungkin besok-besok ga nyuci disini lagi.'

Benar-benar lebay bukan?? Ya begitulah saya. Saya selalu memaknai suatu hal yang membuat saya nyaman. Apalagi kosan ini sudah seperti rumah sendiri. Bagaimana tidak, tepat 4 tahun saya tinggal disini. Banyak hal yang saya lewati selama saya tinggal. Mbak kosan yang berganti-ganti, namun semuanya helpful walopun kadang tetep menyebalkan (sssttttt.....). Teman-teman yang silih berganti dan teman-teman yang sudah seperti keluarga. Terutama teman-teman yang menempati kamar di lorong 1. Teman berbagi cerita senang, sedih, kecewa, dan teman dikala menuntut ilmu agama. Hal itulah yang membuat saya tetap bertahan selama 4 tahun ini walopun harga kos yang setiap tahun naik dan tahun ini harganya mencapai Rp 950.000,-. Namun sayang, teman-teman yg seperti keluarga satu per satu pergi. Ada mba cytra yg pindah ke rumah karena sudah melahirkan. Ada riris, asty dan mba sinta yang pindah kosan karena ingin lebih dekat ke kantor (kantor mereka pindah lokasi) dan masih ada Anggie yg tinggal tapi sejak menikah jadi jarang keluar kamar karena LDR dengan suami. Jadi mungkin saat dikamar digunakan untuk berkomunikasi dengan suami.

Dengan kepindahan mereka satu per satu dan pergantian status Anggie, tetap Alloh memang Maha Baik. Dia mengganti kepindahan mereka dengan satu sahabat lama saya di SMA untuk menempati kamar Asty yang ada didepan kamar saya. Walopun sebelumnya dia menempati kamar Mba Sinta di pojokan. Jadilah Kiki sebagai teman ngobrol dan teman curhat dikala kami ada masalah. Seringnya si nonton tivi di kamar dia sambil makan. 

Sebenarnya masih ada dua orang teman dekat SMA yang tinggal di kosan ini yaitu Finik dan Tryas. Tapi karena beda lorong, kami jadi jarang bertemu. Paling kadang-kadang saya main kamar mereka. 

Kebersamaan kami tidak hanya kami habiskan di kosan saja. Namun, beberpa kali kami pernah berlibur bareng ke Bandung saat new year eve th 2013, wisata kuliner ke Depok (sebenarnya kami cuma kepengen makan warung yang menunya sambel.hehe), menghadiri pernikahan Mba Cytra di Tegal kemudian lanjut mengunjungi rumah Anggie di Semarang plus sekalian liburan, liburan ke Pulau Harapan, menimba ilmu agama di Al Azhar, Masjid BI dan Masjid Al Azhar, berbelanja keperluan pribadi, atau hanya sekedar makan bareng diluar. Ahhhhh jadi kangen. Rasa-rasanya baru kemarin kami cerita kegalauan kami tentang pertanyaan sakti dari orang-orang, "kapan menikah?". Nggak kerasa, Anggie sudah menikah. Dan in syaa Alloh saya tinggal menghitung hari. Semoga yang lain juga bisa menyusul tahun ini. Aamiin3x YRA. Semoga juga Alloh SWT menjaga persahabatan kami sampai nanti di akhirat dan bertemu di surgaNya kelak. Aamiin3x YRA.

Selain nyaman dengan orang-orang yang menempati kosan ini, kamar saya juga sering didatengin adik-adik kelas saya dan teman-teman saya yang akan mengikuti tes di Jakarta. Ya mungkin karena kosan ini dekat kemana-mana. Kalaupun jauh, akses transportasinya masih bisa dijangkau. Ada Trans Jakarta dan KRL. Jadi saya termasuk yang sering dikunjungi.hehe. Bahkan ketika saya dinas ke luar kota, tapi ada seorang teman yang membutuhkan tempat untuk menginap, saya persilahkan untuk menempati kamar saya. Biasanya saya titip ke Asty atau Riris supaya dia tidak canggung tinggal dikamar saya.

Karena letaknya yang strategis, yaitu dekat dengan Bundaran HI dan Monas, maka akses untuk ikut Car Free Day sangatlah mudah. Saya dan teman-teman hanya tinggal jalan 5 menit untuk sampai ke Jalan MH. Thamrin dan sekitar 10 menit untuk sampai ke Monas. Namun, walaupun begitu, tetap saja nggak setiap minggu kami ber-CFD-an.hehehe.
Oiya, kosan saya ini juga dekat lho dengan Pasar Grosir Tanah Abang. Tapi karena selalu penuh sesak, saya juga jarang berbelanja ke sana. Hanya sekali waktu saja ketika ada yang benar-benar dicari disana.

Sepertinya sudah panjang lebar saya menceritakan tentang kosan ini. Sedih memang untuk meninggalkan tempat yang sudah seperti rumah kedua ini. Tapi in syaa Alloh, ditempat yang baru Alloh sediakan partner hidup dan ladang-ladang pahala untuk saya dan membuat saya lebih bahagia. Aamiin3x YRA. Terima kasih Yaa Alloh atas segala nikmat yang Engkau beri disini. Tempat yang nyaman dan sahabat yang baik dan menyenangkan. Berkahi fase hidup saya selanjutnya Ya Alloh, semoga saya bisa menjadi istri yang solehah, ibu yang baik dan menantu yang disayang mertua. Aamiin3x YRA. 

-gayuh-
Ditulis saat bangun tidur, dilanjutkan saat menunggu rendaman cucian.
07022015

Monday, January 12, 2015

ISTIGHFARNYA NABI IBROHIM YANG ISTIMEWA

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

ربنا اغفرلي ولوالدي وللمؤمنبن

“Robbanaghfirli waliwalidayya walilmukminin” [QS. Ibrohim: 41]

(Ya Rabb kami, ampunilah aku, kedua orangtuaku, dan seluruh kaum mukminin).

Perbanyaklah beristighfar seperti ini, karena akan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan.

1. Allah akan lebih mendengar istighfar kita, karena kita menggunakan istighfarnya ‘kekasih’ Allah ta’ala, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

2. Ini merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tua, dan akan menjadikan keduanya BAHAGIA dan mulia di sisi-Nya.

3. Dengannya kita akan mendapatkan doa malaikat, karena kita telah mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. [HR. Muslim, 2732]

4. Kita akan mendapatkan pahala sebanyak jumlah kaum muslimin, karena kita telah memintakan ampun untuk mereka semua. [Shohihul Jami’, 6026]

5. Allah akan menambah kekuatan untuk kita, karena kita beristighfar. [QS. Hud: 52].

6. Urusan-urusan kita akan dimudahkan Allah karena istighfar kita, sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim rohimahullah. [Tibbun Nabawi, 155]

7. Allah akan melapangkan harta dan rezeki kita dengan istighfar. [QS. Nuh: 10-12]

Semoga Allah memberikan kita taufiq, untuk selalu bisa mengisi waktu kita dengan banyak beristighfar dengan istighfar ini kepadaNya, amin.

Tuesday, December 30, 2014

Road to Raja Ampat #2

Haduhhhh,,, masih belum nyelesein cerita di Raja Ampat. Tapi gapapa deh. Kali ini nemu artikel tentang 7 Sisi Lain Raja Ampat. Jadi, daripada ga bisa ke record artikelnya, mending buru-buru aku post di sini deh. For sure, I'm falling in love with this islands. This place is the most beautiful place I have ever seen. It still natural esp its landscape and underwater. So, cekidot this article ----->>> http://blog.8share.com/id/7-sisi-lain-raja-ampat/




gayuh